Rabu, 24 September 2008

5 Aturan Pikiran




Penulis : Mary T. Browne
Tebal : (i-xi) dan 266 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (2008)


Ucapan dan perbuatan merupakan realisasi dari pikiran. Contoh sederhana, ketika benakmu merasa haus, maka kamu segera melakukan perbuatan menuangkan air ke dalam gelas lalu meminum cairan yang ada di dalam.

Kalau kamu mengatakan, ”Hari ini menyebalkan sekali bagiku!”, maka yang terjadi benar-benar rangkaian peristiwa menyebalkan dalam sehari. Apakah kamu memang dikutuk pada hari tersebut? Sebenarnya karena otak kamu sudah ’mencap’ bahwa hari ini adalah hari sial maka rangkaian kejadian selama hampir 24 jam sebagai sesuatu yang memang BAD.

Dalam gambaran besar, pikiran menuntun kita untuk mencapai sesuatu dalam kehidupan.
Pikiran adalah getaran dan energi. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Oleh karenanya, kita memperoleh apa yang kita inginkan dengan mengendalikan pikiran kita.

Mary T. Browne, cenayang terkenal asal New York, menyusun 5 Aturan Pikiran –sebagai hasil pengalaman dirinya sebagai penasehat spiritual dan pembelajaran dari para maestro- yang bisa membantu kita untuk memperoleh apa yang kita inginkan. Kelima aturan itu memang lebih mudah diikuti jika kita lebih dahulu memahami dan sadar akan kekuatan Daya Ilahi.

Ke-5 Aturan Pikiran untuk memperoleh apa yang kita inginkan :
1. Kita harus menentukan apa yang kita inginkan
2. Bayangkan bahwa hal itu sudah terjadi
3. Jangan ragu-ragu
4. Kita harus mempunyai keyakinan
5. Ketekunan membawa hasil

Perasaan bimbang (ragu-ragu) adalah kendala terberat dalam proses meraih hasil. Sukses hanya diraih oleh mereka yang tegas. Tegas dalam arti tidak meragukan diri sendiri, dan fokus pada tujuan akhir.

Selain menghilangkan rasa ragu, pemusatan pikiran bisa dilatih. Melalui meditasi, kontemplasi dan mau meluangkan waktu beberapa menit setiap hari, untuk membuat gambaran yang kita inginkan di dalam benak kita.

Bagi yang pernah baca The Secret, nama Mary T. Browne terasa familiar karena memang Browne merupakan salah satu kontributor. Sehingga ide buku antara ”The Secret” vs ”5 Aturan Pikiran” memang terasa relevan.

Ketika kamu percaya akan law of attraction : dimana pikiran positif dan keinginan akan bekerja, sehingga semesta membantumu merealisasikan keinginan. Nah! Upaya fokus untuk mengarahkan pikiran (keinginan) itu bisa terbantu melalui buku ini. Walaupun (saya akui secara pribadi) butuh konsentrasi lebih untuk memahami ide yang dituang dalam buku setebal 266 halaman ini.

Di dalam buku yang terbagi atas 7 bab ini, Browne menyisipkan contoh kasus dari pengalaman pasien yang berkonsultasi padanya, demi kemudahan pembaca mencerna fokus tulisan.

Senin, 22 September 2008

Shahnameh – Hikayat Persia


Oleh : Ferdowsi
Tebal : 328 halaman
Penerbit : Navila (2002)


Di suatu akhir pekan di awal Ramadan 1429 H, saya membongkar tumpukan novel dan majalah pada rak buku. Saya menimang-nimang buku bersampul warna paduan coklat pucat dan oranye pupus yang menampilkan gambaran khas suasana Timur Tengah. Kemudian saya membuka halaman pertama, tergores nama saya (sebagai pemilik) dan 5 Agustus 2002 sebagai tahun pembelian.

Itu artinya buku ”Shahnameh – Hikayat Persia” ini telah berusia 6 tahun di tangan saya. Saya membelinya di stan Kedutaan Besar Iran di suatu pameran (lupa nama pamerannya).

Saya selalu tertarik dengan buku non fiksi berbau sejarah, khususnya budaya Mesir dan jazirah Arab Sebelum Masehi. Namun, ketertarikan itu tidak cukup kuat untuk segera melahap buku setebal 328 halaman itu sesegera mungkin. Sejumlah alasan membuat saya menunda baca itu. Kesibukan kerja, aktivitas diri, serta buku baru dan majalah yang terus berdatangan mengisi hari saya, menjadi alasan. Selain itu, anggapan ”isi buku pasti berat” sudah membuat saya menunda.

Hanya saja, sesuai niatan untuk menunggu bedug dengan membaca buku -khususnya membuka buku-buku yang sudah terlanjur beli namun belum pernah dibaca selama bulan puasa tahun ini- maka Minggu (6/9)usai Imsak, saya paksakan pula untuk membaca buku ini.

Dan ternyata, wow! Tidak seperti dugaan bahwa isi bacaan berat yang kaya sejarah dan peristiwa, saya justru dilarutkan dalam dunia dongeng 1001 malam dengan membaca kisah raja-raja Iran atau bangsa Persia. Cerita terbagi atas Bab yang memisahkan kisah antara raja (atau tokoh penting dalam perjalanan kerajaan) yang satu dengan yang lain. Cerita dimulai dari Kaiumer I sebagai Shah di Kerajaan Persia. Ia diibaratkan sebagai sang penguasa dunia, yang membangun tempat tinggal di gunung, memakai pakaian dari kulit harimau seperti begitu pula rakyatnya.

Anak manusia yang dilindungi oleh Ormurzd (sebutan Tuhan) dan segala kelimpahannya, mengundang sirik dari setan (Ahriman) yang senantiasa memberi cobaan melalui putranya yang berjuluk Deev. Masa gelap pun hadir melalui Raja Zohak dari jazirah Arab yang dibantu oleh Deev. Penguasa berjuluk Raja Ular –karena memberi korban manusia setiap hari untuk dimakan ular raksasa – bisa dikalahkan oleh Feridoun yang mengasingkannya ke Gunung Demawend.

Intrik di kerajaan Persia dengan raja tertinggi berjuluk Shah, mulai tersemai ketika Feridoun memiliki 3 putra yaitu Silim si sulung, Tur si anak tengah, dan Irij si bungsu.

Suatu hari Feridoun ingin menguji ketiga anaknya dengan menyuruh mereka bertarung melawan naga.

Silim yang dalam pertarungan melawan naga, terbukti adalah si orang yang mencari aman dengan membalikkan badan pergi meninggalkan sang naga. Ia membiarkan adik-adiknya bertarung melawan naga.

Tur yang berarti ”pemberani”, memang membuktikan nyali melawan naga. Akan tetapi, Irij tampil sebagai pria bijaksana sekaligus pemberani.

Feridoun kemudian membagi wilayah kekuasaannya menjadi tiga bagian secara adil kepada putranya. Silim memperoleh Rhoum (Kaver) daerah tempat terbenamnya matahari; Turan atau Turkestan diberikan kepada Tur (sebagai penguasa Turki dan Cina); lalu Feridoun memberikan Iran kepada Irij.

Meski ketiganya menjadi raja makmur di negara masing-masing, bisikan setan berhasil menguasai Silim dan Tur. Keduanya bahu-membahu menyerang Iran dan membunuh adik bungsunya. Dari pertikaian bak kisah putra Adam-Hawa, dimana Kain membunuh adik kandungnya sendiri (Habil), maka dinasti Iran pun tak lepas dari balas dendam, perebutan kekuasaan, dan kematian. Ada pula kisah cinta, cemburu, tipu daya, termasuk ilmu sihir. Para Shah percaya akan ramalan ahli nujum. Melihat nasib dan masa depan dari keturunan yang baru lahir.

Dan kisah sejarah permulaan Iran kuno tak bisa lepas dengan tidak mengisahkan kepahlawanan ksatria besar Persia, Rostam atau Rustem. Pehliva (ksatria?) turunan Zal putra Saum sang pahlawan dengan Rudabeh, setia membela Shah meskipun pada beberapa kasus peperangan terjadi akibat kebodohan dan ketamakan rajanya. Pada cerita penutup menjelaskan bagaimana Rustem mangkat.

Selain memang seputar silsilah raja Persia, Ferdowsi meletakkan sentralisasi cerita terpusat pada peperangan antara Iran vs Turan (negeri di Asia Tengah) dan suksesi kekuasaan Shah.

Ferdowsi atau bernama lengkap Hakim Abol Ghasem Ferdowsi Toosi (935-1020/1026 M) selama 35 tahun telah berhasil mengumpulkan sebanyak 60.000 syair pendek yang kemudian dituangkan dalam buku berjudul Shahnameh atau Shahnamah ”The Epic of Shahnameh Ferdowsi” (The Epic of Kings : Hero Tales of Ancient Persia). Shahnameh ini dipersembahkan Ferdowsi untuk kejayaan Sultan Mahmud dari Ghazna.

Shahnameh mengangkat Ferdowsi sebagai salah satu sastrawan terkemuka Persia, disejajarkan dengan penyair sufi terkenal Jalaluddin Rumi dan Sheikh Musli-uddin Sa’di Shirazi.

Buku yang diterbitkan oleh Navila, penerbit yang memiliki kepedulian terhadap sastra dan budaya Timur, terbagi dalam beberapa bab, dimana setiap bab menceritakan tentang seorang tokoh penting dalam kekaisaran Persia.

Hanya saja, saya menemukan beberapa kekurangan antara lain berupa pengertian. Misalkan pada halaman 108 : ..... ”Setelah makan dan minum sampai kenyang, Rustem mengambil lira dari kantong, ditaruhnya di meja, dan bernyanyi dengan riang”. Penerjemah/penerbit menjelaskan ”lira” sebagai ”sebutan untuk mata uang, satuan mata uang Italia”.

Nah, saya rasa tidak ada relevansinya. Apalagi pada masa itu Italia belum terbentuk dan satuan mata uang Lira belum dikenal. Saya rasa lebih tepat jika yang dimaksudkan ”lira” dalam tulisan tersebut adalah alat musik petik semacam kecapi.

Kekurangan lain dari buku ini adalah salah cetakan. Buku yang saya pegang memiliki halaman kosong di lembar 227 dan 238. Polos tanpa ada tulisan. Ini cukup menganggu dan sebagai pembaca jadi menebak-nebak cerita yang ada di bagian hilang itu, melalui lanjutan halaman berikutnya. Duh, kalau sudah 6 tahun berlalu, apakah saya masih bisa menghubungi penerbit untuk minta ganti buku?

Minggu, 24 Agustus 2008

Citizen Brand



10 Perintah untuk Mentransformasikan Merek dalam Demokrasi Konsumen

Penulis : Marc Gobé
Penerbit : Penerbit Erlangga
Terbit : 2001
Tebal :298 halaman + xiii


Era teknologi informasi (TI) yang mendorong derasnya arus informasi, membuat orang dengan gampang mencari tahu seputar produk atau jasa yang mereka butuhkan. Tinggal mengakses internet dan mengaktifkan situs pencarian. Selain itu, konsumen semakin kritis karena semakin variasinya pilihan produk.

Oleh karenanya, produsen perlu menyadari bahwa konsumen bukan lagi sekadar mendapat fungsi dari sebuah produk/jasa. Lebih dari kebutuhan akan fungsi suatu barang, mereka (konsumen) perlu ditempatkan sebagai masyarakat yang tertarik untuk membeli pengalaman emosional.

Maka timbullah kebutuhan penciptaan merek yang juga menyentuh sisi emosi konsumen. Marc Gobé, pendiri, Presiden, CEO dan Executive Creative Director Desgrippes Gobé Group, perusahaan pencipta citra merek, menggagas ide ini dengan istilah Emotional Branding.

Emotional Branding ini dibahas Gobé dalam satu buku. Dan meneruskan konsep ini, Gobé merilis ”Citizen Brand” dimana Ia memaparkan dalam dunia emotional branding, konsumen yang demokratis, maka merek suatu produk/jasa menjelma dalam citizen brand. Ketika bermain pada citizen brand, maka produsen memasukkan identitas emosional (emotional identity = E.I.). Beberapa contoh merek yang telah berhasil membangun EI ini adalah Sony untuk ”inovasi” , atau Apple yang menyimbolkan ”desain dan aksesbilitas”. Merek-merek itu sudah menerapkan konsep citizen brand dan telah berhasil memasukkan bahwa produknya tidak hanya diperlukan karena fungsionalitas.

Merek atau perusahaan juga dituntut mengambil peran nyata dalam dunia modern. Bagaimana serangan 9/11 menarik simpati dunia. Termasuk pula gerak cepat perusahaan untuk turun langsung meringankan kejadian yang dianggap sebagai salah bentuk duka di abad-21. Contohnya, perusahaan asuransi Allstate menghabiskan sejumlah uang untuk membayar iklan yang memberikan jaminan kepada klien bahwa klaim mereka akan dipenuhi secepatnya, meminta orang-orang tanpa ragu untuk mengontak mereka, serta menyiapkan meja informasi khusus. Ini salah satu bukti nyata, bahwa perusahaan turut berperan dalam menciptakan dunia yang lebih baik.

Avon, perusahaan kosmetik dengan sistem MLM, memiliki kampanye jalan kaki di seluruh dunia untuk mendukung upaya menyembuhkan kanker payudara. Para perempuan tentu merasa bahwa kosmetik yang mereka beli tidak cuma ’menarik’ uang mereka, namun peduli terhadap mereka.

The Body Shop tidak mempraktekkan filantropi, melainkan terlibat aktif, dari perspektif bisnis, untuk membuat dunia yang lebih baik. Brand asal Inggris yang terkenal sebagai aktivis anti melibatkan binatang dalam percobaan laboratorium untuk pembuatan produk, serta membeli langsung dari pabrik-pabrik kecil dan pengrajin sebagai kebalikan dari membeli secara tidak langsung melalui pabrikasi massal.

Meskipun konsumen senang dengan kepedulian mereknya terhadap perbaikan masyarakat dan dunia, konsumen lebih menyukai aktivitas yang sejalan dengan bisnis inti perusahaan. Dalam suatu jajak pendapat menghasilkan opini bahwa masyarakat senang jika perusahaan peduli terhadap kegiatan berkaitan dengan pendidikan publik, kriminalitas dan lingkungan. Namun, konsumen saat ini yang cerdas, khususnya generasi Y yang kini memasuki usia produktif kerja dan menghasilkan uang, juga semakin kritis untuk ”mencium” upaya-upaya pemolesan. Kondisi ini, seperti dicontohkan Gobe, rawan terjadi terhadap kegiatan yang disponsori oleh rokok yang bisa saja disalah artikan sebagai upaya ’cuci tangan’ atau upaya membersihkan diri dari isu kesehatan yang menyudutkan perusahaan tembakau.

Nah! Gobe dalam buku Citizen Brand ini mengemukakan ” 10 Perintah untuk Mentransformasikan Merek dalam Demokrasi Konsumen” yaitu :

Perintah 1 : Berevolusilah dari konsumen ke masyarakat (fokus bab tentang tren konsumen/demografi)

Perintah 2 : Berevolusilah dari kejujuran ke kepercayaan (fokus bab : cause marketing)

Perintah 3 : Berevolusilah dari produk ke pengalaman (fokus bab : ritel/lingkungan merek)
Perintah 4 : Berevolusilah dari kualitas ke preferensi (fokus bab : pengembangan produk)

Perintah 5 : Berevolusilah dari kemasyhuran ke aspirasi (fokus bab : periklanan)

Perintah 6 : Berevolusilah dari identitas ke kepribadian (fokus bab : identitas perusahaan)

Perintah 7 : Berevolusilah dari fungsi ke perasaan (fokus bab : desain sensorik)

Perintah 8 : Berevolusilah dari ubikuitas ke eksistensi (fokus bab : inisiatif kehadiran merek)

Perintah 9 : Berevolusilah dari komunikasi ke dialog (fokus bab : internet..) Dalam bab ini, Gobe menyarankan perusahaan untuk memanfaatkan internet sebagai salah satu media ruang iklan.

Perintah 10 : Berevolusilah dari pelayanan ke hubungan (fokus bab : layanan konsumen)

Yang harus diingat, bahwa penciptaan emotional branding tidak hanya upaya penciptaan citra keluar. Melainkan, bahwa semua ini bermula dari perusahaan itu sendiri.

Seperti dikemukakan oleh Howard Schultz, CEO Starbucks dan seorang inovator dalam emotional branding, mengatakan, ”Merek harus dimulai dari budaya perusahaan dan ditularkan secara alamiah kepada pelanggan.... jika kita ingin mendapatkan kepercayaan dari pelanggan, maka pertama-tama kita harus mendapat kepercayaan dari karyawan kita sendiri.” (Halaman 61)

Ucapan Schultz ini direalisasikan dalam penawaran hak untuk membeli saham dan tunjangan kesehatan kepada para karyawan paruh waktunya.

Sementara Nucor, perusahaan baja, memberikan beasiswa untuk pendidikan di perguruan tinggi senilai US$2500 setiap tahun untuk setiap anak karyawannya, dan tidak pernah mem-PHK karyawan di masa resesi. Hanya mengurangi jam kerja, dan mengurangi perjalanan. Nucor pun menginspirasikan diri sebagai perusahaan yang menghargai pekerjanya dengan mencantumkan daftar 7.500 karyawannya dalam laporan tahunannya. Gagasannya : perusahaan adalah sebuah organisme hidup, tersusun dari dan sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang bekerja di dalamnya lebih dari yang kita sadari (halaman 63).

Dalam membaca buku ini saya tidak menerapkan konsep scheming. Praktisnya, membaca buku non fiksi adalah pertama mencek ”Daftar Isi” untuk mengetahui pembahasan buku. Melalui cara ini, pembaca tahu apa yang paling dibutuhkan, dan bacalah yang memang menarik/penting. Akan tetapi, saya membaca buku ini dari awal. Dan pada permulaan saya tertatih-tatih untuk membaca buku ini dari halaman mula.

Tulisan memiliki ukuran font yang kecil dan rapat antar baris. Selain itu, terjemahan yang kadang bikin saya berulang kali membaca untuk mencerna lebih takzim. Hanya saja, begitu memasuki ”10 Perintah Gobe” yang diuraikan dalam bab terpisah, paparan berlangsung menarik. Dalam setiap bab juga dilengkapi dengan contoh iklan/studi kasus. Secara keseluruhan, buku ini menyajikan ulasan yang cukup menarik bagi Anda yang tertarik atau terjun di dunia marketing, advertising dan sebagainya.

Jumat, 01 Agustus 2008

Street Kings




Produksi : 2008
Pemain : Keanu Reeves, Forest Whitaker, Hugh Laurie
109 menit


Setelah beberapa lama tidak nonton di bioskop, akhirnya beberapa waktu lalu saya menonton “Street Kings”. Film yang cukup bagus ketika di waktu bersamaan pilihan lain di cineplex seputar film Indonesia yang tidak jauh-jauh dari horror atau komedi cendrung porno.

Selain itu, kita bisa menyaksikan wajah Keanu Reeves yang masih seganteng seperti 10 tahun lalu ketika bermain dalam film Speed (ups, jangan-jangan dia suntik Botox hehehe....). Sekaligus juga karakternya kali ini lebih membumi ketimbang Neo (trilogi Matrix), atau detektif supernatural John Constantine dalam film berjudul sama (Constantine).

Alur cerita film bergenre action ini memang standar. Keanu Reeves berperan sebagai Tom Ludlow, detektif LAPD yang mencari penyebab kematian mantan partnernya Terrance Washington (Terry Crews).

Namun tunggu dulu! Ludlow sendiri bukan jenis penegak hukum yang bersih. Selain sering melanggar prosedur, Ludlow juga tukang mabuk. Dan kinerjanya yang bagus –tapi sekaligus banyak pelanggaran- selalu ditutupi sang bos, Jack Wander (Forest Whitaker).

Persahabatan dan kemitraan dengan Washington yang lurus, terpecah karena kontradiksi keduanya.

Kematian Washington di minimarket yang seolah kasus perampokan, memicu rasa ingin tahu dari Ludlow. Dalam membuka kasus penyebab kematian mantan rekan, Ludlow dibantu oleh detektif muda, Paul Diskant. Langkah ini menyeret dirinya ke mafia narkotika, dan bahkan ke teman-temannya di kepolisian.

Dari awal kita bisa menebak bahwa kapten dan rekan-rekan Ludlow berada di belakang semuanya. Hanya saja, ternyata ada kejutan-kejutan lain di belakangnya.

Film ini memotret polisi kotor, ketika menggunakan ‘aib’ orang sebagai alat pemerasan, atau menyalah gunakan jabatan dan kuasa demi mewujudkan ambisi pribadi. Hmm.. suatu gambaran yang bisa terjadi di negara mana saja dan bagi siapa saja bukan?

Film yang cukup menarik bagi pecandu film action. Bahkan cenderung sadis dan pada beberapa scene terucap kata-kata makian yang kasar. Namun, sayang di bagian terakhir cerita terasa kedodoran. Akan tetapi, secara keseluruhan film yang disutradarai David Ayer ini not bad untuk ditonton.

Btw, si Keanu Reeves dalam film ini tampak kalah ganteng dengan detektif Diskant yang diperankan oleh Chris Evans. Haha.. memang muka baru selalu lebih segar!

Minggu, 29 Juni 2008

22 Ide Rumah yang Bergeming di Tatasurya

Bukan perkara mudah menyadarkan orang akan betapa rentannya bumi ini. Kebanyakan umat manusia terlena akan keteraturan yang disediakan bumi sampai saat ini. Banjir, tanah longsor, badai, gunung mleduk, memang bukan rutinitas biasa, namun kejadian-kejadian luar biasa itu hanya akan membekas dalam kenangan sejarah yang makin pendek saja singgah di benak umat manusia.

Saya? Saya termasuk yang ngeri bukan karena kampanye besar-besaran, seperti misalnya tentang "global warming" akhir-akhir ini. Saya ngeri sejak pertama kali mengenal konstelasi planet dan tatasurya. Bumi ini berputar kencang lho, Sodara-sodara! Tanpa tali pengikat atau sabuk pengaman yang secara kasat mata menjamin hubungannya dengan asnya! Namun hebatnya, justru karena putaran yang kencang dan konstan inilah yang menyebabkan kita tetap bergeming pada tempatnya, tidak gemetar atau ajrut-ajrutan. "Sopir alam semesta" ini memiliki presisi dan konsistensi yang luar biasa, tidak seperti sopir bajaj atau metromini di Jakarta, meski ada perhitungan yang menunjukkan bahwa putaran bumi ini mengalami perlambatan dari waktu ke waktu, hingga sekarang ini jumlah hari dalam satu tahun tinggal 364,25 hari.

Sopir alam semesta ini ternyata juga berjuang keras menghadapi kondisi jalan dan "ulah usil penumpang". Pencairan es dan kondisi atmosfer adalah salah satu penyebab ketidakstabilan putaran bumi. Dan kita tahu bahwa kondisi atmosfer dan es di permukaan bumi akhir-akhir ini mengalami perubahan drastis. Es abadi bercairan di mana-mana, atmosfer gerah tersengat panas yang tak mampu diserap bumi. Jika perubahan ini makin mendrastis saja, bukankah tidak mungkin perubahan siklus putaran bumi akan juga berubah drastis. Dan apakah tidak mungkin juga bahwa planet bumi akan terlempar dari orbitnya atau bertabrakan karena jadwal orbit yang tidak ditepatinya? Sepertinya saya harus memelajarinya jika ingin menumpahkannya sebagai tema novel sci-fi.

Ngemeng apa sih saya ini? Cuma mau ngemeng saja bahwa mungkin semua orang harus memiliki trauma atau kekhawatiran masing-masing yang menyangkut kelangsungan bumi agar bisa bertindak secara mandiri, tanpa menunggu gembar-gembor orang lain dalam bahasa dan idiom yang mungkin tak dipahaminya. Bagi saya, kekhawatiran akan terlempar dari tatasurya ternyata berhubungan erat dengan tingkah laku saya sehari-hari, misalnya dalam menggunakan kertas. Jika boros mengonsumsi kertas, maka ternyata bumi saya bisa berhenti berputar, dan efeknya terlempar dari tatasurya atau ditabrak planet lain, jika bukan hangus karena tersedot gravitasi matahari. Silakan pilih!

Artinya, saya (untuk tidak memaksa semua umat manusia) harus punya paradigma "kemungkinan terlempar dari tatasurya" dalam setiap keputusan dan eksekusi kehidupan. Bangun pagi secara lestari, misalnya (entah bagaimana manifestasinya). Atau yang agak makro seperti ketika saya mau membangun rumah. Sebelum sadar bahwa setiap saat bisa terlempar dari tatasurya, rumah yang mau saya bikin ya yang cantik dan estetis, selain nyaman. Namun, apa guna rumah nyaman dan cantik sekarang jika nanti anak atau cucu kita harus terlempar dari tatasurya?

Untunglah ada buku ini: "22 Desain Rumah Hemat Energi" terbitan Pustaka Rumah (Mei 2008). Buku ini adalah hasil kumpulan desain rumah oleh para mahasiswa arsitektur seluruh Indonesia yang disayembarakan oleh Tabloid Rumah. Teknis lombanya adalah: panitia menyediakan sebuah acuan lahan yang aslinya berupa sebuah lahan riil yang ada di kawasan Jakarta Selatan (entah ini lahan siapa punya), dari lahan ini peserta dipersilakan merancang sebuah rumah di atasnya dengan tema "rumah hemat energi". Ada 300-an karya yang masuk dan setelah diseleksi, ada sekitar 150 yang memenuhi syarat. Juara yang diambil ada lima desain, namun untuk kepentingan buku ini, diambil 22 karya terbaik.

Sebagai sebuah gambar desain, memang karya-karya ini masih baru sampai pada tataran konsep, belum dituangkan menjadi sebuah rancangan yang (dalam bahasa saya yang awam) bisa langsung dijejalkan ke saku para tukang untuk mereka wujudkan, sementara saya memesan kopi joss di angkringan Lik Man (kalau lagi tanggal tua) atau tenggelam di sofa-sofa empuk Starbucks sambil menyeruput Cafe Americano (setahun maksimal 3 kali jika ada bonus (excl. traktiran)). Namun itulah kelebihan karya-karya ini: dengan tanpa banyak keribetan di dana dan bahan, bisa muncul kreasi yang lebih mengutamakan gagasan penghematan energi. Bukan berarti gagasan hemat energi berbiaya mahal, namun lebih berefek pada alokasi effort yang harus lebih banyak karena banyak rancangan yang tidak biasa.

Jika sampai kepada tahap implementasi maka bantuan "penerjemah" dari konsep ke bentuk konstruksi dan rancangan anggaran biaya akan berperan penting. Saya belum mencobanya, namun sepertinya sudah punya bayangan bahwa jika memang ingin membangun rumah dengan paradigma hemat energi ini, maka sumbangan gagasan penggunaan berbagai elemen penghematan dalam buka ini adalah luar biasa kayanya. Mungkin belum ada referensi selengkap ini di Pertiwi yang memberi insight dan ide tentang elemen apa saja yang bisa diterapi gagasan hemat energi. Apalagi, selain gagasan dari penulis (yang juga peserta lomba), buku ini dilengkapi dengan dasar-dasar penghematan energi dalam membangun rumah dari redaksi penyusun buku. Keren!

Mungkin, karena berbagai alasan, tidak bisa satu ide rumah bisa kita implementasikan secara penuh. Namun bisa juga beberapa ide kita gabungkan jadi satu. Hebatnya, referensi untuk padu-padan itu ada di satu buku ini. Pas banget sebagai sumber rujukan jika kita menghadapi kendala untuk satu gagasan tertentu, tinggal mencari ide di halaman-halaman berikutnya.

Beberapa contoh gagasan elemen hemat energi adalah: pengudaraan, pencahayaan, pengairan, pembahanan, penyampahan, penghijauan, penyuhuan, peruangan, pengenergian, dan lain-lain.

Berkaitan dengan fungsinya sebagai rujukan paling mutakhir dan lengkap tentang gagasan pembangunan rumah yang hemat energi ini, maka dalam bayangan saya, buku ini pantas tampil secara lebih "akademis" dengan "form factor" yang lebih ke aspek tebal daripada lebar.

Good job!

Jumat, 20 Juni 2008

Veronika Memutuskan Mati

Oleh : Paulo Coelho
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, 2005


Veronika memutuskan bunuh diri. Bukan karena patah hati, lari dari jeratan utang, atau ada tujuan lain yang biasanya menjadi alasan memutuskan mati.

Gadis ini hanya potret tentang pencarian makna hidup dalam masyarakat yang terbelenggu rutinitas, tanpa jiwa dan takluk pada tekanan sosial.

Namun, kematian tidak menghampiri Veronika, yang berupaya bunuh diri dengan menelan pil tidur, secara sederhana. Ia selamat dan dimasukkan ke dalam Rumah Sakit Jiwa Villete. Di dalam rumah sakit yang dibangun pada menjelang perpecahan Yugoslavia menjadi negara-negara kecil, ia bertemu dengan rekan-rekan ’normal’ yang tampil ’gila’. Ia bertemu individu-individu rapuh yang seolah sadar memilih masuk rumah sakit jiwa karena kemauan, impian, dan sikap hidup mereka berbeda dengan yang dianggap normal oleh masyarakat.

Di dalam rumah sakit terdapat Mari, pengacara di usia 40 tahun penderita panic attack. Zedka yang depresi, dan Eduard anak diplomat yang ingin menjadi pelukis. Mereka adalah orang-orang yang melepaskan diri dari kenyataan.

Veronika, divonis kepala Rumah Sakit Jiwa Villete, Dr. Igor, hanya memiliki waktu hidup 5 hari lagi akibat pil-pil tidur mengganggu kerja sistem jantungnya. Namun, kehadiran Veronika yang tinggal menunggu ajal, justru membuat Mari, Zedka, dan Eduard, mengalami pencerahan untuk berani menghadapi kenyataan. Mewujudkan impian.

Akhirnya, mereka termasuk Veronika seperti ditulis Dr. Igor dalam penelitiannya yang berjudul ”Kesadaran akan Kematian membangkitkan semangat hidup yang baru.”

Ini karya Paulo Coelho yang tergolong ’ringan’, tidak menjejali kita dengan kalimat yang dalam dan penuh makna. Tidak seperti karya-karya lainnya : Sang Alkemis (The Alchemist); atau, Di Tepi Sungai Piedra , Aku Duduk dan Menangis (By the River Piedra I Sat Down and Wept) dalam bukunya yang berjudul asli ”Veronika Decides to Die” tahun 1998 tidak menawarkan kalimat-kalimat yang membuat saya sebagai pembaca berhenti sejenak untuk merenungi dan meresapi barisan kata yang dikemukakan oleh Coelho. Hanya melahap bacaan hingga akhir, lalu merenungi apakah diri ini sudah memiliki dan menikmati hidup tanpa didikte orang lain.

Kamis, 05 Juni 2008

Misteri Yang Tak Terpecahkan - Sherlock Holmes



Pengarang : Mitch Cullin
Penerbit : Voila Books (2007)


Sherlock Holmes bagi Mitch Cullin, adalah pria uzur berusia 93 tahun, sudah renta, dan telah ditinggal mati rekan-rekannya termasuk Dr. Watson (John).

Holmes tua tidak lagi tinggal di Baker Street London. Melainkan, pindah ke Sussex Downs – terletak di antara Seaford dan Eastbourne, dengan Cuckmere Haven sebagai desa terdekat- menghabiskan hari-hari dengan beternak lebah, serta percaya keunggulan royal jelly dalam menjaga stamina.

Holmes, dengan daya ingat mulai didera kepikunan, harus mengumpulkan keping-keping memori masa lalu untuk memecahkan misteri yang tiba-tiba saling terkait. Dari pemecahan kasus ayah yang hilang (yang sudah terjadi bertahun-tahun lalu), membuat Holmes teringat kasus lama yang mempengaruhi dirinya untuk mulai beternak lebah, dan juga kematian Roger, putera Mrs. Munro yang berusia 12 tahun. Mrs. Munro adalah pengurus rumah Holmes.

Alur cerita dalam tulisan ini memakai teknik kilas balik. Cerita dimulai dari kepulangan Holmes dari Jepang. Kepergiannya ke Negeri Sakura untuk memenuhi undangan Mr. Umezaki yang mengaku sesama penggemar ternak lebah.

Jangan bayangkan Holmes dalam buku ini memecahkan misteri melalui penelitian kimia, penelusuran mendalam, dan mengingat detil yang terlewat oleh awam. Kerumitan terjadi dalam upaya Holmes mengingat kembali sesuatu yang sudah lama lewat.

Cerita terasa berbelit-belit dan menjenuhkan. Mau tak mau, saya menjadi membandingkan cerita ini dengan Miss Jane Murple tua (tokoh rekaan Agatha Christie) yang mencoba mengembalikan keping memori masa lalu dalam cerita ”Gajah Selalu Ingat” atau ”Nemesis”. Sesama detektif tua dan tak secergas waktu dulu, hanya saja sel abu-abunya sama-sama tergelitik untuk mengingat kasus yang terjadi di masa lalu. Hanya saja, rasanya Holmes terlihat terseok-seok dibanding Mrs. Murple. Atau ini persoalan siapa penulis di belakangnya?