Kamis, 08 Februari 2024

Film Marvel Berdasarkan Periode Waktu

Ada kesempatan rehat karena tanggal merah? tapi tidak ada rencana pergi kemanapun. Jika kamu Marvelites, sebutan bagi penggemar waralaba Marvel secara keseluruhan, bisa binge watching film Marvel.

Berikut film Marvel secara lengkap sesuai kronologi dan periode waktu di Marvel Cinematic Universe (MCU):

  1. Captain America: The First Avenger — Selama Perang Dunia II (1942)

  2. Captain Marvel — 1995

  3. Iron Man — 2010

  4. Iron Man 2 — Setelah Iron Man (2011)

  5. The Incredible Hulk — 2011

  6. Thor — 6 Bulan sebelum The Avengers

  7. The Avengers — 2012

  8. Iron Man 3 — 6 Bulan setelah The Avengers

  9. Thor: The Dark World — Setelah The Avengers, sebelum The Avengers: Age of Ultron

  10. Captain America: The Winter Soldier — Setelah The Avengers, sebelum The Avengers: Age of Ultron

  11. Guardians of The Galaxy — 2014

  12. Guardians of The Galaxy Vol. 2 — Setelah Guardians of The Galaxy

  13. Avengers: Age of Ultron — 2015

  14. Ant-Man — 2015

  15. Captain America: Civil War — Setelah Avengers: Age of Ultron, sebelum Avengers Infinity War

  16. Thor: Ragnarok — Setelah Avengers: Age of Ultron, sebelum Avengers: Infinity War

  17. Spider-Man: Homecoming — Setelah Captain America: Civil War, sebelum Avengers: Infinity War

  18. Black Widow — Setelah Captain America: Civil War, sebelum Avengers: Infinity War

  19. Doctor Strange — 2016

  20. Black Panther — 2017

  21. Avengers: Infinity War — 2017

  22. Ant-Man and The Wasp — Di antara Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame

  23. Avengers: Endgame — 2017-2022

  24. Spider-Man: Far from Home — 8 Bulan setelah Avengers: Endgame

  25. Sang-Chi and The Legend of The Ten Rings — 2023

  26. Eternals — 2023

  27. Spider-Man: No Way Home — 2024

  28. Doctor Strange in the Multiverse of Madness — Setelah Spider-Man: No Way Home

  29. Thor: Love and Thunder — 2024

  30. Black Panther: Wakanda Forever — Musim semi 2025 sebagai penutup fase 4

  31. Ant-Man and the Wasp: Quantumania — pembuka fase 5

  32. Guardians of the Galaxy Vol. 3 — Akhir 2025

  33. The Marvels — Akhir 2025/awal 2026



dokumen: Wikipedia 


Nah, semoga menikmati tontonan tanpa terjeda! (*)


Jumat, 10 April 2015

Cinderella (2015)

Pemain: Lily James, Helena Bonham, Cate Blanchett
Sutradara: Kenneth Branagh
Durasi: 112 menit
(2015)

Saya merasa tua ketika satu-persatu dongeng masa kecil diangkat ke layar lebar di era millenium ini. Sebut saja mulai dari Alice in Wonderland (2010), Red Riding Hood (2011), Snowhite and the Huntmant (2012), Oz the Great and Powerful (2013), Maleficient (2014) hingga yang dirilis Maret tahun ini, Cinderella.

Memang beberapa mengalami modifikasi dari versi dongeng klasik. Misalnya Snowwhite and the Huntmant mengangkat Putri Salju menjadi gagah berani. Psst, dibandingkan filmnya malahan lebih nge-top story behind the scene cinta lokasi Kirsten Stewart dengan sutradara film yang bikin kandas hubungan dengan pasangan masing-masing.

Oz the Great and Powerful justru prekuel dari Wizard of Oz yang dirilis 1939. Atau Maleficient yang justru mengangkat alasan si Peri Jahat sampai tega berperilaku bengis terhadap Putri Tidur.

Alasan merasa tua lainnya ketika menyaksikan satu-persatu artis idola masa kecil yang membuat saya terpana mengagumi kecantikan mereka di lembaran kertas majalah lifestyle yang saya curi baca pula dari kakak saya, ikut bermain di film tersebut.

Rachel Weist maupun Angelina Jolie bersalin rupa dari American Sweetheart menjadi nenek lampir dan peri kejam, demikian pula Cate Blanchett menjadi ibu tiri jahat di Cinderella. Tapi Cate Blanchett justru menjadi ‘roh’ film Cinderella. Ia menghidupkan sisi psikologis dari sebuah film dilatari cerita dongeng. Kalau kita mau mencari cerita dongeng yang manis, maka pilih film animasi saja, bukan?  

Dari kita kecil sudah disodori kisah Cinderella yang diperlakukan tak simpatik oleh ibu tiri. Tak pelak memang cerita Cinderella punya andil menimbulkan stereotipe kalau “ibu tiri” berkonotasi jahat terhadap anak tiri di dalam dunia nyata. Namun Cate Blachett (dan skenario film) menjawab pertanyaan penonton bahwa ada masalah kejiwaan terhadap alasan ini.

Di luar ini, film berdurasi 112 menit mengikuti pakem cerita dongeng Cinderella. Dikisahkan Ella (Lily James) yang terpaksa tinggal dengan ibu tiri dan kedua anaknya setelah sang ibu meninggal. Penderitaan Ella bertambah saat sang ayah juga meninggal. Kehidupan yang awalnya bahagia, berubah saat ibu tiri dan kedua saudara tirinya memperlakukan Ella seperti asisten rumah tangga.

Film ini layak tonton semua umur karena tanpa adegan kekerasan dan seksual. Siapkan saja semangkuk popcorn untuk menghibur diri menyaksikan indahnya dunia dongeng. (*)

Selasa, 15 Juli 2014

Deliver Us from Evil

Pemain: Eric Bana, Edgar Ramirez, Olivia Munn
Penulis naskah: Scott Derrickson, Paul Harris Boardman
Sutradara: Scott Derrickson
Waktu: 118 menit 
(2014)


Cerita dibuka di Irak pada tahun 2010. Tiga tentara marinir diterjunkan ke suatu lokasi di tengah hutan dan penyisiran mereka terhenti di sebuah gua. Capture film beralih ke rekaman video seorang tentara marinir, dan tiba-tiba suasana jadi gelap. Dan berakhir dengan teriakan-teriakan.

Lalu cerita beralih ke kawasan Bronx, Amerika Serikat, tiga tahun kemudian. Di suatu malam yang sibuk pada tahun 2013, detektif kepolisian New York, Ralph Sarchie (Eric Bana) mengalami serangkaian kasus kejahatan aneh. Suami melakukan KDRT, berpindah ke kebun binatang dimana seorang ibu tega melempar bayi laki-lakinya yang baru berusia dua tahun, dan di rumah lain menemukan tubuh membusuk di gudang bawah tanah.

Awalnya dia berpikir kasus-kasus ini hanyalah kasus biasa melibatkan orang gila. Tapi ternyata rangkaian kasus aneh ini saling terkait dan pertemuannya dengan pendeta Mendoza (Edgar Ramirez), membuat dirinya menyadari dia terlibat dalam kasus supranatural yang melibatkan pertempuran antara pendeta dan roh jahat.
Ralph yang dalam penyelidikan dibantu rekan polisi Butler (Joel Hale), sayangnya tidak menyadari kalau kasus ini membahayakan sang istri, Jen (Olivia Munn) dan puterinya Christina (Lulu Wilson).

Sebagai sebuah film horor, Deliver Us from Evil tidak menawarkan hal baru. Meskipun diembel-embeli cerita di film berdasarkan kisah nyata, pengalaman spiritual karakter utama Ralph Sarchie tapi sayangnya jalan cerita tidak kuat. Sosok roh jahat dari dunia kuno tidak tereksploitasi dengan baik, hanya seolah menjadi pelengkap sesi pengusiran iblis di diri Santino yang menjadi tersangka utama kasus yang ditangani Ralph.  

Padahal ramuan mitologi iblis kuno sudah pernah ditampilkan berbagai film horor, antara lain The Exorcist, Possesion (2012), atau Season of the Witch (2011) yang terasa lebih seru. Sehingga twist menarik yang dijanjikan pada awal cerita berganti menjadi rasa jenuh menonton film berdurasi 118 menit ini yang campur aduk seolah ingin memadukan suspense, slasher, dan drama keluarga.


Untung saja akting tokoh sentral dalam film ini, Eric Bana (Munich dan Hulk) dan Edgar (pemeran sosok Ares dalam film Wrath of the Titans) tampil baik dan tidak kesulitan untuk memerankan karakter tokoh mereka di film ini. 

Kamis, 29 Mei 2014

X-Men: Days of Future Past

Pemain: Hugh Jackman, Jennifer Lawrence, Nicholas Hoult, Ellen Page, Shawn Ashmore, Patrick Stewart, Peter Dinklage, Omar Sy
Sutradara: Bryan Singer
Skenario: Simon Kinberg
Waktu: 131 menit
(2014)
Seperti judulnya, X-Men: Days of Future Past menggabungkan masa lampau dan masa depan nasib dari para mutan. Film ini mengisahkan tentang para mutan di masa depan yang diburu dan dibunuh oleh robot Amerika bernama Sentinels.

Sentinels merupakan proyek pengembangan dari Departemen Pertahanan AS yang ide awalnya dikembangkan oleh Boliver Trask, industrialis sekaligus jenius, yang memiliki ide para manusia berspesies Homo sapiens akan mati oleh mutan. Oleh sebab itu, Tsark menciptakan robot yang super tangguh mampu menyerap energi para mutan, dan tentu saja kebal terhadap serangan para mutan.

Akibatnya Sentinels bak anjing pemburu menghabisi mutan-mutan dimanapun mereka berada. Termasuk menghabisi manusia yang berpotensi memberikan gen mutasi. Dengan sisa-sisa terakhir, para mutan, baik di kubu Xavier (Patrick Stewart) maupun Magneto (Ian McKellen) bersatu untuk mencegah Sentinels sebelum kepunahan mereka terjadi.

Wolverine (Hugh Jackman) dikirim kembali ke masa lalu, tepatnya tahun 1973, dimana proyek Sentinels dicetuskan oleh pemerintah Amerika Serikat. Proyek ini disetujui Departemen Pertahanan AS pasca pembunuhan Trask oleh Mystique (Jennifer Lawrence) di sebuah hotel di Paris. Malangnya Mystique saat itu berhasil ditangkap oleh tentara AS, dan pemerintah menganggap mutan adalah spesies yang membahayakan kehidupan para manusia normal. Mystique pun menjadi kelinci percobaan untuk mengembangkan robot pembasmi mutan Sentinels.

Oleh karena itu, misi utama Wolverine adalah meyakinkan Profesor X alias Charles Xavier muda (James McAvoy) untuk mencari Mystique dan menggagalkan rencana mutan biru membunuh Trask.

Mudahkah misi itu? Tidak! Cerita tidak sekadar mencari Mystique dan menggagalkan rencana pembunuhan.
Saat Wolverine kembali di tahun 1973, ia menemukan Profesor X di kastil milik Profesor X dalam keadaan tukang mabuk, kucel, apatis, sementara kastil sekaligus sekolah bagi anak berbakat  kosong ditinggalkan oleh para murid karena menjadi relawan Perang Vietnam.

Bagi pecinta X-Men dan khususnya penonton X-Men: Frist Class tentu ingat kalau di film tersebut Charles Xavier atau Profesor X sempat bersekutu bahu-membahu dengan Erik Lehnsherr atau Magneto (diperankan oleh Michael Fassbender).

Hanya saja, mereka kemudian berpisah karena Magneto lebih memilih perlawanan garis keras, dan Xavier cedera tulang belakang tertembak peluru, mengakibatkan Xavier harus berjalan di atas kursi roda. 
Sedangkan Mystique atau Raven Darkholme pada X-Men: First Class diceritakan sebagai teman masa kecil Xavier, bahkan sudah dianggap Xavier sebagai adik kandung, namun Raven pada saat dewasa memilih bergabung dengan garis keras bersama Magneto.

Tetapi di X-Men: Days of Future Past, Xavier bisa berjalan normal kembali berkat serum yang disuntikkan secara teratur oleh Hank McCoy alias Beast (diperankan oleh Nicholas Hoult). Namun kemampuan berjalan kaki ini harus dibayar dengan hilangnya kekuatan telepath Xavier.


Film ini punya kekuatan skenario yang mampu menjadi penghubung antara trilogi X-Men dengan prekuel X-Men: First Class.  Selain itu bagaimana para penulis cerita menggabungkan sejarah sebenarnya menjadi suatu kisah yang masuk akal. Jika trilogi X-Men membuat kita terpesona dengan kemampuan para mutan yang unik, X-Men: First Class adalah ketika radiasi nuklir pasca Perang Dunia II memicu gen manusia bermutasi dan mutan diantara Cold War.

X-Men: Days of Future Past memasukkan penembakan Presiden AS, John F. Kennedy hingga tewas dilakukan oleh Magneto (aha!), Perang Vietnam dan bagaimana berbagai peperangan di dunia memunculkan keuntungan bagi para pedagang senjata seperti Trask.

Kesimpulan pendapatku  X-Men: Days of Future Past menjadi film amat layak nonton, tapi big alert walaupun film ini termasuk film remaja (PG-13) yang relatif sepi dari adegan kekerasan penuh darah maupun sexual act, tetap saja big no! And no! kalau Anda mau membawa putra putri Anda ikut menonton di layar lebar. Selain mengganggu bagi penonton sekitar (swear, saya mendengar anak kecil menangis saat menonton film ini di bioskop) mungkin Anda harus menjadi “penerjemah” dari cerita yang sedang berlangsung cukup complicated dicerna anak 7 tahunan.  

Secara keseluruhan saya dengan senang hati memberi film ini penilaian di angka 8,5 dari total 10, dan jadi tidak sabar menanti kelanjutan film ini yaitu X-Men: Apocalypse bakal dirilis pada tahun 2016.



Frozen

Pemeran: Kristin Bell, Idina Menzel, Jonathan Groff, Josh Gad, Santino Fontana
Sutradara: Chris Buck, Jennifer Lee
Skenario: Jennifer Lee
Waktu: 102 menit
(2013)

Film animasi besutan Walt Disney Animated Classics ini terinspirasi dari dongeng Hans Christian Andersen berjudul “The Snow Queen”.

Tetapi tentu saja versi Frozen (2013) Walt Disney ini berbeda dari versi dongeng H.C. Andersen. Tema besar film ini tentang putri Anna (pengisi suara: Kristen Bell) dari Kerajaan Arendelle yang bertualang ke Gunung Utara untuk mencari kakak perempuannya yang menyebabkan kerajaan mereka mengalami musim salju abadi.

Film dibuka dengan menunjukkan kehidupan para pemanen es di gunung dan Kristoff kecil bersama rusa kutub sahabatnya, Sven, ikut bergabung. Para pemanen bercerita bahwa es punya kekuatan sihir dan berkata bahwa kita harus berhati-hati kepada orang yang berhati beku.

Kemudian cerita berpindah ke kerajaan Arendelle, dimana Anna mengajak kakaknya, Elsa, bermain bola salju. Elsa memang lahir dengan kekuatan mengeluarkan es dan salju.  Ketika sedang bermain boneka salju dan dan bermain es di dalam istana, secara tidak sengaja Elsa mengenai kepala Anna dengan semburan esnya sehingga membuat Anna pingsan.

Raja dan Ratu yang panik membawa kedua anak tersebut bertemu Troll di hutan untuk menyembuhkan Anna. Troll tua bernama Grand Pebbie mengambil ingatan Anna tentang sihir Elsa. Grand Pebbie juga mengingatkan Elsa bahwa ketakutan akan menjadi musuh terbesarnya. Karena kejadian tersebut, sang raja menutup istana dari dunia luar dan tidak ada yang boleh tahu tentang kekuatan sihir Elsa. Elsapun memakai sarung tangan dan mengasingkan diri dari Anna dengan selalu  menutup pintu kamarnya.

Kemudian tahun demi tahun berlalu dimana Elsa dan Anna tumbuh menjadi gadis remaja. Anna sang adik yang lebih cheerfull, sementara sang kakak lebih tertutup dan kalem. Hingga suatu hari malapetaka terjadi. Kedua orangtua mereka meninggal kecelakaan. Kapal yang mereka tumpangi karam tersapu badai di lautan.
Tiga tahun kemudian sejak meninggalnya raja dan ratu, Arandelle pun membuka kerajaan dan mengundang sejumlah sekutu kerajaan tetangga untuk menyaksikan hari penobatan Elsa (pengisi suara Elsa remaja: Idina Menzel) sebagai Ratu Arandelle.

Di hari tersebut, Anna berkenalan dengan Pangeran Hans dari Kepulauan Selatan  dan langsung jatuh cinta. Mereka pun ingin menikah dan di tengah pesta dansa meminta restu Elsa agar mereka boleh menikah. Elsa jelas kaget dan menolak memberi restu kepada  Hans, dan malah memerintahkan penjaga untuk menutup istana lagi. Anna dan Elsa berdebat sampai tidak sengaja Elsa mengeluarkan sihir esnya sehingga membuat orang-orang takut. Anna pun jadi tahu apa yang membuat Elsa selalu mengurung diri.

Keadaan bertambah parah dan Elsa pun melarikan diri ke Gunung Utara karena takut melukai orang banyak. Ardelle diliputi salju abadi. Anna memutuskan untuk mencari kakaknya dan memperbaiki masalah yang terjadi di Arandelle. Anna menugaskan Pangeran Hans untuk mengurus kerajaan.

Dalam perjalanan mencari Elsa, Anna bertemu Kristoff yang ingin membeli barang kebutuhan di Toko Oaken. Anna mendengar Kristoff tahu dimana letak Gunung Utara sehingga Anna minta bantuan Kristoff untuk mengantarnya ke Gunung Utara, untuk mencari Elsa. Maka petualangan seru Anna, Kristoff, bersama rusa kutub Kristoff, Sven, dimulai. Menghadapi serigala dan tidak sengaja bertemu dengan manusia saju yang dapat berbicara bernama Olaf, seperti manusia salju buatan Elsa dan Anna di masa kecil. 


Film yang menarik ditonton segala umur, menghibur, dan moral story yang dipetik adalah cinta kasih dan keberanian.

Film ini memenangkan penghargaan Academy Awards untuk Best Animated Feature 2014 dan memiliki lagu soundtrack yang ngetop, Let it Go yang dinyanyikan di film ini oleh Idina Menzel, dan ada versi lain dinyanyikan oleh mantan pemain cilik Walt Disney, Demi Lovato.



Senin, 19 Mei 2014

Lovelace

Pemain: Amanda Seyfried, Peter Sarsgaard, James Franco, Sharon Stone
Penulis: Andy Bellin
Sutradara: Rob Epstein, Jeffrey Friedman
Waktu: 93 menit 
(2013)


Sebuah film biopik seorang bintang porno yang kemudian beralih menjadi aktivis anti pornografi, dibuat The Complete Linda Lovelace (2001). Cerita di dalam film ini berfokus pada kehidupan awal Linda Susan Boreman atau terkenal dengan nama panggung Linda Lovelace (diperankan oleh Amanda Seyfield) ketika menjadi seorang aktris porno yang dilatih oleh suaminya sendiri Chuck Traylor (Peter Sarsgaard).
berdasarkan buku biografi berjudul

Linda remaja bersama sahabatnya Patsy sedang bermain di area sepatu roda ketika berkenalan dengan Chuck. Pacarannya yang tidak direstui ibu yang puritan, membuat Linda melarikan diri ke rumah Chuck dan kemudian menikah.

Kemudian jalan cerita film akan terjalin dalam dua sisi penayangan. Pertama, saat Linda terjun ke industri film biru dimana suaminya Chuck yang menjadi manajer. Tapi sisi penayangan kedua ketika dalam menjalani kehidupan sebagai aktris dipenuhi oleh kekerasan domestik dalam rumah tangga (KDRT) dan paksaan dalam menjalani kehidupan yang dijalani.

Film biopik memang memeberi kesempatan penonton tahu sekelupas tentang seorang tokoh sentral cerita. Silahkan memberi sedikit rasa empati, salut atau terhanyut dengan kisah yang dijalin. Sebagai sebuah film, Lovelace hanya terasa cerita yang mengambang. Biasa-biasa saja.  Jangan harapkan juga mendapat gambaran apakah kita bisa menggaris bawahi kalau industri film porno hanya memberi keindahan bagi sebagian pelaku di dalamnya.


Tapi film ini bisa menjadi nasehat bagi remaja putri atau perempuan umumnya. Dari kisah hidupnya ini (Linda asli sampai perlu menjalani test polygraph, tes uji kebohongan, sebelum mempublikasi buku autobiografinya berjudul Ordeal (1980) yang menceritakan tentang perilaku kekerasan fisik maupun seksual yang didapat dari Traynor, termasuk kontrol terhadap pendapatan keuangannya), Linda muda bukan remaja tanpa pengalaman seksual. Tapi tetap saja dia gadis polos karena usianya yang masih belia. Buta karena cinta membuat dia memilih kawin lari dengan Chuck yang ternyata pria posesif, kasar, terlibat prostitusi ..bejat! So, watchout with your feel about fall in love, ladies ... 

Minggu, 16 Maret 2014

The Book Thief

Pemain: Geoffrey Rush, Emily Watson, Sophie Nélisse, Ben Schnetzer, Nico Liersch
Sutradara: Brian Percival
Penulis skenario: Markus Zusak (novel), Michael Petroni (adaptasi)
(2013)


Memory is the scribe of the soul – Aristoteles


Film ini diadaptasi dari buku laris karya pengarang Australia Markus Zusak, mengisahkan gadis kecil bernama Liesel Meminger (Sophie Nélisse) di era Nazi Jerman pada tahun 1938. Film dibuka dengan cerita dimana Liesel dan adiknya Werner sedang dalam perjalanan naik kereta api bersama ibunya. Sang ibu hendak menyerahkan anaknya untuk diadopsi. Malang tak dapat ditolak, di perjalanan sang adik meninggal.

Ini pertama kalinya sang narator, Death, ‘bertemu’ dengan Liesel. Pada pemakaman Werner, Liesel menemukan buku berjudul “The Grave Diggers Handbook”. Death menyebut Liesel sebagai ‘the book thief’ karena gadis berusia 10 tahun itu ‘mencuri’ buku di tumpukan salju di area pemakaman. Liesel mengganggap buku tersebut sebagai kenangan terakhir bersama ibu dan saudara laki-lakinya.

Liesel kemudian pindah ke area Himmel Street diadopsi oleh pasangan Rosa dan Hans Hubermann (diperankan oleh Emily Watson dan Geoffrey Rush). Liesel segera berkarib dengan tetangganya Rudy Steiner yang bermimpi menjadi Jesse Owens (atlet Afro-American pelari peraih empat medali emas di Olimpiade Berlin 1936, dan saat itu Yahudi dan kulit berwarna adalah: big no! no!) dan mereka punya musuh bersama yang bernama Franz.

Hidup mereka menjadi berbeda ketika kedatangan Max, putra teman Hans yang keturunan Yahudi, dan disembunyikan di basement.  Hari-hari dilalui dengan kisah Liesel yeng belajar membaca, dan menuturkan kisah dari buku-buku yang dibacanya yang tidak hanya menghibur Max, juga sesama warga saat sembunyi di bunker untuk menghindari serangan bom.



Death mampir di Himmel Street pada suatu malam di tahun 1943. Bom jatuh tanpa ada sirene yang membuat para penduduk lelap dalam tidur. Pagi hari Liesel tersadar dalam suasana kota yang porak poranda dihajar bom. Liesel menangisi Papa Hans, Mama Rosa, dan memberikan ciumannya kepada Rudy. Perang memang menghadirkan banyak kisah, termasuk kisah Liesel yang menghadapi orang-orang yang dikenalnya datang dan pergi. Saya memberikan nilai 8 dari 10 untuk film yang mendapat nominasi Musik Asli Terbaik di ajang penghargaan Oscar 2014 ini (*)

Kamis, 09 Agustus 2012

How Do You Know


Pemain: Reese Witherspoon, Owen Wilson,Paul Rudd, Jack Nicholson
Sutradara/PenulisSkenario: James L. Brooks
Waktu: 1 jam 56 menit
(2010)



Lisa (Reese Witherspoon), atlet baseball berusia 31 tahun menghadapi ‘masasenja’ yang belum siap dihadapi, ketika tidak terpilih sebagai tim baseball AS 2011. Ia harus menghadapi kehidupan baru tanpa ritme latihan-pertandingan yang selama ini dia ketahui.

Lisa tengah menjalin hubungan dan tinggal bersama pacarnya, Matty (Owen Wilson), atlet baseball liga utama yang self-centered ladies’ man ketika bertemu kembali dengan George Madison (Paul Rudd) pria yang ditemuinya sekali dalam sebuah kencan buta yang diatur oleh Riva, teman Lisa.

George sendiri tengah menghadapi masalah. Dirinya seorang pebisnis yang tengah menghadapi tuduhan hukum sekaligus punya relasi tidak mulus dengan ayahnya yang seorang pengusaha kaya yang diperankan oleh Jack Nicholson.

Cerita drama komedi romantis dengan latar kisah cinta segitiga ini mengambil kisah orang-orang dewasa dari segi umur dan kehidupan, dengan alur yang membumi, serta tidak ringan seperti umumnya penonton temukan dari cerita bergenre demikian. Kekuatan film sepanjang hampir dua jam ini karena bertaburkan nama bintang terkenal yang cukup matang dalam menjalani karakter yang dipegang.


Passengers


Pemain: Anne Hathaway, Patrick Wilson, David Morse, CleaDuVall
PenulisSkenario: Ronnie Christensen
Sutradara: Rodrigo Garcia
Waktu: 93 menit
(2008)


Seorang terapis muda Claire Summers (Anne Hathaway) diminta mentornya untuk menangani konseling lima orang penumpang yang selamat dari kecelakaan pesawat terbang. Diantara penumpang, Eric (Patrick Wilson) yang paling menonjol dengan perubahan sikap menjadi fearless dan tidak merasa butuh bimbingan konsultasi untuk melewati masa traumatis.

Hubungan Eric dan Claire berkembang tidak hanya sebatas relasi pasien-dokter terapis, tetapi menjadi romansa. Di sisi lain, pasien Claire menghilang satu per satu dan terjadi kecurigaan kasus kecelakaan pesawat ini akibat unsur kerusakan mesin yang ditutupi oleh pihak maskapai penerbangan.
 
Cerita menggiring penonton menduga-duga unsur human error atau memang ada kerusakan mesin yang ditutupi oleh pihak perusahaan, apalagi dengan kehadiran orang misterius yang mengikuti Claire.
Jalan cerita mengalir lambat, perlu keseriusan untuk menikmati dialog antar pemain, dan film ini cenderung masuk ke kategori drama thriller. Kejutan menjelang akhir film membuat jalan cerita tidak bisa ditebak membuat penonton enggan beranjak hingga akhir film sepanjang1 jam 33 menit.

Sabtu, 05 Mei 2012

The Avengers


Pemain: Robert Downey Jr., Chris Evans, dan Scarlett Johansson
Sutradara: Joss Whedon
Waktu: 142 menit
(2012)

Pada film The League of Extraordinary Gentlemen (2003) dengan masa peralihan abad ke-19 menuju 20, Allan Quatermain (diperankan oleh Sean Connery) mengumpulkan karakter fantasi dari karya sastra klasik, mulai dari penjelajah samudera Captain Nemo, Dr. Jekyll and Mr. Hyde, vampir Mina Harker, The Invisible Man,  Dorian Gray, hingga Tom Sawyer untuk  melawan penjahat besar James Moriarty (M).

Nah, tugas Allan Quatermain ini sama seperti Nick Fury (Samuel L. Jackson) dari organisasi penjaga perdamaian internasional S.H.I.E.L.D  yang mengumpulkan manusia super yang tergabung dalam The Avengers untuk menyelamatkan bumi dari invasi Loki dan pasukannya.

The Avengers adalah super hero Marvel terdiri dari Iron Man, Thor, Captain America, Hawkeye dan Black Widow, untuk menyelamatkan dunia.

Cerita dimulai ketika Nick Fury mendatangi sebuah fasilitas S.H.I.E.L.D , dimana sumber energi potensial yang masih misterius kekuatannya, Tesseract, sedang diteliti. Tesseract membuka portal  luar angkasa yang membawa Loki (Tom Hiddleston) masuk.

Lalu Loki mencuri Tesseract dan menggunakan kemampuannya mempengaruhi pikiran untuk membawa beberapa personal S.H.I.E.L.D  yaitu Dr. Erick Selvig dan agen Clint Barton (Jeremy Renner), untuk membantunya membuka portal guna membawa masuk para pasukan menaklukkan bumi.

Fury mengirim Black Widow a.k.a agen Natasha Romanoff ke India untuk menjemput Dr. Bruce Jenner, sementara agen Phil Coulson menemui Tony Stark untuk menindaklanjuti penelitian Dr. Selvigs. Fury sendiri mendatangi Steve Rogers untuk meyakinkan sang Captain America membantunya merebut kembali Tesseract dari Loki.

Loki bekerjasama dengan Chitauri, makhluk ruang angkasa yang terkenal sebagai bangsa penjajah di seputar galaksi, dengan perjanjian jika Loki dibantu untuk mendapatkan Tesseract, maka Loki membantunya untuk membuka portal agar para pasukan Chitauri bisa masuk menginvasi bumi.

Loki sendiri memiliki misi pribadi. Ia adalah adik angkat dewa petir Thor karena telah diadopsi oleh ayah Thor, Dewa Odin, sejak bayi. Namun  Loki tumbuh besar sebagai pribadi yang suka mengacau, penuh tipu muslihat, dan selalu merasa hidup di bawah bayang-bayang kehebatan sang kakak.

Konflik kakak adik, dan adu taktik untuk merebut Tesseract menjadi alur utama film ini.  Yang lebih berbahaya Loki mampu mengacaukan pikiran dan membuat antar anggota The Avengers saling curiga dan berseteru.

Ini yang menjadi salah satu daya tarik film. The Avengers memang orang-orang super dibandingkan manusia umumnya, namun mereka tetap manusia biasa. Sebagai contoh terlihat karakter Captain America atau Steve Rogers yang lurus memang pantas menjadikannya pemimpin tegas tetapi dalam beberapa hal menjadi terlalu kaku.
Kekuatan super Captain America akan beradu imbang dengan Iron Man yang memiliki kuasa pada kecanggihan alat dipadu kecerdasan berpikir.

Kekuatan cerita memang menjadi salah satu kelebihan film berdurasi 2 jam 22 menit ini, serta menonjolkan karakter superhero yang mungkin sebagian besar sudah terasa akrab bagi  penikmat komik Marvel.
Selain itu nikmati pula dialog-dialog cerdas dan kejadian mengundang tawa dalam film ini. Sebagai contoh:
“But he’s a god!” kata Natasha Romanoff (tentang Loki dan Thor)
Steve Rogers menyahut, “Ma’am, there’s only one God, and I’m pretty sure he doesn’t look like that”.

Sehingga saya memberi nilai 8,5 dalam rentang 1-10 untuk kelayakan film ini sebagai hiburan di bioskop selama Mei ini.  Akting Robert Downey Jr. sebagai pengusaha Tony Stark atau Iron Man masih tetap menjadi magnet utama film ini, dibarengi oleh ketampanan Chris Evans sebagai Captain America (Chris Evans sebelumnya sukses sebagai si manusia api Johnny Storm dalam Fantastic Four) dan Mark Ruffalo yang berhasil menghidupkan Bruce Banner yang lugu dibalik sosok Hulk.  


Great Expectations


Pemain: Ethan Hawke, Gwyneth Paltrow, Robert De Niro, Anne Bancroft, dan Hank Azaria

Sutradara: Alfonso Cuaron

Waktu: 112 menit

(1998)


Sejak usia delapan tahun, Finnegan Bell (dewasa diperankan oleh Ethan Hawke) tinggal bersama kakak perempuannya, Maggie, dan kekasih Maggie yang biasa dipanggil “Paman Joe”.

Namun pada suatu malam, Maggie kabur bersama pria lain dan sejak saat itu Paman Joe mengasuh Finn Bell hingga dia dewasa.

Finn mengalami pengalaman tak terlupakan di masa kecil. Suatu hari pria cilik penggemar melukis itu bertemu dengan tahanan yang kabur dari penjara, Lustig (Robert de Niro). Di bawa ancaman, Finn memberinya makanan dan perkakas untuk melepaskan rantai yang membelenggu kaki Lustig. Peristiwa ini membangun ikatan emosi diantara mereka berdua di masa depan.

Selain itu pengalaman masa kecil yang membekas di ingatan Finn adalah kenangannya terhadap si cantik Estella dan bibinya Ms. Nora Dinsmoor (Anne Bancroft), wanita kaya yang eksentrik karena memiliki gangguan jiwa akibat ditingal kekasihnya begitu saja di depan altar.

Film yang dirilis pada 1998 merupakan cerita yang diadaptasi dari sastra klasik karya Charles Dickens dengan judul sama. Namun di tangan Alfonso Cuaron, Great Expectations berubah dari setting klasik abad ke-19 menjadi sebuah kisah cinta versi modern, dengan setting New York dan Florida, bercita rasa latino dan diiringi 20 lagu menawan, enam diantaranya merupakan lagu sama ”Besame Mucho” yang berbeda versi.

Finn besar berhasil mewujudkan impiannya meraih kesuksesan sebagai pelukis terkenal di New York, bertemu kembali dengan Estella (Gwyneth Paltrow). Namun cinta yang tumbuh diantara keduanya ini kemudian berbalut duka karena disisipi dendam membara Ms. Dinsmoor.

Selain itu, sepanjang film ini juga memiliki tone warna yang selaras. Dominasi hijau dan berubah serba kelam seperti baju hitam saat Estella mengajak bertemu Finn di jembatan dan menyatakan dirinya untuk menikah dengan Walter Plane (Hank Azaria). warna berubah kelam ketika Estella-FInn bakal berpisah, ketika Estella menyatakan Walter melamarnya.

Meski memang agak aneh mengapa Estella yang modern dan hidup di abad ke-20, mempunyai pendidikan layak, namun tiada punya sikap pasti dalam urusan asmara.  Kegalauan yang dialami karena mengikuti sikap eksentrik sang tante yang jelas-jelas secara psikologis disakiti oleh urusan cinta. Estella ternyata menunggu Finn mengajaknya berdansa. Meski sebenarnya bahwa dansa dalam hal ini adalah sebuah kiasan untuk arti yang lain.

Masa lalu terkadang tidak lepas dari kehidupan manusia. Barangkali karena cinta tak kesudahan itu yang dimiliki, Finn berhasil mewujudkan hasrat di hatinya menjadi tak sekadar menjadi angan-angan belaka.

Namun siapa sesungguhnya dermawan yang mengirim Finn ke New York dan membiayai seluruh keperluannya mencapai jenjang sukses?




Sabtu, 21 April 2012

The Raid (Serangan Maut)


Pemain: Iko Uwais, Ray Sahetapy, Pierre Gruno
Sutradara: Gareth Huw Evans
Produser/Produksi : Ario Sagantoro/PT Merantau Films
Tayang di Indonesia : Maret 2012

Aksi martial art dalam gerakan cepat, tembak-tembakan, darah berceceran, dan film Indonesia. Ini menjadi benang merah yang dapat Saya simpulkan usai menonton film The Raid.

Ya. Film bergenre action di tanah air lumayan jarang. Dan kalaupun ada yang berniat membuatnya, mungkin bakal terjebak dalam kompromi pasar. Takut tidak laku maka akan memasang artis-artis cantik berbalut busana minim, slapstick atau jalan cerita serba kebetulan. 

Tapi The Raid jauh dari hal tersebut. Bahkan kalau dihitung jumlah perempuan yang hadir hanya dua orang,  masing-masing wanita muda tengah hamil besar dan ibu paruh baya tengah sakit-sakitan terbaring di ranjang.

Garis besar jalan cerita tentang misi sebuah pasukan khusus, sebut saja sebagai SWAT (Special Weapon and Tactics) yang di Amerika Serikat menjadi pasukan elit kepolisian dan telah dikenal istilahnya secara internasional, menyerbu blok apartemen tak terurus, tempat Tama (Ray Sahetapy) bandar  narkoba bersarang. Tempat tersebut dijaga ketat dan memiliki banyak penjahat yang siap bertempur habis-habisan untuk mempertahankan kenyamanan wilayahnya.

Terjebak di lantai 6 tanpa komunikasi dan diserang oleh penghuni apartemen yang diperintahkan oleh Tama, membuat tim SWAT  harus berjuang melewati setiap lantai agar bisa menyelesaikan misi dan bertahan hidup.
Di balik tugas menyelesaikan misi utama ini, terselip cerita pengkhianatan dan kebobrokan aparat yang sudah cukup familiar di dalam dunia nyata. Kongkalikong bos penjahat dengan aparat. Serta terselip pula reuni kakak-adik.  

Saat pasukan khusus menyerang, bak video game aksi yang mengharuskan setiap lantai dilewati dengan pertarungan hidup mati. Untuk berhasil keluar dari gedung apartemen, mereka harus mencapai lantai paling atas dan di setiap lantai menghadapi penjahat yang siap menghunuskan parang, golok, pisau, atau menggunakan senjata api laras pendek dan panjang. Jika Jaka dkk berhasil mencapai lantai paling atas berarti sekaligus menangkap gembong narkoba Tama.

Aksi laga di film ini memancing sejumlah pujian dari kritikus film luar negeri. Film ini juga berhasil menyabet penghargaan Midnight Madness di ajang Toronto International Film Festival 2011. Selain itu diputar di festival Sundance Film Festival, dan penggarapan musik untuk peredaran di Amerika Serikat  dibuat oleh Mike Shinoda dari Linkin Park.

Meskipun di berbagai ulasan disebutkan bahwa dasar aksi laga di dalam film ini berbasiskan pencak silat, namun saya pribadi awam terhadap gerakan olah pertahanan tubuh asli negeri sendiri ini, yang konon berasal dari suku bangsa Melayu nusantara. Selama ini indra penglihatan saya dimanjakan oleh aksi martial art ala film Hong Kong/Cina.  Jadi saya asumsikan gerakan bela diri yang khas Indonesia itu, terlihat melalui kuda-kuda atau menapakkan kaki untuk memperkokoh posisi tubuh, teknik pukulan tangan yang cepat dan jarka dekat dalam tarung antara dua orang, atau teknik mengunci lawan supaya tidak berdaya.  

Film yang ditetapkan label D (Dewasa) memang tepat adanya karena aksi sadis yang kadang mencekam, berdarah-darah, dan kata “Anjing” yang bertabur di sepanjang film.  Namun tepat jika kita ucapkan salut atas ide ceritanya. 

Selasa, 11 Oktober 2011

Season of the Witch

Pemain: Nicolas Cage, Ron Perlman, Stephen Campbell Moore, Claire Foy, Christopher Lee
Sutradara: Dominic Sena
Skenario: Bragi F. Schut
Waktu: 109 menit
(2011)



Behmen of Blabrik (Nicolas Cage) dan Felson (Ron Perlman)  adalah dua sahabat prajurit desertir dari perang Salib. Dan dalam pengembaraan selama sebulan mereka ‘terdampar’ di Smyrna. Ternyata telah terjadi wabah sampar selama 3 bulan termasuk menimpa Kardinal setempat.

Seorang wanita yang tidak diketahui namanya dituduh sebagai penyihir dan menimbulkan wabah ini sejak dia datang ke kota. Wanita itu harus dibawa ke Abby of Severak. Disana wanita itu akan menjalani prosesi pengadilan. Pengadilannya pun bukan oleh hakim, jaksa sebagaimana umumnya, tapi dengan menjalani semacam prosesi doa atau penyucian jiwa dengan membaca Book of Solomon untuk membuktikan dirinya penyihir atau bukan.

Kitab Solomon adalah buku yang digunakan dalam ritual pembuktian penyihir atau pembasmian orang yang kerasukan setan (exorcism).

Behmen dan Felson pun diminta Cardinal D’Ambroise untuk melakukan perjalanan ke Severak. Dalam perjalanan mereka ditemani oleh ksatria Eckhart, pendeta Debelzaq dan orang hukuman Hagamar sebagai penunjuk jalan. Anak altar, Kay, yang bermimpi menjadi ksatria kemudian ikut bergabung.

Perjalanan memakan waktu 6 hari, dapat dikurangi setengahnya jika melintasi Hutan Wormwood. Namun hutan angker itu punya cerita tentang orang-orang yang masuk ke dalam hutan dan tidak pernah kembali.

Untuk mencapai destinasi, mereka mengalami petualangan yang tidak bisa diterima akal. Sosok wanita tertuduh sebagai penyihir yang belakangan diketahui bernama Anna pun membuat orang terombang-ambing dalam rasa iba, tidak percaya atau malah memang setan.

Film ini bergaya horror dengan balutan sejarah. Latar cerita terjadi pada abad ke-14 ketika belahan Eropa percaya adanya wanita-wanita tukang tekung atau penyihir. Cara masyarakat menghukum seorang wanita yang dituduh sebagai penyihir menjadi pembuka film. Bertempat di kota Villach pada tahun 1235 setelah Masehi, tiga wanita akan dihukum dengan dililit tali dan dijatuhkan ke bawah jembatan. Badannya terbenam di air sungai yang mengalir di bawah jembatan.

Tak berhenti sampai disitu, kemudian tubuh wanita yang dihukum tadi harus ditarik kembali ke permukaan untuk dilakukan ritual doa dengan menggunakan kitab Solomon (Book of Solomon).

Ternyata setan turun ke bumi untuk menyingkirkan buku kitab tersebut agar bisa menguasai bumi dan meliputinya dengan kegelapan.

Jalan cerita mengalir rapi, dan memasukkan unsur sejarah. Perang Salib yang berlarut-larut, yang terjadi antara 1095-1291, memunculkan problem ekonomi, penyakit dan pertentangan batin. Antara kebenaran agama versus kenyataannya kebanyakan korban adalah masyarakat tak berdosa, termasuk wanita dan anak-anak.

Hanya saja kesalahan fatal film ini adalah geografi. Seperti dikutip dari situs IMDb, seperti Coast of Styria yang kini masuk dalam wilayah Austria tidak memiliki garis pantai. Demikian pula jika maksudnya Styria di Inggris. Lalu ajang pertempuran di Gulf of Edremit berada di sebelah barat bagian utara Anatolia (West-Northern Anatolia) bukan padang pasir tapi justru kaya tumbuhan hijau.

Kesimpulannya, tidak perlu jadikan film ini rujukan sejarah. Nikmati saja filmnya J
Film ini bisa masuk ke dalam horror exorcism atau kemasukan setan, dimana efek visual tampil rapi.


Minggu, 09 Oktober 2011

Monte Carlo

Pemain: Selena Gomez, Leighton Meester, Katie Cassidy
Sutradara: Thomas Bezucha
Skenario: Thomas Bezucha, April Blair
(2011)


Ringan, dangkal, tapi cukup menghibur. Ini komentar yang bisa dikatakan usai menonton Monte Carlo.

Tokoh sentral film ini adalah gadis 18 tahun asal Texas AS, Grace Bennett (diperankan oleh Selena Gomez) yang punya impian melakukan perjalanan ke Paris. Untuk merealisasikan mimpinya, dia bekerja sebagai part-timer di restoran dan menabungkan tips yang ia peroleh ke dalam toples kaca bertuliskan, “Grace’s Fund for Paris”.

Mimpi ini menjadi kenyataan ketika dia memperoleh hadiah kelulusan dari ayahnya (Brett Cullen). Bahkan sang ayah membayari perjalanan bertiga, yaitu kakak tirinya Mary Margaret “Meg” Kelly-Bennet dan Emma Perkins (Katie Cassidy).

Emma teman kerja Grace di kafe, tapi sekaligus rekan satu sekolah sang kakak tiri, Meg. Bedanya Meg melanjutkan sekolah sedangkan Emma siswa DO demi mengejar karir sebagai model (meski gagal). Bisa ditebak perjalanan ini menjadi ‘panas dingin’ karena ketidakakuran saudara tiri dan mantan teman satu sekolah.

Lalu tidak sengaja mereka ketinggalan bis rombongan saat berhenti di Menara Eiffel. Pengejaran bis yang sia-sia, tersesat, menghindari hujan lebat, membuat mereka masuk ke dalam hotel mewah.

Tidak disangka di dalam hotel mewah itu ada Cordelia Winthrop-Scott (diperankan juga oleh Selena Gomez) putri pewaris kaya asal Inggris yang harus terbang ke Monte Carlo demi acara amal.

Kemiripan wajah Grace dengan Cordelia, menimbulkan kesalahpahaman petugas hotel. Lalu upaya menghindari paparazzi membuat mereka masuk ke mobil mewah yang mengantarkan mereka ke bandara dimana jet pribadi siap menerbangkan mereka ke ibukota Monako itu.

Selama beberapa hari hingga menuju puncak acara lelang amal yang berlangsung Jumat, mereka harus menutupi rahasia, terutama menghindari sikap awas dari Tante Alicia yang juga hadir dalam perhelatan. Ketika ketahuan, tante itu malah mengira Cordelia menyewa wanita berwajah mirip agar dirinya bebas berpesta.

Adapula selipan kisah cinta antara Grace dengan Theo yang diperankan aktor remaja asal Perancis, Pierre Boulanger, pembuktian cinta sejati antara Emma dan pacar Texas-nya, Owen, dan penemuan cinta antara Meg dan Riley.

Ide film ini berdasarkan novel berjudul Headhunters karya Jules Bass. Dalam cerita novel mengangkat kisah empat wanita tengah baya asal Texas yang bergaya seperti wanita kaya pewaris harta untuk mendapatkan suami potensial di Monte Carlo. Di ibukota Monako itu, mereka bertemu empat gigolo yang berpura-pura sebagai playboy kaya.

Namun saat diangkat ke layar lebar, tokoh-tokoh kemudian dibuat lebih muda.

Syuting berlokasi di Budapest (Hungaria), Paris (Perancis) dan Monako. Namun sayang sepertinya penonton tidak menangkap greget keindahan kota-kota Eropa. Hanya sejumlah scene cepat dari satu lokasi berpindah ke lokasi lain. Apalagi berharap jelajah mata terpuaskan karena menikmati keindahan Monte Carlo yang menginspirasi judul film.

Film ini pun tidak menjanjikan kondisi seperti Sex n the City dengan parade busana cantik membalut para tokoh sentral. Gaya Cordelia yang ‘tua’ malah sepertinya tidak pas dengan pencitraan posisi heiress yang doyan pesta dan berbalut gosip skandal. Selena Gomez kepayahan membentuk citra Cordelia yang jadinya tua, aksen bahasa yang aneh sekaligus wajah ga jelas bak tokoh antagonis dalam sinetron Indonesia.

Konflik antara kakak-adik masih jauh lebih menarik menonton “From Prada to Nada” atau “In Her Shoe”.

Di bagian akhir film berdurasi 109 menit terjadi kelanjutan kisah cinta masing-masing gadis ini. Grace menjadi sukarelawan di Rumania dan bertemu kembali dengan Theo. Emma bertunangan dengan Owen. Dan Meg mencapai puncak Machu Picchu bersama Riley. Ia menjadi lebih lepas, tidak penuh pertimbangan dan kaku.
She’s allready 20 (over 18) and responsible by herself. Tapi ini film remaja dan menyodorkan ide liburan berbulan-bulan, lintas negara, dengan pacar yang belum resmi menikah? Hmmm…. Kenapa agak mengganjal di hati ini?

Lagu-lagu soundtrack juga cukup up-beat enak di kuping, termasuk “Who Says” yang dinyanyikan Selena Gomez. Liriknya mengajak kita menjadi diri sendiri.

Secara keseluruhan film ini masih layak tonton, terutama di saat Anda ingin menghabiskan liburan akhir pekan membuang penat. Karena film ini memenuhi kebutuhan dasar hasil dari menonton film: cukup menghibur dan ringan.