Senin, 27 Oktober 2008

Chicken with Plums

Penulis: Marjane Satrapi
Tebal: 88 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2008)

Satu lagi novel grafis karya Marjane Satrapi diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, setelah “Embroideries” alias “Bordir”. Judulnya “Chicken with Plums”. Saya termasuk penggemar Marjane. Menurut saya, karya-karyanya sederhana, berani, humoris, dan menyentuh. Satu karya fenomenal Marjane, “Persepolis”, bahkan sudah difilmkan dalam format animasi.

Dalam Chicken with Plums, Marjane berkisah tentang kehidupan tragis paman dari ibu Marjane, Nasser Ali Khan. Kisah ini bersetting di Teheran, Iran, tahun 1958. Nasser Ali adalah seorang musisi tar terbaik di Iran, yang mendedikasikan hidupnya untuk musik dan cinta.

Dalam hal percintaan, Nasser Ali bisa dibilang kurang beruntung. Ayah dari Irane, perempuan yang dicintainya, menolak lamaran Nasser Ali untuk jadi suami anaknya. Alasannya, bagaimana mungkin seorang musisi bisa menghidupi anaknya?

Nasser Ali patah hati, dan akhirnya menikahi Nahid. Nahid ini sudah jatuh cinta dengan Nasser sejak ia berusia 8 tahun. Saat itu Nasser berusia 15 tahun. Adalah ambisi Nahid untuk menikahi Nasser Ali. Sayangnya, rumah tangga mereka, yang dikarunia 4 orang anak, ternyata tak berjalan mulus.

Hidup Nasser Ali makin nelangsa sejak tar kesayangannya rusak, dipatahkan oleh Nahid yang merasa kesal karena suaminya hanya peduli dengan musik dan enggan membantunya mengurus anak dan rumah tangga. Tidak ada tar yang bisa menggantikan tar kesayangan Nasser Ali. Hal ini membuatnya merasa tak berguna.

Di satu frame, ditampilkan pertemuan tak sengaja antara Nasser Ali dan Irane. Sayangnya, Irane mengaku tak ingat pada Nasser Ali. Padahal, perempuan inilah yang selalu jadi sumber inspirasi Nasser Ali dalam bermusik. Sigh...

Nasser Ali memutuskan untuk mati. Sebelum mati, dia mengurung diri di kamarnya selama 8 hari. Nah, 8 hari ini lah yang diceritakan oleh Marjane―tentang pikiran-pikiran dan beragam peristiwa yang berkelebat dalam benak Nasser Ali, sebelum maut menjemputnya. Oleh Marjane, kisah sedih ini dibawakan secara humoris.

Oiya, harga buku 88 halaman ini lumayan mahal, Rp45.000. Saya rasa, itu karena kualitas kertas yang dipakainya, bagus.

Gambar diambil dari www.madisonpubliclibrary.org

Tahun 69

Penulis: Ryu Murakami
Tebal: 284 halaman
Penerbit: TransMedia Pustaka

“Aku ini sebenarnya tidak terlalu suka bekerja. Jadi, aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dan kemudian setelah itu bersenang-senang.” (Ryu Murakami)

Membaca pernyataan itu di buku ini, saya lantas pengin tahu, seperti apa sih novel buatan seorang Ryu Murakami. Hihi, habis prinsip kerjanya kurang lebih sama seperti saya. Bedanya, saya masih sering tergoda untuk senang-senang dulu, baru kerja kemudian. Ya, selain itu, saya juga tertarik dengan gambar kaver bukunya. Ternyata, memang “Tahun 69” menyenangkan untuk dibaca.

Tahun 69 berkisah tentang pengalaman hidup Ryu Murakami semasa ia SMA. Tokoh Kensuke Yazaki alias Kensuke adalah bentuk personifikasi Ryu sendiri.

Bersama sama dua kawan baiknya, Adama dan Iwase, Kensuke memimpin pasukan anak pemberontak untuk membarikade sekolah mereka, SMA Kita. Alasan Kensuke sama sekali bukan berlatar politik, masalah yang peka di masa itu. Dia memimpin barikade SMA Kita karena dia naksir cewek paling cantik di sekolahnya, Kazuko Matsui alias si Lady Jane, yang menurutnya suka dengan anak laki-laki “pemberontak”.

Ketertarikan Kensuke utamanya pada musik jazz dan film. Setelah sukses membarikade sekolah dan dihukum skors selama 119 hari, dia merancang pertunjukan musik rock, film indie, dan drama yang dinamainya “Morning Erection Festival”.

Singkat kata, Tahun 69 berkisah tentang masa baby boomer, di mana kaum muda punya mimpi untuk mengubah dunia. Oleh Ryu, masa mudanya ini dikisahkan dalam tutur bahasa santai dan penuh kelucuan. Aseli, lucu banget! Buku ini sudah dilayar-kacakan dengan judul yang sama, 69.

Gambar diambil dari www.bukukita.com

Laskar Pelangi the Movie

Film Laskar Pelangi merupakan adaptasi dari novel berjudul sama, karya Andrea Hirata yang dibuat berdasar kisah nyata kehidupan masa kecilnya. Dalam film ini, tokoh utama, bocah bernama Ikal, merupakan personifikasi dari Andrea kecil.

Banyak orang bilang, film ini merupakan potret buram dunia pendidikan di Indonesia. Terus terang, menonton film ini, saya sama sekali tidak menyalahkan pendapat mereka.

Cerita Laskar Pelangi dimulai dengan narasi dari Ikal dewasa yang diperankan oleh Lukman Sardi. Di sini, Ikal dewasa menceritakan tentang satu masa―rasanya tidak salah kalau saya sebut masa itu sebagai tipping point dalam hidup Ikal―yang mengubah hidupnya. Belitong di tahun 1974, hari pertama ia masuk ke sekolah dasar.

SD Muhammadiyah Gantong, SD Islam tertua di daerah Belitong, adalah satu-satunya sekolah yang bisa dituju oleh kaum miskin di Belitong. Maklum, sekolah ini dibuka untuk mereka secara cuma-cuma. Para orangtua bebas menukar pendidikan anak-anaknya dengan berasa.


Pak Harfan (Ikranagara) dan Bu Muslimah (Cut Mini) adalah dua pahlawan di SD Muhammadiyah. Mereka rela mengabdikan diri mereka demi pendidikan anak-anak miskin di Belitong. Bagi mereka, siapapun berhak mengenyam pendidikan, tak terkecuali anak-anak tak punya.

Di hari pertama pendaftaran sekolah, Pak Harfan dan Bu Mus merasa was-was. Pasalnya, jika tak mampu mengumpulkan minimal 10 orang siswa, SD tersebut akan ditutup. Di sini, tokoh Harun, anak abnormal berusia 15 tahun, keluar jadi tokoh penyelamat. Harus adalah anak ke-10 yang datang ke sekolah itu untuk mendaftar sebagai murid. Itulah awal persahabatan dari 10 anak miskin yang kemudian dijuluki oleh Bu Mus sebagai “Laskar Pelangi”, yakni Ikal (Zulfanny), Mahar (Verry S. Yamarno), Lintang (Ferdian), Kucai (Yogi Nugraha), Syahdan (M. Syukur Ramadan), A Kiong (Suhendri), Borek (Febriansyah), Harun (Jeffry Yanuar), Trapani (Suharyadi Syah Ramadhan), dan Sahara (Dewi Ratih Ayu Safitri).

Dalam film berdurasi 125 menit ini, karakter masing-masing tokoh jelas tidak mungkin untuk ditampilkan secara utuh. Karakter Lintang, anak nelayan yang sangat miskin, yang sebenarnya menjadi inti dari cerita ini―contoh paling penting yang mewakili kaum miskin yang tersingkir―pun kurang diangkat. Makanya saya beri tips untuk teman-teman yang pengin menonton (atau sudah menonton) film ini (dan kecewa): jangan bandingkan film ini dengan novel aslinya. Keduanya, menurut saya, sama-sama bagus. Pada intinya, pesan yang ingin disampaikan Andrea dalam novelnya sudah disampaikan oleh Riri lewat film ini. Laskar Pelangi mengajak kita memandang kemiskinan dengan cara lain, bukan sebagai sesuatu untuk ditangisi, tapi cambuk semangat untuk meraih asa. Itu dibuktikan dari suksesnya Ikal mencicip pendidikan di Universitas Sorbonne di Paris.

Nilai film ini makin bertambah karena juga menyuguhkan keindahan alam Belitong. Akhir kata, saya sendiri hanya penggemar buku dan film, bukan kritikus. Saya hanya berusaha menikmati apa yang saya baca dan tonton. Dan sejauh ini, saya suka keduanya, baik buku maupun film Laskar Pelangi.

Foto diambil dari laskarpelangithemovie.com

Jumat, 10 Oktober 2008

Mamma Mia! The Movie





Saya menonton film ini agak terlambat setelah seru dibahas di media atau dibicarakan teman-teman sekantor sekitar 1-2 minggu lalu. Tepatnya pada Selasa (7/10) di BlitzMegaplex. Jaringan bioskop 21cineplex sudah tidak memutar film ini.

Film musikal karya sutradara Phyllida Lloyd, dari awal hingga akhir bertutur melalui lagu-lagu ABBA, grup musik asal Swedia yang pernah ngetop di tahun 1970-an. Misalkan Mamma Mia (sama dengan judul film), Dancing Queen, Honey Honey, Money Money Money, Super Trouper, I Have a Dream dan lainnya.

Para pemain film pun menyanyi dan menari dengan lincahnya. Termasuk Meryl Streep dan Pierce Brosnan yang tampil beda di film ini.

Film yang menyegarkan dan menghibur, membawa Anda bernostalgia ke masa remaja saat grup vokal, yang konon penyumbang pajak terbesar di negaranya setelah industri mobil Volvo, merajai dunia. Ataupun bagi yang belum lahir di era tersebut, juga bisa ikut bersenandung.

Di sebuah pulau kecil di Yunani, Donna (Meryl Streep) tengah mempersiapkan pernikahan putrinya, Sophie Sheridan (Amanda Seyfried). Diam-diam, tanpa sepengetahuan Donna, Sophie mengundang tiga pria mantan kekasih Donna. Ia Ia berharap bakal mengetahui siapa bapak kandungnya. Sayangnya, Donna sendiri tak yakin, mana diantara ketiga pria tersebut yang benar-benar ayah kandung Sophie.

Maklumlah, Donna muda berada pada masa hippies yang bebas, dipenuhi semangat pemberontakan dan petualangan masa remaja. Donna pada waktu berdekatan akrab dengan tiga pria : Sam Carmichael (Pierce Brosnan), Bill Anderson (Stellan Skargard) dan Harry Bright (Colin Firth) pegawai bank yang tak biasa hidup spontan.

Jalan cerita tidak lagi yang utama. Ga usahlah terlalu pusing mencari jawaban siapa bapak ’the real’ Sophie (meski dari semula kamu bisa menebak). Kekuatan film ini justru dalam unsur nostalgia. Pertama, nostalgia lagu-lagu ABBA. Nostalgia kedua, adalah kehadiran sahabat lama Donna yang dulu tergabung dalam Donna and the Dynamos : Rosie (Julie Walters) dan Tanya (Christine Baranski) yang khusus datang menghadiri pernikahan Sophie.

Julie Walters dan Christine Baranski membuktikan bahwa umur hanyalah angka, tapi semangat tetaplah ’dinamit’ tanpa memandang usia.

Unsur kesulitan film ini pada pemaksaan agar plot cerita matching dengan lirik lagu. Sehingga saya sebagai penonton sempat merasa jenuh. Jalinan cerita terlalu bertele-tele. Dan kadang tidak perlu. Misalkan saja adegan Rosie yang ditaksir cowok yang jauh lebih muda, lalu mereka berbalas nyanyi dan menari di tepi pantai. Cerita yang ditulis oleh Catherine Johnson berbasis lagu-lagu ABBA, sebelum ditayangkan ke dalam bentuk film layar lebar, cerita ini sudah melanglang di berbagai panggung teater. Termasuk teater Esplanade Singapura beberapa tahun lalu.

Lupakan pula usaha Anda mencari-cari wajah kerut pemain film itu saat masuk kedalam emosi sedih atau kesal. Semua perasaaan ternyatakan dalam lirik lagu.

Tapi jangan komparasi film ini dengan film India yang penuh tarian dan nyanyian ya .......:D
Jadi, mari nikmati saja sebagai hiburan menyegarkan sebelum kembali merasakan normalnya jalanan Jakarta dan ritme kerja mulai Senin pekan depan. Libur Idul Fitri sudah berlalu 2 minggu.

....”You can dance, you can jive, having the time of your life....”

Rabu, 24 September 2008

5 Aturan Pikiran




Penulis : Mary T. Browne
Tebal : (i-xi) dan 266 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (2008)


Ucapan dan perbuatan merupakan realisasi dari pikiran. Contoh sederhana, ketika benakmu merasa haus, maka kamu segera melakukan perbuatan menuangkan air ke dalam gelas lalu meminum cairan yang ada di dalam.

Kalau kamu mengatakan, ”Hari ini menyebalkan sekali bagiku!”, maka yang terjadi benar-benar rangkaian peristiwa menyebalkan dalam sehari. Apakah kamu memang dikutuk pada hari tersebut? Sebenarnya karena otak kamu sudah ’mencap’ bahwa hari ini adalah hari sial maka rangkaian kejadian selama hampir 24 jam sebagai sesuatu yang memang BAD.

Dalam gambaran besar, pikiran menuntun kita untuk mencapai sesuatu dalam kehidupan.
Pikiran adalah getaran dan energi. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Oleh karenanya, kita memperoleh apa yang kita inginkan dengan mengendalikan pikiran kita.

Mary T. Browne, cenayang terkenal asal New York, menyusun 5 Aturan Pikiran –sebagai hasil pengalaman dirinya sebagai penasehat spiritual dan pembelajaran dari para maestro- yang bisa membantu kita untuk memperoleh apa yang kita inginkan. Kelima aturan itu memang lebih mudah diikuti jika kita lebih dahulu memahami dan sadar akan kekuatan Daya Ilahi.

Ke-5 Aturan Pikiran untuk memperoleh apa yang kita inginkan :
1. Kita harus menentukan apa yang kita inginkan
2. Bayangkan bahwa hal itu sudah terjadi
3. Jangan ragu-ragu
4. Kita harus mempunyai keyakinan
5. Ketekunan membawa hasil

Perasaan bimbang (ragu-ragu) adalah kendala terberat dalam proses meraih hasil. Sukses hanya diraih oleh mereka yang tegas. Tegas dalam arti tidak meragukan diri sendiri, dan fokus pada tujuan akhir.

Selain menghilangkan rasa ragu, pemusatan pikiran bisa dilatih. Melalui meditasi, kontemplasi dan mau meluangkan waktu beberapa menit setiap hari, untuk membuat gambaran yang kita inginkan di dalam benak kita.

Bagi yang pernah baca The Secret, nama Mary T. Browne terasa familiar karena memang Browne merupakan salah satu kontributor. Sehingga ide buku antara ”The Secret” vs ”5 Aturan Pikiran” memang terasa relevan.

Ketika kamu percaya akan law of attraction : dimana pikiran positif dan keinginan akan bekerja, sehingga semesta membantumu merealisasikan keinginan. Nah! Upaya fokus untuk mengarahkan pikiran (keinginan) itu bisa terbantu melalui buku ini. Walaupun (saya akui secara pribadi) butuh konsentrasi lebih untuk memahami ide yang dituang dalam buku setebal 266 halaman ini.

Di dalam buku yang terbagi atas 7 bab ini, Browne menyisipkan contoh kasus dari pengalaman pasien yang berkonsultasi padanya, demi kemudahan pembaca mencerna fokus tulisan.

Senin, 22 September 2008

Shahnameh – Hikayat Persia


Oleh : Ferdowsi
Tebal : 328 halaman
Penerbit : Navila (2002)


Di suatu akhir pekan di awal Ramadan 1429 H, saya membongkar tumpukan novel dan majalah pada rak buku. Saya menimang-nimang buku bersampul warna paduan coklat pucat dan oranye pupus yang menampilkan gambaran khas suasana Timur Tengah. Kemudian saya membuka halaman pertama, tergores nama saya (sebagai pemilik) dan 5 Agustus 2002 sebagai tahun pembelian.

Itu artinya buku ”Shahnameh – Hikayat Persia” ini telah berusia 6 tahun di tangan saya. Saya membelinya di stan Kedutaan Besar Iran di suatu pameran (lupa nama pamerannya).

Saya selalu tertarik dengan buku non fiksi berbau sejarah, khususnya budaya Mesir dan jazirah Arab Sebelum Masehi. Namun, ketertarikan itu tidak cukup kuat untuk segera melahap buku setebal 328 halaman itu sesegera mungkin. Sejumlah alasan membuat saya menunda baca itu. Kesibukan kerja, aktivitas diri, serta buku baru dan majalah yang terus berdatangan mengisi hari saya, menjadi alasan. Selain itu, anggapan ”isi buku pasti berat” sudah membuat saya menunda.

Hanya saja, sesuai niatan untuk menunggu bedug dengan membaca buku -khususnya membuka buku-buku yang sudah terlanjur beli namun belum pernah dibaca selama bulan puasa tahun ini- maka Minggu (6/9)usai Imsak, saya paksakan pula untuk membaca buku ini.

Dan ternyata, wow! Tidak seperti dugaan bahwa isi bacaan berat yang kaya sejarah dan peristiwa, saya justru dilarutkan dalam dunia dongeng 1001 malam dengan membaca kisah raja-raja Iran atau bangsa Persia. Cerita terbagi atas Bab yang memisahkan kisah antara raja (atau tokoh penting dalam perjalanan kerajaan) yang satu dengan yang lain. Cerita dimulai dari Kaiumer I sebagai Shah di Kerajaan Persia. Ia diibaratkan sebagai sang penguasa dunia, yang membangun tempat tinggal di gunung, memakai pakaian dari kulit harimau seperti begitu pula rakyatnya.

Anak manusia yang dilindungi oleh Ormurzd (sebutan Tuhan) dan segala kelimpahannya, mengundang sirik dari setan (Ahriman) yang senantiasa memberi cobaan melalui putranya yang berjuluk Deev. Masa gelap pun hadir melalui Raja Zohak dari jazirah Arab yang dibantu oleh Deev. Penguasa berjuluk Raja Ular –karena memberi korban manusia setiap hari untuk dimakan ular raksasa – bisa dikalahkan oleh Feridoun yang mengasingkannya ke Gunung Demawend.

Intrik di kerajaan Persia dengan raja tertinggi berjuluk Shah, mulai tersemai ketika Feridoun memiliki 3 putra yaitu Silim si sulung, Tur si anak tengah, dan Irij si bungsu.

Suatu hari Feridoun ingin menguji ketiga anaknya dengan menyuruh mereka bertarung melawan naga.

Silim yang dalam pertarungan melawan naga, terbukti adalah si orang yang mencari aman dengan membalikkan badan pergi meninggalkan sang naga. Ia membiarkan adik-adiknya bertarung melawan naga.

Tur yang berarti ”pemberani”, memang membuktikan nyali melawan naga. Akan tetapi, Irij tampil sebagai pria bijaksana sekaligus pemberani.

Feridoun kemudian membagi wilayah kekuasaannya menjadi tiga bagian secara adil kepada putranya. Silim memperoleh Rhoum (Kaver) daerah tempat terbenamnya matahari; Turan atau Turkestan diberikan kepada Tur (sebagai penguasa Turki dan Cina); lalu Feridoun memberikan Iran kepada Irij.

Meski ketiganya menjadi raja makmur di negara masing-masing, bisikan setan berhasil menguasai Silim dan Tur. Keduanya bahu-membahu menyerang Iran dan membunuh adik bungsunya. Dari pertikaian bak kisah putra Adam-Hawa, dimana Kain membunuh adik kandungnya sendiri (Habil), maka dinasti Iran pun tak lepas dari balas dendam, perebutan kekuasaan, dan kematian. Ada pula kisah cinta, cemburu, tipu daya, termasuk ilmu sihir. Para Shah percaya akan ramalan ahli nujum. Melihat nasib dan masa depan dari keturunan yang baru lahir.

Dan kisah sejarah permulaan Iran kuno tak bisa lepas dengan tidak mengisahkan kepahlawanan ksatria besar Persia, Rostam atau Rustem. Pehliva (ksatria?) turunan Zal putra Saum sang pahlawan dengan Rudabeh, setia membela Shah meskipun pada beberapa kasus peperangan terjadi akibat kebodohan dan ketamakan rajanya. Pada cerita penutup menjelaskan bagaimana Rustem mangkat.

Selain memang seputar silsilah raja Persia, Ferdowsi meletakkan sentralisasi cerita terpusat pada peperangan antara Iran vs Turan (negeri di Asia Tengah) dan suksesi kekuasaan Shah.

Ferdowsi atau bernama lengkap Hakim Abol Ghasem Ferdowsi Toosi (935-1020/1026 M) selama 35 tahun telah berhasil mengumpulkan sebanyak 60.000 syair pendek yang kemudian dituangkan dalam buku berjudul Shahnameh atau Shahnamah ”The Epic of Shahnameh Ferdowsi” (The Epic of Kings : Hero Tales of Ancient Persia). Shahnameh ini dipersembahkan Ferdowsi untuk kejayaan Sultan Mahmud dari Ghazna.

Shahnameh mengangkat Ferdowsi sebagai salah satu sastrawan terkemuka Persia, disejajarkan dengan penyair sufi terkenal Jalaluddin Rumi dan Sheikh Musli-uddin Sa’di Shirazi.

Buku yang diterbitkan oleh Navila, penerbit yang memiliki kepedulian terhadap sastra dan budaya Timur, terbagi dalam beberapa bab, dimana setiap bab menceritakan tentang seorang tokoh penting dalam kekaisaran Persia.

Hanya saja, saya menemukan beberapa kekurangan antara lain berupa pengertian. Misalkan pada halaman 108 : ..... ”Setelah makan dan minum sampai kenyang, Rustem mengambil lira dari kantong, ditaruhnya di meja, dan bernyanyi dengan riang”. Penerjemah/penerbit menjelaskan ”lira” sebagai ”sebutan untuk mata uang, satuan mata uang Italia”.

Nah, saya rasa tidak ada relevansinya. Apalagi pada masa itu Italia belum terbentuk dan satuan mata uang Lira belum dikenal. Saya rasa lebih tepat jika yang dimaksudkan ”lira” dalam tulisan tersebut adalah alat musik petik semacam kecapi.

Kekurangan lain dari buku ini adalah salah cetakan. Buku yang saya pegang memiliki halaman kosong di lembar 227 dan 238. Polos tanpa ada tulisan. Ini cukup menganggu dan sebagai pembaca jadi menebak-nebak cerita yang ada di bagian hilang itu, melalui lanjutan halaman berikutnya. Duh, kalau sudah 6 tahun berlalu, apakah saya masih bisa menghubungi penerbit untuk minta ganti buku?

Minggu, 24 Agustus 2008

Citizen Brand



10 Perintah untuk Mentransformasikan Merek dalam Demokrasi Konsumen

Penulis : Marc Gobé
Penerbit : Penerbit Erlangga
Terbit : 2001
Tebal :298 halaman + xiii


Era teknologi informasi (TI) yang mendorong derasnya arus informasi, membuat orang dengan gampang mencari tahu seputar produk atau jasa yang mereka butuhkan. Tinggal mengakses internet dan mengaktifkan situs pencarian. Selain itu, konsumen semakin kritis karena semakin variasinya pilihan produk.

Oleh karenanya, produsen perlu menyadari bahwa konsumen bukan lagi sekadar mendapat fungsi dari sebuah produk/jasa. Lebih dari kebutuhan akan fungsi suatu barang, mereka (konsumen) perlu ditempatkan sebagai masyarakat yang tertarik untuk membeli pengalaman emosional.

Maka timbullah kebutuhan penciptaan merek yang juga menyentuh sisi emosi konsumen. Marc Gobé, pendiri, Presiden, CEO dan Executive Creative Director Desgrippes Gobé Group, perusahaan pencipta citra merek, menggagas ide ini dengan istilah Emotional Branding.

Emotional Branding ini dibahas Gobé dalam satu buku. Dan meneruskan konsep ini, Gobé merilis ”Citizen Brand” dimana Ia memaparkan dalam dunia emotional branding, konsumen yang demokratis, maka merek suatu produk/jasa menjelma dalam citizen brand. Ketika bermain pada citizen brand, maka produsen memasukkan identitas emosional (emotional identity = E.I.). Beberapa contoh merek yang telah berhasil membangun EI ini adalah Sony untuk ”inovasi” , atau Apple yang menyimbolkan ”desain dan aksesbilitas”. Merek-merek itu sudah menerapkan konsep citizen brand dan telah berhasil memasukkan bahwa produknya tidak hanya diperlukan karena fungsionalitas.

Merek atau perusahaan juga dituntut mengambil peran nyata dalam dunia modern. Bagaimana serangan 9/11 menarik simpati dunia. Termasuk pula gerak cepat perusahaan untuk turun langsung meringankan kejadian yang dianggap sebagai salah bentuk duka di abad-21. Contohnya, perusahaan asuransi Allstate menghabiskan sejumlah uang untuk membayar iklan yang memberikan jaminan kepada klien bahwa klaim mereka akan dipenuhi secepatnya, meminta orang-orang tanpa ragu untuk mengontak mereka, serta menyiapkan meja informasi khusus. Ini salah satu bukti nyata, bahwa perusahaan turut berperan dalam menciptakan dunia yang lebih baik.

Avon, perusahaan kosmetik dengan sistem MLM, memiliki kampanye jalan kaki di seluruh dunia untuk mendukung upaya menyembuhkan kanker payudara. Para perempuan tentu merasa bahwa kosmetik yang mereka beli tidak cuma ’menarik’ uang mereka, namun peduli terhadap mereka.

The Body Shop tidak mempraktekkan filantropi, melainkan terlibat aktif, dari perspektif bisnis, untuk membuat dunia yang lebih baik. Brand asal Inggris yang terkenal sebagai aktivis anti melibatkan binatang dalam percobaan laboratorium untuk pembuatan produk, serta membeli langsung dari pabrik-pabrik kecil dan pengrajin sebagai kebalikan dari membeli secara tidak langsung melalui pabrikasi massal.

Meskipun konsumen senang dengan kepedulian mereknya terhadap perbaikan masyarakat dan dunia, konsumen lebih menyukai aktivitas yang sejalan dengan bisnis inti perusahaan. Dalam suatu jajak pendapat menghasilkan opini bahwa masyarakat senang jika perusahaan peduli terhadap kegiatan berkaitan dengan pendidikan publik, kriminalitas dan lingkungan. Namun, konsumen saat ini yang cerdas, khususnya generasi Y yang kini memasuki usia produktif kerja dan menghasilkan uang, juga semakin kritis untuk ”mencium” upaya-upaya pemolesan. Kondisi ini, seperti dicontohkan Gobe, rawan terjadi terhadap kegiatan yang disponsori oleh rokok yang bisa saja disalah artikan sebagai upaya ’cuci tangan’ atau upaya membersihkan diri dari isu kesehatan yang menyudutkan perusahaan tembakau.

Nah! Gobe dalam buku Citizen Brand ini mengemukakan ” 10 Perintah untuk Mentransformasikan Merek dalam Demokrasi Konsumen” yaitu :

Perintah 1 : Berevolusilah dari konsumen ke masyarakat (fokus bab tentang tren konsumen/demografi)

Perintah 2 : Berevolusilah dari kejujuran ke kepercayaan (fokus bab : cause marketing)

Perintah 3 : Berevolusilah dari produk ke pengalaman (fokus bab : ritel/lingkungan merek)
Perintah 4 : Berevolusilah dari kualitas ke preferensi (fokus bab : pengembangan produk)

Perintah 5 : Berevolusilah dari kemasyhuran ke aspirasi (fokus bab : periklanan)

Perintah 6 : Berevolusilah dari identitas ke kepribadian (fokus bab : identitas perusahaan)

Perintah 7 : Berevolusilah dari fungsi ke perasaan (fokus bab : desain sensorik)

Perintah 8 : Berevolusilah dari ubikuitas ke eksistensi (fokus bab : inisiatif kehadiran merek)

Perintah 9 : Berevolusilah dari komunikasi ke dialog (fokus bab : internet..) Dalam bab ini, Gobe menyarankan perusahaan untuk memanfaatkan internet sebagai salah satu media ruang iklan.

Perintah 10 : Berevolusilah dari pelayanan ke hubungan (fokus bab : layanan konsumen)

Yang harus diingat, bahwa penciptaan emotional branding tidak hanya upaya penciptaan citra keluar. Melainkan, bahwa semua ini bermula dari perusahaan itu sendiri.

Seperti dikemukakan oleh Howard Schultz, CEO Starbucks dan seorang inovator dalam emotional branding, mengatakan, ”Merek harus dimulai dari budaya perusahaan dan ditularkan secara alamiah kepada pelanggan.... jika kita ingin mendapatkan kepercayaan dari pelanggan, maka pertama-tama kita harus mendapat kepercayaan dari karyawan kita sendiri.” (Halaman 61)

Ucapan Schultz ini direalisasikan dalam penawaran hak untuk membeli saham dan tunjangan kesehatan kepada para karyawan paruh waktunya.

Sementara Nucor, perusahaan baja, memberikan beasiswa untuk pendidikan di perguruan tinggi senilai US$2500 setiap tahun untuk setiap anak karyawannya, dan tidak pernah mem-PHK karyawan di masa resesi. Hanya mengurangi jam kerja, dan mengurangi perjalanan. Nucor pun menginspirasikan diri sebagai perusahaan yang menghargai pekerjanya dengan mencantumkan daftar 7.500 karyawannya dalam laporan tahunannya. Gagasannya : perusahaan adalah sebuah organisme hidup, tersusun dari dan sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang bekerja di dalamnya lebih dari yang kita sadari (halaman 63).

Dalam membaca buku ini saya tidak menerapkan konsep scheming. Praktisnya, membaca buku non fiksi adalah pertama mencek ”Daftar Isi” untuk mengetahui pembahasan buku. Melalui cara ini, pembaca tahu apa yang paling dibutuhkan, dan bacalah yang memang menarik/penting. Akan tetapi, saya membaca buku ini dari awal. Dan pada permulaan saya tertatih-tatih untuk membaca buku ini dari halaman mula.

Tulisan memiliki ukuran font yang kecil dan rapat antar baris. Selain itu, terjemahan yang kadang bikin saya berulang kali membaca untuk mencerna lebih takzim. Hanya saja, begitu memasuki ”10 Perintah Gobe” yang diuraikan dalam bab terpisah, paparan berlangsung menarik. Dalam setiap bab juga dilengkapi dengan contoh iklan/studi kasus. Secara keseluruhan, buku ini menyajikan ulasan yang cukup menarik bagi Anda yang tertarik atau terjun di dunia marketing, advertising dan sebagainya.