Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 April 2010

Detektif Conan ke-56

Penulis : Aoyama Gosho
Penerbit : PT Elex Media Komputindo – Jakarta (Cetakan I : 2010)


Ngakunya sudah jenuh, tapi ternyata rasa penasaran lebih besar, dan terlanjur gandrung mengikuti kisah Detektif Conan.

Sejak awal April 2010, Anda sudah bisa menemukan komik Detektif Conan serial No. 56 di toko buku dan kios majalah.

Cerita pertama tentang memecahkan kasus ruang tertutup (lagi). Jika rutin mengikuti petualangan bocah bernama Conan Edogawa, pembaca menemukan istilah ‘kasus ruang tertutup’, yaitu modus pembunuhan dimana korban ditemukan di dalam ruangan tertutup misalkan di kamar tidur tanpa ada jejak dari pembunuh, kamar dan jendela terkunci sehingga seolah tak mungkin ada seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut. Sehingga ketika korban ditemukan pertama kali, seolah terlihat mati bunuh diri, atau meninggal secara wajar.

Saya kemukakan kata “lagi” karena jika rajin mengikuti serial ini, pembaca berkali-kali pula menemukan kasus semacam ini. Hanya beda trik dan benda yang dipergunakan untuk membantu pelaku menyelesaikan pekerjaannya.

Kali ini korban bernama Masataka Moroguchi, penulis novel misteri berusia 52 tahun. Dari awal cerita sudah ditampakkan tabiat Moroguchi yang tak simpatik sehingga sudah pasti mengundang musuh sakit hati.

Rencananya, bakal berlangsung dialog antara Moroguchi dengan Detektif Kogoro Mouri yang diliput oleh Kakuji Dejima (penulis), Wataru Tarumi (juru kamera) dan Harue Anabuki (redaksi majalah). Kogoro Mouri adalah ayah Ran dimana di rumahnya Conan numpang tinggal.

Ternyata besok paginya Moroguchi ditemukan telah meninggal di dalam kamar tidurnya yang terkunci. Ketiga tersangka masing-masing punya peralatan kerja andalan yang bisa menjadi senjata pembunuh. Sebuah cerita menarik sebagai pembuka komik ini secara keseluruhan. Selanjutnya adalah pemecahan kasus melibatkan Detektif Cilik, yang beranggotakan Conan dan teman-teman satu sekolahnya.

Cerita terakhir adalah bagian dari memecahkan masa lalu murid pindahan teman Ran dan Sonoko, Eisuke Hondo, yang dalam beberapa seri sebelumnya terlihat samar. Hingga menutup bacaan, tetap menggantung, dan tetap tidak menarik. Karena secara pribadi, menurut saya, kehadiran Eisuke dari awal terlalu dipaksakan :-)

Minggu, 22 November 2009

Detektif Conan No. 55


Penulis : Aoyama Gosho
Penerbit : PT Elex Media Komputindo – Jakarta (Cetakan I : 2009)

Anda yang penggemar kisah detektif Conan Edogawa, sudah bisa mendapatkan serial terbarunya, yaitu Seri ke-55. Bagi pembaca jilid sebelumnya, kehadiran serial ke-55 tentu memecahkan rasa penasaran karena di komik ini memuat bagian akhir dari kisah Sekolah Detektif.

Usai memecahkan kasus di sebuah kuil, Heiji membawa Conan ke pulau tak berpenghuni sebagai undangan Sekolah Detektif yang diadakan oleh Nichiuri TV. Ternyata undangan itu fiktif -direkayasa oleh seseorang yang entah siapa- dan pada malam hari seorang detektif SMA asal Utara, Tokitsu, tewas di dalam ruang tertutup.

Conan dan Heiji lalu berupaya memecahkan bagaimana dan siapa pelaku pembunuhan, yang ternyata berkaitan dengan kasus yang terjadi di rumah tempat mereka diami beberapa tahun sebelumnya. Nama kasus ini, pembunuhan di ruang tertutup di rumah Lavender.

Masih ada 3 kisah lainnya. Masing-masing melibatkan Kelompok Detektif Cilik, dan pada cerita terakhir tentang Goro, kucing kesayangan Eri Kisaki.

Secara keseluruhan cerita yang ada di komik kali ini tidak terlalu menarik dan kurang ‘menantang’.

Rabu, 27 Mei 2009

Detektif Conan No. 53


Oleh : Aoyama Gosho
Penerbit : PT ELex Media Komputindo (Mei, 2009)


Detektif SMU, Shinichi Kudo masih menjelma sebagai bocah cilik bernama Conan Edogawa, dalam seri ke-53, bertemu dengan rival utama Kaito Kid.

Pelukis Takeyori Oikawa mendapat surat ancaman tertanda dari Kaito Kid yang mengatakan bakal mencuri Mountain Air, karya terakhir dari 4 lukisan karya pelukis terkemuka itu.

Oikawa memanggil Detektif Kogoro –yang tentu saja datang bersama Conan dan Ran- untuk menghindari pencurian. Namun, yang terjadi kasus pembunuhan dimana korban adalah bapak mertua Oikawa.

Benarkah Kaito Kid si jago sulap terlibat pembunuhan? Pembaca sepanjang cerita sudah bisa menebak siapa pelaku sesungguhnya. Cuma cara pelaku membunuh korban yang membuat penasaran. Meski bagi pembaca setia Detektif Conan rasanya bakal menemukan modus dan gaya yang nyaris serupa di edisi-edisi sebelumnya.

Kasus berikutnya sebuah teka-teki sederhana dari Ibu Guru kelas 1-B, bertujuan mengakrabkan seluruh murid.

Dan masih ada 2 kasus pembunuhan lagi yang harus dipecahkan oleh Conan bersama Detektif Kogoro. Kasus terakhir menggantung pembaca dengan sebuah kasus pembunuhan yang membawa Conan kilas balik pada kejadian bersama reporter berita Rena Mizunashi dan Organisasi Hitam, musuh bebuyutan yang menyebabkan Shinichi terperangkap dalam badan berusia 7 tahun.

Dengan petualangan yang mencapai seri ke-53, masih sabarkah pembaca menanti Conan selesai mengejar Organisasi Hitam dan mengembalikan diri ke bentuk semula?

Jumat, 02 Januari 2009

Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung

Oleh : Joko Pinurbo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama (2007)


Bagi penggemar puisi, buku Antologi atau Kumpulan Puisi menjadi bentuk mudah untuk melahap karya seorang penyair dalam satu kemasan. Termasuk jika ingin mencoba membaca, mengenal termasuk meresapi gaya seorang penyair terkenal dalam satu buku yang sudah merangkum karya–karya terbaik/terpilih dari seorang penyair.

Salah satu buku kategori ini adalah Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung. Buku ini merupakan rangkuman 3 kumpulan puisi Joko Pinurbo : Celana (1986-1998), Di Bawah Kibaran Sarung (1999-2000), dan Pacarkecilku (2001-2002).

Jika sebelumnya diterbitkan oleh Yayasan Indonesiatera, Magelang, maka dalam format 1 buku ini hadir melalui Gramedia Pustaka Utama. JokPin –begitu pria asal Pelabuhan Ratu itu kerap disebut- mengatakan terdapat perbedaan materi dalam sajak yang tertuang dalam bagian Celana dan Sarung.

Buku setebal 219 halaman ini, terbagi atas 3 bagian besar, sesuai tahun penerbitan buku kumpulan puisi. Secara gradual pula, pembaca bisa merasakan proses pertumbuhan sang penyair kelahiran Sukabumi 11 Mei 1962 ini dalam mengolah puisinya yang cendrung berbentuk prosa lirik.

Ia yang gandrung memakai kata ’kuburan’, ’celana’, ’andong’, namun mengolah kata-kata itu lebih dari sekadar benda harfiah. Kata tersebut tampil berulang kali menunjukkan keahliannya dalam mengeksplorasi kata dan bentuk. Selain itu, puisinya kadang tampil jenaka, penuh humor, lalu menukik –membuat pembaca terhenyak- pada bagian akhir.

Dalam karyanya, Jokpin bisa menangkap hal-hal kecil seperti dalam ”Tukang Cukur”, ”Di Salon Kecantikan” atau ”Tetangga”. Dalam aktivitas potong rambut (Tukang Cukur), JokPin menohok kesadaran betapa berkuasanya sang tukang cukur. Siapapun, meski ia raja atau diktator sekalipun takluk kepada sang tukang cukur rambutnya kan?!

Simak pula kalimatnya yang silahkan Anda tersenyum simpul ataupun kecut. Seperti ”Topeng Bayi untuk Zela” (halaman 114) atau ....”biasanya tetangga lebih cermat mengamati keadaan rumah kita. Siapa tahu ia juga bisa menyumbangkan gagasan cemerlang tentang cara batuk yang sopan supaya tidak mengganggu tetangga yang sedang tidur atau makan.” (Halaman 125).

Atau perhatiannya pada masalah sosial dalam ”Senandung Becak” dan ”Malam Pembredelan” yang membuat kita menerka inikah sentilan Jokpin untuk represi terhadap media.

Pembaca juga diajak terhanyut dalam lamunan romantisme. Misalkan ”Bulu Matamu : Padang Ilalang” :

Bulu matamu : padang ilalang
Di tengahnya : sebuah sendang.

Kata sebuah dongeng, dulu ada seorang musafir
Datang bertapa untuk membuktikan apakah benar
Wajah bulan bisa disentuh lewat dasar sendang.

Ia tak percaya, maka ia menyelam,
Tubuhnya tenggelam dan hilang di arus mahadalam.
Arwahnya menjelma menjadi pusaran air berwarna hitam.

Bulu matamu : padang ilalang.



Jokpin sendiri adalah salah satu nama beken dalam dunia puisi. penerima berbagai penghargaan : Sastra Khatulistiwa untuk antologi puisi Kekasihku yang diterbitkan pada 2004 (2005) dan Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001. Bersama buku ini, silahkan tenggelam menikmati puisi Jokpin.

Senin, 27 Oktober 2008

Dilbert and the Way of the Weasel

Penulis: Scott Adams
Tebal: 350 halaman
Penerbit: Boxtree (2003)

“To err is human. To cover it up is weasel.” (Scott Adams)

Saya suka sekali komik strip Dilbert karya Scott Adams. Menurut saya, lewat komik itu, Adams bisa menyampaikan analisanya terhadap dunia kerja dan kantoran dengan sangat baik. Menghibur, sekaligus membuat orang berpikir.

Dalam buku Dilbert and the Way of the Weasel, kita bisa mempelajari banyak gelagat “musang” di dunia kerja. “Musang-musang” itu bisa jadi atasan, bawahan, atau rekan kerja kita.

Lewat buku ini, Adams mengajak kita untuk mempelajari teknik musang untuk menghindari pekerjaan, kelihatan lebih baik di depan rekan kerja (meskipun sebenarnya kinerja kita tidak lebih baik), menyembunyikan ketidakmampuan kita dalam bekerja, dan melatih orang untuk jadi robot yang bisa kita kendalikan dengan remote control. Haha, keren kan?

Ketololan-ketololan dalam praktik manajemen dipaparkan oleh Adams dalam bukunya ini. Berikut contoh percakapan di ruang rapat dalam rupa komik strip, di buku ini.

CEO: Profits are down. Our senior management blames the weak economy.
Dilbert: So they're saying that profit went up because of great management and down because of a weak economy?
CEO: These meetings will go faster if you stop putting things in context.
Dilbert: Sorry...

Buku ini pas untuk para karyawan yang sering merasa dimanfaatkan oleh rekan, atasan, atau perusahaan tempatnya bekerja. Semua teknik musang dibahas dalam buku ini. Lucu, pedas, dan cerdas.

Gambar diambil dari www.bookreporter.com

Chicken with Plums

Penulis: Marjane Satrapi
Tebal: 88 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2008)

Satu lagi novel grafis karya Marjane Satrapi diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, setelah “Embroideries” alias “Bordir”. Judulnya “Chicken with Plums”. Saya termasuk penggemar Marjane. Menurut saya, karya-karyanya sederhana, berani, humoris, dan menyentuh. Satu karya fenomenal Marjane, “Persepolis”, bahkan sudah difilmkan dalam format animasi.

Dalam Chicken with Plums, Marjane berkisah tentang kehidupan tragis paman dari ibu Marjane, Nasser Ali Khan. Kisah ini bersetting di Teheran, Iran, tahun 1958. Nasser Ali adalah seorang musisi tar terbaik di Iran, yang mendedikasikan hidupnya untuk musik dan cinta.

Dalam hal percintaan, Nasser Ali bisa dibilang kurang beruntung. Ayah dari Irane, perempuan yang dicintainya, menolak lamaran Nasser Ali untuk jadi suami anaknya. Alasannya, bagaimana mungkin seorang musisi bisa menghidupi anaknya?

Nasser Ali patah hati, dan akhirnya menikahi Nahid. Nahid ini sudah jatuh cinta dengan Nasser sejak ia berusia 8 tahun. Saat itu Nasser berusia 15 tahun. Adalah ambisi Nahid untuk menikahi Nasser Ali. Sayangnya, rumah tangga mereka, yang dikarunia 4 orang anak, ternyata tak berjalan mulus.

Hidup Nasser Ali makin nelangsa sejak tar kesayangannya rusak, dipatahkan oleh Nahid yang merasa kesal karena suaminya hanya peduli dengan musik dan enggan membantunya mengurus anak dan rumah tangga. Tidak ada tar yang bisa menggantikan tar kesayangan Nasser Ali. Hal ini membuatnya merasa tak berguna.

Di satu frame, ditampilkan pertemuan tak sengaja antara Nasser Ali dan Irane. Sayangnya, Irane mengaku tak ingat pada Nasser Ali. Padahal, perempuan inilah yang selalu jadi sumber inspirasi Nasser Ali dalam bermusik. Sigh...

Nasser Ali memutuskan untuk mati. Sebelum mati, dia mengurung diri di kamarnya selama 8 hari. Nah, 8 hari ini lah yang diceritakan oleh Marjane―tentang pikiran-pikiran dan beragam peristiwa yang berkelebat dalam benak Nasser Ali, sebelum maut menjemputnya. Oleh Marjane, kisah sedih ini dibawakan secara humoris.

Oiya, harga buku 88 halaman ini lumayan mahal, Rp45.000. Saya rasa, itu karena kualitas kertas yang dipakainya, bagus.

Gambar diambil dari www.madisonpubliclibrary.org

Tahun 69

Penulis: Ryu Murakami
Tebal: 284 halaman
Penerbit: TransMedia Pustaka

“Aku ini sebenarnya tidak terlalu suka bekerja. Jadi, aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dan kemudian setelah itu bersenang-senang.” (Ryu Murakami)

Membaca pernyataan itu di buku ini, saya lantas pengin tahu, seperti apa sih novel buatan seorang Ryu Murakami. Hihi, habis prinsip kerjanya kurang lebih sama seperti saya. Bedanya, saya masih sering tergoda untuk senang-senang dulu, baru kerja kemudian. Ya, selain itu, saya juga tertarik dengan gambar kaver bukunya. Ternyata, memang “Tahun 69” menyenangkan untuk dibaca.

Tahun 69 berkisah tentang pengalaman hidup Ryu Murakami semasa ia SMA. Tokoh Kensuke Yazaki alias Kensuke adalah bentuk personifikasi Ryu sendiri.

Bersama sama dua kawan baiknya, Adama dan Iwase, Kensuke memimpin pasukan anak pemberontak untuk membarikade sekolah mereka, SMA Kita. Alasan Kensuke sama sekali bukan berlatar politik, masalah yang peka di masa itu. Dia memimpin barikade SMA Kita karena dia naksir cewek paling cantik di sekolahnya, Kazuko Matsui alias si Lady Jane, yang menurutnya suka dengan anak laki-laki “pemberontak”.

Ketertarikan Kensuke utamanya pada musik jazz dan film. Setelah sukses membarikade sekolah dan dihukum skors selama 119 hari, dia merancang pertunjukan musik rock, film indie, dan drama yang dinamainya “Morning Erection Festival”.

Singkat kata, Tahun 69 berkisah tentang masa baby boomer, di mana kaum muda punya mimpi untuk mengubah dunia. Oleh Ryu, masa mudanya ini dikisahkan dalam tutur bahasa santai dan penuh kelucuan. Aseli, lucu banget! Buku ini sudah dilayar-kacakan dengan judul yang sama, 69.

Gambar diambil dari www.bukukita.com

Senin, 26 Mei 2008

Bertukar Kehidupan

The Stolen Child

Pengarang : Keith Donohue
Penerbit : Dastan Books, 2007 (Cetakan 1)
Jumlah halaman : 580 halaman

Lupakan dongeng indah Peter Pan, yang menceritakan anak yang tidak pernah besar, dan selalu hura-hura. Ini kisah hobgoblin, peri kecil yang suka menculik dan bertukar tempat dengan anak-anak manusia. Si hobgoblin berubah menjadi anak manusia, sementara anak yang diculik berubah menjadi hobgoblin dan terperangkap dalam kondisi anak kecil, sampai ada anak manusia yang ia culik dan bertukar tempat lagi.

Henry Day menjadi korban penculikan para hobgoblin saat berusia 7 tahun. Anak lelaki yang tinggal di kota kecil dekat Chicago, berubah menjadi Aniday. Sementara Gustav, si hobgoblin yang bertukar tempat dengan Henry, menjalani kehidupan sebagai Henry.

Henry sebagai Aniday perlahan mengingat kembali momen-momen masa lalu. Meski hadir sepenggal-sepenggal, dan berusaha menyusun ‘serpihan’ itu. Tentu menjadi rasa sakit ketika dia sadar bahwa hidup yang ia alami sekarang bukanlah kemauan dia sendiri.

Begitu pula dengan Gustav yang menjadi sosok Henry Day, ternyata memiliki memori lain dan seolah mengalami de ja vu. Ia ingin mencari tahu kehidupan masa lalu sebelum ia diculik menjadi hobgoblin.

Cerita fiksi ini berakar dari Eropa pada abad pertengahan. Para orang tua yang melahirkan anak yang sakit-sakitan –sebagai bentuk keputus asaan, penolakan atau upaya mencari pembenaran- membuat keputusan secara sadar untuk ‘menggolongkan kembali’ anak mereka sebagai sesuatu yang bukan manusia. Mereka dapat menyatakan bahwa para setan atau goblin telah datang di tengah malam dan mencuri anak mereka yang asli lalu menukarnya dengan keturunan setan yang sakit-sakitan, bentuknya tidak proporsional, atau pincang. Istilah ini dikenal dengan sebutan ‘peri anak-anak’ atau Changeling di Inggris, ‘enfants changés’ di Prancis, atau wechselbalgen di Jerman.

Kisah ini menjadi mitos dan cerita rakyat yang berlanjut sampai abad ke-19 di Jerman, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya, dan di bawa para imigran ke Amerika. Pencarian Gustav akan jati diri sebenarnya atau siapa dia di masa lalu, menuntun dirinya ke sejarah migrasi bangsa Eropa ke Amerika.

Alur cerita terbagi atas dua karakter –Aniday dan Gustav- dalam menjalankan kehidupan dalam bentuk tubuh barunya. Ketika satu bab menceritakan bagaimana Henry menjalani kehidupannya yang terperangkap dalam tubuh anak kecil. Secara fisik tetap anak, namun jiwa terus tumbuh dewasa. Ada kesedihan di sana. Ketika dia memberontak terhadap hidup yang bukan kemauannya. Hingga akhirnya ia pasrah, menjalani dan (mencoba) menikmati.

Sementara berpindah ke bab berikutnya, kita mengikuti perkembangan karakter Henry Day baru alias Gustav yang bukan berarti penuh kesenangan ’ketika masa penantian dalam tubuh cebol’ berakhir.

“Semua seperti kita semua….. Pada titik tertentu, kau harus meninggalkan masa lalu, anakku. Terbukalah untuk kehidupan yang akan datang,” kata yang diucapkan Eileen Blake.

Membuat kita berdamai dengan masa lalu, bahwa kadang ada kenangan yang sebaiknya tidak perlu menjadi titik mati dan membuat kita stagnan, membuat kita lama-lama berkubang di dalamnya.

Perpindahan cerita dari satu karakter ke karakter terasa dinamis. Pembaca terhanyut untuk mengetahui perubahan dan perkembangan Aniday dan Gustav. Kekurangan dalam buku ini adalah Catatan Kaki (footnote), yang berada terpisah di halaman belakang, membuat pembaca cape untuk bolak balik membuka lembaran kertas. Terasa lebih mudah jika Catatan Kaki diletakkan di bagian bawah di halaman yang sama dengan kata yang hendak diberi penjelasan.

Akan tetapi, mungkin hal ini disiasati penerbit karena cukup banyak kata yang harus diberi penjelasan. Total ada 14 keterangan.

Senin, 03 Maret 2008

“Alasan Berpikir Positif”


Judul : The Secret (Rahasia)
Penulis : Rhonda Byrne
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2007


Buku (yang juga ada dalam versi DVD) ini memberi inspirasi kepada pembacanya untuk optimistis. Di dalam buku ini, penulis Rhonda Byrne menguraikan korelasi antara pemikiran positif berbuah hasil positif.

“Pikiran-pikiran Anda adalah benih, dan panenan yang akan Anda petik akan bergantung pada benih yang Anda tanam” (halaman 19).

Keadaan sekarang merupakan hasil dari benih yang kita tanam di masa lalu. Hal ini saya buktikan dengan mengaitkan salah satu contoh dalam kehidupan diri. Waktu kecil saya pernah berkhayal menjadi seperti Tintin. Menjadi wartawan seperti tokoh komik ciptaan Herge, rasanya asyik banget bisa berpetualang ke berbagai negara. Mungkin itu pula yang menyebabkan langkah saya menjadi wartawan. Meski sejauh ini belum lintas negara, namun saya saat ini sudah cukup puas pernah ke berbagai pelosok daerah di Indonesia. Saya pun kini menekuni pekerjaan yang pernah saya inginkan di institusi yang pernah saya impikan.

Dalam buku ini, saya memperoleh penjelasan kenapa hal ini bisa berkorelasi.
Ketika kamu ’memutuskan’, maka alam bawah sadar menuntun kita mewujudkan mimpi tersebut. Hanya masalah waktu yang tepat untuk mencapainya.

Dan oleh karenanya, hati-hati pula dengan ’pikiran’ kamu. Ketika kamu berpikir negatif, maka semakin mengundang hal tak baik (buruk) ke dalam kehidupan kita.

Sebenarnya ide yang dituangkan dalam buku ini memang tidak baru. Bagi penggemar buku pengembangan diri, Anda tentu telah mengenal istilah : berpikir positif, memiliki gambaran besar, dan sebagainya.

Namun, buku ini menggugah karena penulis merangkum kisah pribadinya dengan pemikiran-pemikiran lintas tokoh berkompeten untuk membahasnya. Mulai dari penulis dan fasilitator, ahli feng shui, pebisnis hingga dokter. Sehingga penyampaian satu ide diberikan dari beberapa pakar.

Selain itu, buku ini bisa dibaca berulang kali antara lain ketika kamu merasa not in the good mood, kecewa, bertanya mengapa ’pintu’ itu belum terbuka. Intinya, buku ini menjadi ’pengetuk’ diri atau memberi inspirasi.

Di dalam buku ini artikel terbagi ke dalam mewujudkan keinginan manusia secara garis besar. Yaitu, seputar kondisi fisik dan kesehatan yang prima (termasuk –umumnya perempuan- ingin memiliki berat badan ideal) ; kehidupan sosial; dan finansial yang baik.

Sabtu, 26 Januari 2008

Zahir



Oleh : Paulo Coelho
Penerbit : Gramedia (2006)

Menurut kata-kata seorang bijak Persia : Cinta adalah penyakit yang tak seorang pun ingin bebas darinya. Mereka yang tertular tak ingin sembuh, dan mereka yang menderita tak ingin diobati. (halaman 429)

Tokoh utama dalam novel ini, yang sedari awal tidak disebutkan siapa namanya. Kecuali diposisikan sebagai kata ganti orang pertama tunggal (Aku).

Aku dalam novel ini mau tidak mau membuat pembaca membayangkan Paulo Coelho sendiri sebagai pelaku utama karangan tersebut. Alasannya, karena tokoh utama berprofesi sebagai pengarang buku. Aku yang berprofesi sebagai pengarang buku sukses, suatu hari ditinggalkan istrinya tanpa alasan dan tanpa jejak.

Dalam kondisi tersebut, tokoh utama mengalami fase yang manusiawi. Umumnya orang baru sadar betapa berharganya hal yang ia miliki, justru ketika hal itu sudah hilang dari kehidupannya. Tokoh “Aku” pun demikian. Awalnya ia menjadi manusia bingung. Mencari apa yang salah dari dirinya, apa yang terlewat tak diperhatikan,
hingga akhirnya Ia belajar melupakan dan meneruskan kehidupan.

Namun, dalam fase kehilangan itu, sang istri menjelma menjadi Zahir bagi Aku. Zahir, dalam bahasa Arab berarti terlihat, ada, tak mungkin diabaikan. Pengarang Jorge Luis Borges menjelaskan Zahir adalah seseorang atau sesuatu yang sekali kita mengadakan kontak dengannya atau dengan itu, lambat laun memenuhi seluruh pikiran kita. Sampai kita tidak bisa berpikir tentang hal-hal lain. Keadaan itu bisa merujuk pada kesucian atau kegilaan. Hal ini berasal dari tradisi Islam dan diperkirakan muncul pada sekitar abad ke-18. (Encyclopaedia of the Fantastic (1953)).

Dalam masa kehilangan dan pencarian, si pengarang buku itu menemukan pencerahan dan jati diri yang baru. Ia juga dituntun kejadian-kejadian untuk menemukan sang kekasih hati di saat dan waktu yang tepat. Pada penutupan cerita memang menjadi cerita happy ending. Namun, fase pencarian itu yang menjadi jalinan menarik bagi pembaca.

Berawal dari buku yang paling larisnya “Sang Alkemis”, lalu “Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis”, saya ‘jatuh cinta’ pada Paulo Coelho. Bagi saya, pengarang kelahiran Brasil ini adalah rangkaian kalimat indah dan sarat makna. (Thanks juga kepada penerjemah yang berhasil mengalih bahasakan karangan tanpa menghilangkan pesona).

Dalam karyanya (berdasarkan yang sudah Saya baca) rata-rata mencerminkan pencarian kebahagiaan, arti diri, serta makna hidup bagi tokoh dalam novelnya.

Zahir terasa lebih nge-pop bagi saya dibandingkan karya Coelho yang kubaca sebelumnya. Yah, tapi secara umum, good book. Luangkan waktu, buka bukunya yang lumayan tebal, dan mari terbawa ke Prancis, Portugis, dan Kazakhstan.