Minggu, 07 Februari 2010
Rumah Dara
Pemain : Julie Estelle, Ario Bayu, Sigi Wimala, Shareefa Danish Sutradara : Timo Tjahjanto
Dalam dunia sinema dikenal istilah film-film bergenre Slasher, dimana tokoh antagonis bukan hantu, melainkan manusia yang mengalami gangguan jiwa seperti psikopat.
Sebut saja sebagai contoh adalah Halloween, My Bloody Valentine, Jason, atau Saw. Sudah pasti di film-film seperti ini mandi darah, teriak histeris korban, selain pisau, clurit, kapak hingga gergaji listrik sebagai senjata pembunuh bakal menjadi tontonan.
Tapi untuk film Indonesia, sepertinya genre slasher masih jarang atau bisa dikatakan belum ada.
Oke, alasan saya menonton ini karena penasaran ingin ‘menyaksikan’ film genre terror jiwa dalam citarasa film lokal. Alasan kedua, saya yang berniat marathon nonton dari satu studio ke studio lain ternyata salah lokasi. Niat utama mencari “Sherlock Holmes” yang memang sudah tidak gres lagi di bioskop.
Sudah baca jadwal dan lokasi bioskop, tapi ternyata saya salah membedakan antara Blok M Square vs Blok M Plaza. Kadung berada di depan loket….walaupun sempat bertanya dengan mbak penjaga tiket yang menjelaskan kesalahan saya...akhirnya menonton film berdurasi satu jam lebih ini.
Film Rumah Dara dibuka dengan pasangan suami istri Adjie (Ario Bayu) dan Astrid (Sigi Wimala) dan teman-temannya datang menemui Ladya (Julie Estelle) di tempat kerja.
Hubungan sepasang kakak beradik Adjie dan Ladya tak harmonis sejak kedua orangtua mereka meninggal kecelakaan. Ladya menyalahkan Adjie sebagai penyebab kecelakaan yang dialami oleh orangtua mereka, dan memilih bekerja sebagai pelayan bar ketimbang bergantung pada sang kakak.
Adjie pamit mau berangkat ke Australia untuk bekerja disana. Dan berharap Ladya mau menghentikan permusuhan, kuliah dan malam itu ikut mengantarkan sang kakak ke bandara. Total di dalam mobil berisi 6 orang bersama teman-teman Adjie.
Di tengah jalan, mereka bertemu wanita misterius Maya yang mengaku dirampok dan bingung pulang ke rumah. Maya mengatakan kebetulan rumahnya dilalui dalam perjalanan dari Bandung menuju Jakarta.
Tiba di rumah Maya, mereka berkenalan dengan sang ibu yang bernama Dara (Shareefa Daanish) dan dua kakak lelakinya.
“Rumahnya gaya old school banget,” lebih kurang demikian komentar teman yang diperankan oleh VJ Daniel. Tak hanya rumah bergaya kolonial yang di tengah hutan, perkataan seperti itu memang mewakili gaya keseluruhan keluarga dan rumah Dara. Penampilan ibu berbaju potong pinggang dilapis cardigans dan gelung cepol, saudara lelaki klimis pomade, radio transistor, dan alat pemutar film gaya dulu.
Sebagai ucapan terimakasih telah menolong sang putri, Dara mengajak para tamu untuk makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Makan sambil bersantap anggur dan mengunyah hidangan yang menurut Ladya dan kawan-kawannya belum pernah mereka menyantap rasa daging seperti yang disuguhkan saat itu.
Belum habis makanan disantap, para tamu merasa pusing dan pingsan. Saat mereka tersadar, terjadi hal-hal yang tak mereka bayangkan sebelumnya.
Teror penyekapan, darah berceceran dimana-mana, jagal tubuh manusia, pisau hingga gergaji listrik menjadi sajian di dalam cerita. Sutradara pun tak sungkan untuk menampilkan mata tercolok pensil, jari terpotong dan lengan tersayat.
Dalam satu adegan terjadi kejar-kejaran di hutan hingga salah satu teman Ladya berhasil ditemukan di jalan oleh polisi patroli. Empat orang polisi pun menuju rumah Dara untuk minta konfirmasi. Penampilan polisi sangat main-main. Aneh juga cara sang kepala polisi memperkenalkan diri, “Saya Sherif…” mmm apakah Indonesia mengenal jabatan Sherif dalam kepolisian? Atau maksudnya nama pak polisi itu Sherif?
Lalu seandainya Ladya dan kawan-kawan melihat cincin batu besar yang dikenakan Maya, mereka tentu berpikir ulang untuk menolong, karena mengapa tak sekalian cincin itu dirampok? (tapi cerita ga bakal lanjut dong…..).
Dalam percakapan di meja makan terjadi pula diskusi dalam bahasa Belanda antara ibu Dara bersama anak-anaknya. Seolah memberi nafas inlander, tapi sayangnya tak diberi terjemahan teks dalam bahasa Indonesia. Padahal, pasti penonton yang mampu berbahasa Belanda sangat jarang.
Permusuhan antar kakak beradik yang kemudian mencair karena bahu membahu menyelamatkan diri pun mengingatkan akan sepasang kembar tokoh utama di film House of Wax.
Secara keseluruhan jalan cerita film cukup rapi. Kebingungan penonton mengapa wajah Dara yang terlihat awet muda tanpa kerut, terjawab menjelang akhir film. Kilas balik masa lalu disajikan dalam hitam putih turut mudah dipahami.
Tujuan film ini sebagai genre slasher-thriller yang membuat penonton duduk diam sembari bergidik cukup berhasil. Sehingga saya beri nilai 8 dari total penilaian 10. Jika Anda tak kuat melihat darah yang berceceran dimana-mana atau adegan sadis, film ini tak layak Anda tonton, apalagi bukan untuk menghibur.
Balthasar’s Odyssey – Nama Tuhan yang Keseratus
Penulis : Amin Maalouf Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta (Cetakan II : November 2006)
Halaman : 618 halaman
“TERKUTUKLAH ANGKA-angka itu dan mereka yang mempergunakannya!” (maki Balthasar di halaman 131).
Masih ingat film 2012? Film itu mengisahkan bumi yang hancur akibat peningkatan suhu matahari yang menyebabkan matahari memancarkan neutrinos ke bumi dan menimbulkan pemanasan pada kerak bumi.
Ide skenario film terinspirasi ramalan suku Maya bahwa bumi bakal kiamat pada 2012.
Lalu film The Omen –anak setan dalam wujud manusia dengan tanda di kulit kepalanya tertera “666”.
Angka memang menarik dikutak-katik sebagai pertanda, sebuah bahasa enkripsi, atau kejadian luar biasa. Angka dan tentang ketakutan manusia akan akhir dunia ini yang diolah oleh Amin Maalouf dalam cerita bergenre fiksi “Balthasar’s Odyssey”.
Gaya cerita dituturkan dalam bentuk jurnal (diari) dari sudut pandang Balthasar Embriaco seorang pedagang buku di Gibelet Lebanon. Menjelang tahun 1666 pria keturunan Genoa (Italia) itu melakukan perjalanan mencari buku “Nama Tuhan yang keseratus”.
Pada saat itu beredar kepercayaan bahwa kiamat akan terjadi pada 1666. Tahun kiamat ini dicetuskan dari kepercayaan Yahudi. Di dalam Zohar, kitab para penganut kabalisme, dituliskan bahwa pada tahun 5408 mereka yang terbaring di dalam tanah akan bangkit. Dalam penanggalan Yahudi, tahun tersebut sama dengan tahun 1648 Masehi.
Lalu mengapa peristiwa yang sudah diprediksi pada 1648 justru baru akan terjadi pada 1666? Terjadi jarak selama 18 tahun – sebuah penjumlahan dari angka 6 + 6 + 6.
Dan kiamat bisa dicegah jika saja manusia mengetahui nama Tuhan yang keseratus. Angka ini merujuk dari 99 nama Tuhan yang ada di Al Quran dan memancing pertanyaan di dalam benak orang yang penasaran : adakah nama Tuhan yang keseratus untuk menggenapkan angka itu.
Sehingga banyak yang menaruh harap pemecahannya ada di buku “Nama Tersembunyi yang Tak Terungkap” atau disebut juga “Nama yang Keseratus” karya Mazandarani.
Secara tak sengaja buku itu jatuh ke tangan Balthasar, sebagai pemberian tetangga miskin yang ditolong olehnya. Namun sebelum buku sempat dibaca, utusan Raja Perancis, Chevalier Marmontel melihat serta langsung membelinya dengan harga tinggi dan dibawa berlayar ke Konstantinopel.
Selain atas desakan keponakannya Boumeh, Balthasar merasa bersalah seolah tidak mampu memegang amanat pemberian orang kepadanya. Ia memutuskan membeli kembali buku tersebut dari tangan Chevalier Marmontel.
Akhirnya berangkatlah Balthasar bersama kedua keponakan dan pembantu setianya menyusul sang Chevalier ke Konstantinopel (Istambul). Dalam perjalanan rombongan kecilnya pun mendapat tambahan Marta, anak tukang cukur langganan Balthasar sekaligus cinta terpendam di masa lalu.
Hingga menamatkan buku ini, pembaca bukan lagi penasaran apakah ramalan terbukti, atau penemuan nama Tuhan keseratus yang pada kenyataan memang hingga detik ini tak kita ketahui.
Akan tetapi justru tentang Balthasar yang keluar dari ‘zona nyaman’ di Gibelet. Dalam perjalanannya sering terbersit perasaan bersalah hingga memaki diri mengapa ia menuruti ide anak ingusan Boumeh, lalu meninggalkan tokonya yang sudah terkenal selama empat generasi.
Namun dalam dua tahun perjalanan, dia menemukan banyak hal. Mengalami berbagai peristiwa, mengenal berbagai karakter manusia, aparat pemerintahan yang korup, teman lintas agama, bahkan cinta.
Pelajaran yang bisa dipetik adalah mengumpamakan diri bagai di dalam ‘kepompong’, kita tak tahu bahwa diluar banyak kejadian menarik, bahagia, seru, mengharukan bahkan menyeramkan yang bisa menjadi pengalaman hidup. Dan seperti Balthasar, hidupnya berubah total.
Dalam novel setebal 618 halaman mengambil setting abad pertengahan, ketika kekuasaan kesultanan dan muslim masih berjaya di kawasan Asia barat daya, sementara di Eropa sendiri terpecah antara berbagai aliran Kristen. Dalam buku ini juga banyak dibantu oleh catatan kaki di bagian paling bawah halaman , ini membantu pembaca memahami istilah dan latar sejarah.
Meskipun ada ganjalan pertanyaan mengapa terdapat perbedaan penulisan nama antara sinopsis di bagian belakang buku (Baldassare), judul sekaligus di dalam tulisan (Balthasar) akan tetapi bukan masalah.
Selasa, 22 Desember 2009
Breakfast at Tiffany’s
Pengarang : Truman Capote Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Halaman : 164 halaman
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta – Jakarta (Cetakan I : Februari 2009)
Truman Capote semasa hidupnya adalah seorang wartawan The New York Times, dan pengarang terkemuka, buku novelnya In Cold Blood (1966) yang dibuat berdasarkan kisah nyata sebuah pembunuhan sadis dari sudut pandang si pembunuh, melahirkan gaya jurnalisme sastrawi.
Kisah hidupnya sendiri seperti diangkat dalam film Capote (2005) dan Infamous (2006) sangat menarik. Flamboyan. Tukang pesta yang akrab bergaul dengan kalangan atas Hollywood. Bisa jadi novel "Breakfast at Tiffany’s" yang dibuat pada 1958 ini merupakan pengamatan Capote terhadap orang-orang disekitarnya.
Breakfast at Tiffany’s yang melambungkan nama Capote sebagai pengarang papan atas Amerika, menjadi salah satu novel pop culture yang klasik.
Dalam novel ini Capote memotret kaum sociopathic social climber, mimpi hidup enak di kota besar dan berupaya mencapainya dengan berbagai cara. Tokoh utamanya adalah Holly Golightly, seorang artis muda yang ingin hidup mewah di New York. Ia pun dikenal di kalangan atas sebagai ratu pesta, gadis panggilan sekaligus kaki tangan Mafia.
Holly gemar memandangi jendela etalase toko perhiasan Tiffany’s di Manhattan sambil menyantap croissant sebagai sarapan pagi. Sebenarnya masa lalu Holly kelam. Ia lahir dari kalangan miskin, menikah di usia 14 tahun, kabur dari suami, dan pindah dari Hollywood ke New York.
Sosok Holly diceritakan dari sudut pandang Paul Varjak –sebagai ”Aku”- tetangga apartemen sekaligus pria yang mengagumi Holly.
Cerita novel ini kemudian diangkat ke layar lebar pada 1961. Hanya saja, jika dalam akhir cerita novel menggantung dengan menghilangnya Holly Golightly, di film menjadi happy ending khas Hollywood. Mungkin ini menghilangkan esensi cerita Capote sebenarnya. Yaitu ”....Kau bisa mencintai seseorang tanpa menjadikannya seperti itu. Kau tetap menjadikannya orang asing, Orang asing sekaligus teman.” (Halaman 17) . Ini yang mendasari ikatan kuat antara Golighty dan sosok ”Aku” yang sama-sama orang asing bagi satu sama lain.
Filmnya sendiri menjadi salah satu film klasik, Simak penampilan Audrey Hepburn –pemeran Holly Golightly- yang menjadi gaya abadi hingga kini : little black dress, kalung mutiara, kaca mata super besar, dan mantel panjang.
Saat membuka lembaran-lembaran awal mungkin pembaca merasa jenuh dan monoton. Namun simak saja terus buku yang cukup tipis (hanya 164 halaman, sudah termasuk pengantar biografi pengarang, serta catatan Breakfast at Tiffany’s dalam lagu dan film) dan Anda pasti ingin membacanya sampai habis.
Halaman : 164 halaman
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta – Jakarta (Cetakan I : Februari 2009)
Truman Capote semasa hidupnya adalah seorang wartawan The New York Times, dan pengarang terkemuka, buku novelnya In Cold Blood (1966) yang dibuat berdasarkan kisah nyata sebuah pembunuhan sadis dari sudut pandang si pembunuh, melahirkan gaya jurnalisme sastrawi.
Kisah hidupnya sendiri seperti diangkat dalam film Capote (2005) dan Infamous (2006) sangat menarik. Flamboyan. Tukang pesta yang akrab bergaul dengan kalangan atas Hollywood. Bisa jadi novel "Breakfast at Tiffany’s" yang dibuat pada 1958 ini merupakan pengamatan Capote terhadap orang-orang disekitarnya.
Breakfast at Tiffany’s yang melambungkan nama Capote sebagai pengarang papan atas Amerika, menjadi salah satu novel pop culture yang klasik.
Dalam novel ini Capote memotret kaum sociopathic social climber, mimpi hidup enak di kota besar dan berupaya mencapainya dengan berbagai cara. Tokoh utamanya adalah Holly Golightly, seorang artis muda yang ingin hidup mewah di New York. Ia pun dikenal di kalangan atas sebagai ratu pesta, gadis panggilan sekaligus kaki tangan Mafia.
Holly gemar memandangi jendela etalase toko perhiasan Tiffany’s di Manhattan sambil menyantap croissant sebagai sarapan pagi. Sebenarnya masa lalu Holly kelam. Ia lahir dari kalangan miskin, menikah di usia 14 tahun, kabur dari suami, dan pindah dari Hollywood ke New York.
Sosok Holly diceritakan dari sudut pandang Paul Varjak –sebagai ”Aku”- tetangga apartemen sekaligus pria yang mengagumi Holly.
Cerita novel ini kemudian diangkat ke layar lebar pada 1961. Hanya saja, jika dalam akhir cerita novel menggantung dengan menghilangnya Holly Golightly, di film menjadi happy ending khas Hollywood. Mungkin ini menghilangkan esensi cerita Capote sebenarnya. Yaitu ”....Kau bisa mencintai seseorang tanpa menjadikannya seperti itu. Kau tetap menjadikannya orang asing, Orang asing sekaligus teman.” (Halaman 17) . Ini yang mendasari ikatan kuat antara Golighty dan sosok ”Aku” yang sama-sama orang asing bagi satu sama lain.
Filmnya sendiri menjadi salah satu film klasik, Simak penampilan Audrey Hepburn –pemeran Holly Golightly- yang menjadi gaya abadi hingga kini : little black dress, kalung mutiara, kaca mata super besar, dan mantel panjang.
Saat membuka lembaran-lembaran awal mungkin pembaca merasa jenuh dan monoton. Namun simak saja terus buku yang cukup tipis (hanya 164 halaman, sudah termasuk pengantar biografi pengarang, serta catatan Breakfast at Tiffany’s dalam lagu dan film) dan Anda pasti ingin membacanya sampai habis.
Senin, 21 Desember 2009
Avatar: Ketika Manusia Menjadi Alien
keindahan planet Pandora (sebetulnya Pandora adalah bulan dari planet Polyphemus berjarak 4,5 tahun cahaya dari bumi) divisualkan demikian fantastik dalam film ini beserta para penghuninya. namun bukan itu yang dicari Kolonel Miles Quaritch, melainkan bebatuan yang berharga 20 juta USD sekilo. sifat dasar kemaruk menjadikan 'alien' ini berusaha mengeksploitasi planet Pandora tempat mahluk Na'vi bermukim. sebuah tim Avatar dikirim menyaru sebagai bagian mahluk Na'vi untuk mempelajari lokasi.
seorang prajurit AL berkaki lumpuh bernama Jake Sully ikut serta dalam program ini. dia dibaringkan dalam sebuah kapsul, seketika pikiran dan jiwanya masuk ke dalam Avatar berwujud Na'vi yang berbadan tinggi, kulit kebiruan, bermata bola serta memiliki ekor. di sinilah petualangannya di Pandora dimulai. Jake bertemu Neytiri, anak gadis kepala suku Na'vi dan jatuh cinta padanya. Jake diperhadapkan pilihan dilematis: melanjutkan misi Kolonel Miles Quaritch atau justru melindungi Pandora dari keserakahan manusia yang ingin menguasainya.
gambar-gambar disajikan dengan sangat apik sehingga film berdurasi 2,5jam tidak membosankan, apalagi bila ditonton dalam format film 3 atau 4 dimensi, tentu akan lebih memacu adrenalin. beberapa adegan dalam film ini juga seperti hendak mengingatkan penonton akan kelestarian alam serta beberapa pesan moral. namun beberapa adegan patut menjadi kewaspadaan juga: kebiasaan merokok, adegan kekerasan, serta sensualitas. selebihnya, siapkan makanan ringan serta nikmatilah keindahan gambar alam Pandora yang disajikan dengan efek visual CGI nyaris sempurna.
kalau coba dibanding-bandingkan film Avatar merupakan perpaduan apik dari film Lord of The Rings, Pocahontas dan Star Trek! unsur-unsur ketiganya teramu komplet di dalamnya, ditambah bumbu daya imajinasi tanpa batas, maka lengkaplah ramuan yang disajikan James Cameron setelah film Titanic yang dibesutnya meledak di pasaran.
harap penonton masih dapat membedakan mana dunia nyata dan dunia mimpi setelah menyaksikan Avatar. sebagaimana Jake Sully yang bertanya-tanya: "Everything is backwards now, like out there is the true world and in here is the dream". dunia mimpi seringkali tampak lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.
Avatar menurut saya layak mendapat angka 8,5 dari skor 10.
Selasa, 24 November 2009
X Diary
Penulis: TomaPenerbit: Netcomics
Why did they break up? What was their reason for wanting to stay friends? Could it really be an impaired friendship? Are they alright now? What if one of them meets someone new? Could they easily drop their habits from when they were lovers? Maybe, in fact, they went back into 'lover mode' furtively and steathily? (Toma, X Diary)
What's so special about this book? Alur ceritanya nggak biasa. Gambarnya sederhana, simpel tapi bagus. Ceritanya disajikan dalam bentuk komik strip full color. Setiap strip menggambarkan adegan singkat, tapi runut dengan ceritanya.
Dua tokoh utama dalam X Diary adalah Mingo dan Jerry. Mingo adalah perempuan temperamental berusia 26 tahun yang berprofesi sebagai kartunis. Jerry adalah mantan pacar Mingo, bassist di sebuah rock band. Beda dengan Mingo, Jerry kalem dan easygoing. Meski sudah putus, mereka tetap bersahabat. Sebenarnya, mereka masih punya feeling satu sama lain, tapi gengsi untuk mengakuinya.
Kisah pertemanan dua orang ini menampilkan beberapa karakter lain. Ada Sam, adik perempuan Mingo. Sam adalah musisi yang setia di jalur punk. Dulu dia satu band dengan Jerry, sebelum akhirnya Jerry pindah ke jalur musik rock. Sam belum pernah pacaran. Banyak orang bilang, dia picky. Nggak ada yang tahu bahwa satu-satunya pria yang pernah ditaksir oleh Sam adalah Jerry, mantan pacar kakaknya sendiri.
Karakter lain adalah Jinjin, anak buah Mingo. Karakter Jinjin ini lumayan antik. Dia naif dan percaya kalau cinta sejati bisa digapai dengan usaha superkeras. Di buku ini, Jinjin bakal bertemu dan pergi kencan dengan rekan satu band Jerry yang cantik.
Bagaimana akhir kisah cinta Jerry dan Mingo? Well, pada akhirnya mereka pun nggak nyambung. Tapi, suguhan cerita dan gambar-gambar yang dibuat oleh Toma, si komikus, tetap menghibur hati. Banyak juga adegan yang bikin ketawa. Kalau kesulitan mencari buku ini, teman-teman bisa mampir ke www.netcomics.com untuk membaca versi onlinenya.
Gambar diambil dari sini.
Senin, 23 November 2009
2012
Pemain : John Cusack, Amanda Peet, Chiwetel Ejiofor Sutradara : Rolland Emmerich
Siapkan popcorn dan orange juice dingin, lalu duduk manis di kursi bioskop nan empuk. Lupakan keributan atau himbauan dilarang menonton yang mencuat atas penayangan film ini.
Maka kamu akan menyaksikan satu lagi film tentang bencana dan hari kiamat. Sutradara film ini, Rolland Emmerich, sebelumnya memang menyutradarai film setipe yaitu Independence Day dan The Day After Tomorrow (2004).
Film “2012” terinspirasi dari ramalan Suku Maya bahwa dunia akan hancur pada 2012.
Film dibuka dengan adegan bersetting di India pada 2010, ketika ahli geofisika India menemukan peningkatan suhu matahari yang menyebabkan matahari memancarkan neutrinos ke bumi dan menimbulkan pemanasan pada kerak bumi.
Lempeng bumi bergeser menyebabkan kejadian geologi secara besar-besaran. Gempa bumi, timbul rekahan di berbagai tempat, danau mengering dan muncul gunung berapi baru.
Laporan ini kemudian dibawa ahli geologi Adrian Helmsley (Chiwetel Ejiofor) ke Gedung Putih. Negara-negara maju menyikapi laporan ini dan melakukan operasi rahasia.
Tokoh sentral cerita yaitu penulis Jackson Curtis (diperankan oleh John Cusack) berusaha menyelamatkan istri, Kate (Amanda Peet) dan kedua anaknya untuk menuju satu lokasi yang dikatakan aman dari katastropi.
Jalan cerita pada film begini tentu bisa ditebak. Bagaimana upaya manusia menyelamatkan diri dari bencana besar itu.
Selain itu, terlihat pula pesan betapa hebatnya AS. Mungkin ini berkaitan dengan pesan sponsor salah satu pendukung dana pembuatan film. Jika Anda memperhatikan sepanjang film, silahkan hitung berapa merek mobil asal Negeri Paman Sam yang bersliweran. Chevrolet, Bentley, dan status mobil orang super kaya Amerika limousine.
Ada yang dalam zoom kamera, dan bahkan tersisip pula ucapan si putri kecil Jackson, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia lebih kurang begini, “Ayah, Hummer bagus ya…”
Astaga….plz deh ach!
Hanya saja dari sisi jalinan cerita film ini bisa dikatakan menarik dan lebih ‘dalam’ ketimbang film-film sejenis yang telah beredar sebelumnya. Misalnya jurang antara negara-negara maju dengan negara miskin/berkembang dalam menyikapi ramalan bencana. Atau ketika si kaya bisa ‘membeli’ keselamatan sementara yang ‘ekonomi biasa-biasa’ hanya bisa menerima nasib.
Yang patut diacungi jempol tentu saja efek CGI atau Computer Graphic Interface yang menampilkan adegan menakjubkan. Jembatan ambruk, atau ketika air bah menyapu Tibet yang berada sekitar 4.900 meter di atas permukaan laut.
Di atas segalanya, ramalan tetap ramalan. Yang penting bagaimana kamu mengumpulkan amalan selama ada di dunia, bukan?!
Minggu, 22 November 2009
Detektif Conan No. 55
Penulis : Aoyama Gosho
Penerbit : PT Elex Media Komputindo – Jakarta (Cetakan I : 2009)
Anda yang penggemar kisah detektif Conan Edogawa, sudah bisa mendapatkan serial terbarunya, yaitu Seri ke-55. Bagi pembaca jilid sebelumnya, kehadiran serial ke-55 tentu memecahkan rasa penasaran karena di komik ini memuat bagian akhir dari kisah Sekolah Detektif.
Usai memecahkan kasus di sebuah kuil, Heiji membawa Conan ke pulau tak berpenghuni sebagai undangan Sekolah Detektif yang diadakan oleh Nichiuri TV. Ternyata undangan itu fiktif -direkayasa oleh seseorang yang entah siapa- dan pada malam hari seorang detektif SMA asal Utara, Tokitsu, tewas di dalam ruang tertutup.
Conan dan Heiji lalu berupaya memecahkan bagaimana dan siapa pelaku pembunuhan, yang ternyata berkaitan dengan kasus yang terjadi di rumah tempat mereka diami beberapa tahun sebelumnya. Nama kasus ini, pembunuhan di ruang tertutup di rumah Lavender.
Masih ada 3 kisah lainnya. Masing-masing melibatkan Kelompok Detektif Cilik, dan pada cerita terakhir tentang Goro, kucing kesayangan Eri Kisaki.
Secara keseluruhan cerita yang ada di komik kali ini tidak terlalu menarik dan kurang ‘menantang’.
Penerbit : PT Elex Media Komputindo – Jakarta (Cetakan I : 2009)
Anda yang penggemar kisah detektif Conan Edogawa, sudah bisa mendapatkan serial terbarunya, yaitu Seri ke-55. Bagi pembaca jilid sebelumnya, kehadiran serial ke-55 tentu memecahkan rasa penasaran karena di komik ini memuat bagian akhir dari kisah Sekolah Detektif.
Usai memecahkan kasus di sebuah kuil, Heiji membawa Conan ke pulau tak berpenghuni sebagai undangan Sekolah Detektif yang diadakan oleh Nichiuri TV. Ternyata undangan itu fiktif -direkayasa oleh seseorang yang entah siapa- dan pada malam hari seorang detektif SMA asal Utara, Tokitsu, tewas di dalam ruang tertutup.
Conan dan Heiji lalu berupaya memecahkan bagaimana dan siapa pelaku pembunuhan, yang ternyata berkaitan dengan kasus yang terjadi di rumah tempat mereka diami beberapa tahun sebelumnya. Nama kasus ini, pembunuhan di ruang tertutup di rumah Lavender.
Masih ada 3 kisah lainnya. Masing-masing melibatkan Kelompok Detektif Cilik, dan pada cerita terakhir tentang Goro, kucing kesayangan Eri Kisaki.
Secara keseluruhan cerita yang ada di komik kali ini tidak terlalu menarik dan kurang ‘menantang’.
Langganan:
Postingan (Atom)


