Minggu, 05 April 2009

Tea for Two, Bukan Kisah Cinta Cinderella


Resensi ini dimuat pada Koran Tempo, Minggu, 05 April 2009

Judul: Tea for Two
Pengarang: Clara Ng
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Edisi: I - Februari 2009
Tebal: 312 halaman

"Izinkan," Alan berkata lembut, "aku menjadi bilangan primamu. Bilangan prima yang hanya bisa dibagi dengan bilangan itu sendiri atau dibagi dengan angka satu. Angka satu adalah kamu, satu-satunya dan selalu menjadi nomor satu."

So... sweet! Perempuan mana tak klepek-klepek dibombardir perhatian dalam kalimat puitis seorang pria. Dari percakapan dan pesan pendek di telepon seluler, mengirim selusin mawar putih disertai puisi romantis, hingga ajakan menonton pertunjukan musisi asing.

Apalagi Alan Nashar (Alan) berwajah tampan, hangat, dan mapan secara finansial. Semua ini menjadikan Sassy Karenina (Sassy) yakin menerima lamaran Alan untuk menikah. Ini semua selaras dengan dunia Sassy yang penuh warna cinta.

Sassy adalah perempuan modern, lulusan universitas terkenal, dan memiliki perusahaan mak comblang sekaligus wedding organizer. Tak ada tanggung jawab dan kebahagiaan yang lebih besar bagi Sassy daripada mempertemukan dua orang yang saling tak mengenal, menjodohkan hingga menggiring mereka menuju kehidupan pernikahan.

Perusahaannya berkembang baik, hingga ia bertemu dengan sosok Alan.
Cinta pandangan pertama yang tak bertepuk sebelah tangan. Kisah mereka berlanjut hingga bermuara di pelaminan 8 bulan kemudian. Namun, kisah mereka bukan dongeng masa kecil yang berakhir dengan pernikahan putri dan pangeran yang bahagia selama-lamanya.

Dimulai tepat pada hari kedua bulan madu mereka di Bali, Alan menampar Sassy. Alan cemburu melihat Sassy mengobrol akrab dengan pria bule di kolam renang hotel mereka. Meski kaget, Sassy menerima permintaan maaf dan janji Alan untuk tak mengulanginya.

Namun, Alan semakin merajalela. Ia membatasi hubungan Sassy dengan ketiga sahabatnya, Rose, Carmanita, dan Naya. Ia juga menyuruh Sassy menjual perusahaan hingga mengatur potongan rambut dan penampilan Sassy.

Makian dan siksaan fisik mengisi kehidupan perkawinan Sassy. Mata Alan yang awalnya jenaka menggoda bisa berubah menjadi dingin. Sikap yang semula ramah berubah jadi bermulut tajam. Gaya kontradiksi Alan selalu berlandaskan rasa sayang yang diiyakan Sassy dengan sikap mengalah. Atau lebih tepatnya, Sassy percaya Alan mencintainya. Digabungkan dengan rasa takut kehilangan, dan kehamilan membuat Sassy enggan bercerai.

Namun, rasanya harapan Sassy sia-sia. Kehamilan tak membuat sikap Alan berubah serta berupaya menjadi calon ayah yang baik. Kehadiran Emma, nama putrinya, tak mengubah Alan. Bahkan Alan berani ketahuan berselingkuh dengan temannya.

Intinya penulis ingin menyampaikan bahwa pernikahan tak selalu menjamin kebahagiaan. Justru kadang bisa menjadi tembok derita bernama kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sayangnya, cerita Tea for Two, yang sebelumnya dimuat sebagai cerita bersambung Kompas Oktober 2008-Februari 2009, menyisakan logika mengganggu.

Misalnya, di bagian akhir diceritakan dalam setahun sejak perceraian Sassy kembali menjalankan bisnis mak comblang plus wedding organizer dengan nama perusahaan Tea for Two lagi. Padahal di bagian tengah dikemukakan Sassy--atas saran Alan demi keutuhan rumah tangga--sudah menjual perusahaan tersebut pada pihak lain. Biasanya nama merek dagang atau bendera perusahaan menjadi hak pemilik baru sehingga tak mudah kembali menjalankan usaha dengan nama yang sama.

Lalu kutipan di halaman 310: "Bertiga mereka berjalan menuju mobil Toyota Alphard milik Sassy". Dahsyat betul, Sassy mampu membeli mobil senilai hampir Rp 1,1 miliar dalam setahun setelah bisnis harus kembali ke titik nol, sementara perceraiannya masih terkatung-katung, yang artinya Sassy belum memperoleh harta gono-gini.

Memang bukan masalah benar. Sejumlah pembenaran bisa saja kita pikirkan. Bisa saja keluarga Sassy memang kaya raya atau Sassy amat bekerja keras sehingga mampu membeli mobil mewah atau Sassy mampu menyewa mobil dalam jangka waktu tertentu atas nama perusahaannya.

Tapi yang lebih parah adalah kontradiksi dalam latar belakang keluarga Sassy. Di awal (pada halaman 21), Sassy menyebutkan diri berasal dari keluarga harmonis. Simak saja kalimat ini: "Sebutlah orang tua saya sebagai contoh. Mereka adalah pasangan mesra yang membuat mata saya selalu melirik cemburu kepada kekompakan mereka. Dan setidaknya membuat saya harus bersyukur mempunyai orang tua yang sempurna".

Tapi, di halaman 212, dalam pertengkaran antara Mama dan Sassy di ruang praktek dokter anak, terpapar masa kecil Sassy yang trauma akibat ayahnya meninggalkan keluarganya setelah bertengkar hebat dengan Mama.

Namun, secara keseluruhan, Tea for Two menyajikan jalan cerita renyah dan mengalir. Termasuk kesetiakawanan empat perempuan metropolis lengkap dengan dunia khasnya. Pembaca bisa mengerti terperinci jalan cerita karena pikiran dan kilas balik peristiwa yang dialami Sassy tertulis dalam font Arial, berbeda jenis dengan jalan cerita utama yang tertuang dalam Times New Roman.

Buku ini merupakan karya ke-11 Clara Ng. Tulisan jebolan Ohio State University Jurusan Interpersonal Communication ini banyak membahas soal perempuan, keluarga, dan cinta. Namun, peraih Adikarya Ikapi selama tiga tahun berturut-turut (2006-2008) itu juga menghasilkan cerita anak-anak yang lumayan berkualitas.

Senin, 16 Maret 2009

Slumdog Millionaire: satir kemiskinan

apa bedanya kehidupan dengan tayangan televisi? film Slumdog Millionaire menyajikan potongan-potongan kehidupan seorang Jamal Malik yang seolah dirangkai sebagai gambar puzzle dalam setiap pertanyaan tayangan Who Wants to be a Millionaire.

tengoklah setiap jawaban yang diberikan mengandung kilas balik potongan kisah yang getir. misalnya, Amitabh Bachan idola yang takkan pernah dilupakannya. saat Jamal kecil terkunci di sebuah kakus di atas sungai, ia berusaha keluar untuk dapat menjumpainya. sampai-sampai ia terjun bebas ke dasar kakus. berlumuran tinja, ia mengacungkan foto untuk ditandatangani sang artis idola.

setiap babak pertanyaan, mengantarnya pada babak lain kehidupan. bagaimana ibunya tewas karena kerusuhan agama di India. bagaimana Jamal bersama Salim, kakaknya bertahan hidup di tengah pahitnya kemiskinan. sekelompok bandit yang menyekap anak-anak jalanan dan mempekerjakan mereka sebagai pengemis secara tidak manusiawi. dan Jamal yang jatuh hati pada Latika, gadis jalanan. motivasinya untuk ikut acara Who Wants to be a Millionaire juga tidak lain demi Latika, kekasih hatinya.

film yang dibesut Danny Boyle dan Loveleen Tandan ini diganjar 8 piala Oscar (2009) dan memenangkan penghargaan dari British Independent Film Award (2008). tak kurang film ini juga mendapat kecaman dari negaranya sendiri, India, karena dianggap mengeksploitasi kemiskinan.

film Slumdog memang berbeda aras dengan film-film Bollywood yang menawarkan pembebasan dan mimpi-mimpi indah dunia. ia menampilkan potret kekumuhan dan kerasnya kehidupan kaum marjinal di Tanah Hindustan.

kalimat-kalimat yang diucapkan Jamal cukup membuat sindiran lucu. misalkan, ketika ia siuman dan berada di Agra, Jamal bertanya pada Salim kakaknya: "apakah kita sudah berada di surga?"
Salim menjawab: "engkau belum mati, Jamal..."
Jamal terpesona memandang Taj Mahal di kejauhan dan berkata: "apakah itu sebuah hotel?"
penonton boleh terbahak-bahak pada bagian Agra ini. karena Jamal yang kemudian menjadi pemandu wisatawan asing amatiran, menjelaskan Taj Mahal dengan cara pandangnya sendiri yang tentu sangat berbeda dengan buku panduan. dengan tenangnya, Jamal berkata: "The guide book was written by a bunch of lazy good-for-nothing Indian beggars". halah...

kisah Slumdog sebetulnya diangkat dari novel Q&A karya Vikas Swarup dan telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul "Teka-teki Cinta Sang Pramusaji" (Serambi). begitu film ini meledak, dalam tempo 1,5 bulan terjual 35.000 kopi buku.

menurut saya film ini layak mendapat 8 dari 10 bintang.

Sabtu, 14 Maret 2009

from Australia with love


film Australia berdurasi 2,5 jam cukup membuat ujian kesabaran. apakah penonton akan betah memelototi layar selama itu dan mengurai jalinan kisah yang cukup kompleks? ternyata bisa. film yang dibesut Baz Luhrmann (Moulan Rouge!, Romeo+Juliet) menghadirkan kisah yang mengalir seperti drama panggung dengan latar Australia serta keindahan alamnya.

Nicole Kidman berperan sebagai Lady Sarah Ashley, berangkat dari Inggris ke Australia di tahun 1939 untuk menjumpai suaminya. sang suami punya peternakan Faraway Downs dan mendapat order sebagai pemasok 2000 ekor ternak untuk memenuhi logistik Perang. tragis, suaminya tewas. Fletcher, yang bekerja mengelola peternakan, sebagai tokoh antagonis. dialah sang pembunuh, sekaligus pencuri ternak. ini diceritakan oleh Nullah, seorang bocah aborigin campuran yang tinggal di Faraway Downs.

Fletcher dipecat dan diusir oleh Lady Sarah. kemudian dia bekerja pada Carney, pengusaha ternak terbesar di sana. ketika Lady Sarah dan peternak dari Faraway Downs menggiring ribuan ternak untuk memenuhi order tadi, Fletcher berulah lagi. dia membakar pepohonan. ternak berlarian ketakutan di antara tebing-tebing bukit. hingga suatu ketika ternak berlarian menuju jurang, sebagaimana diharapkan si jahat Fletcher, dan di tepi jurang berdiri Nullah...

Nullah mengeluarkan kemampuan sihir yang diperoleh dari kakeknya. ia berdiri tenang, menatap para ternak yang berlari ke arahnya, menggerakkan tangannya. seketika mereka semua berhenti... luar biasa!

kisah cinta terjalin di sini antara Lady Sarah dan Drover yang diperankan Hugh Jackman (The X-man). di tengah tandusnya padang, mereka berhasil mengantar ribuan ternak menuju ke kapal yang sudah siap mengangkut, dan mengalahkan peternakan Carney dan Fletcher.

kejahatan Fletcher makin menjadi-jadi. Mr.Carney bosnya dibunuhnya dengan cara didorong ke sungai penuh buaya. Fletcher menjadi penguasa peternakan terbesar dan berambisi menguasai Faraway Downs.

di tengah film, Nullah memainkan lagu "Somewhere over the rainbow" dengan harmonika. indah sekali terdengar. demikian juga, menjelang akhir film, ketika Nullah dan Drover disangka sudah tewas akibat penyerbuan Jepang yang meluluhlantakkan wilayah utara Australia, musik harmonika Nullah dari kejauhan dapat didengar Mrs.Boss (panggilan Lady Sarah).

Drover juga sempat patah hati. ketika berada di sebuah pohon di padang, tempat mereka dulu mengaso dan pertama kali ia jatuh hati pada Lady Sarah, kalimat ini diucapkan temannya: "Without love, you are nothing. You will have no dreams, no hope..."

kupikir inilah kalimat kunci film ini. sebuah Australia yang meskipun kemudian hancur, dibangun dengan cinta dan pengharapan. bukan dengan ambisi buta dan kejahatan sebagaimana dibuat Fletcher.

Somewhere, over the rainbow, way up high.
There's a land that I heard of Once in a lullaby.

Somewhere, over the rainbow, skies are blue.

And the dreams that you dare to dream
Really do come true.

menurutku film ini layak mendapat 8,5 dari 10 bintang.

Senin, 09 Maret 2009

Across the Universe

Sepenggal Cinta Terangkum di Beatles

Pemain : Jim Sturgess, Evan Rachel Wood
Durasi : 1 jam 49 menit

Persamaan antara film ”Across the Universe” dengan “Mamma Mia! The Movie”, keduanya termasuk dalam genre Film Musikal dengan jalan cerita terinspirasi lagu-lagu sebuah grup musik.

Jika sepanjang film Mamma Mia! dihiasi lagu dari ABBA, maka lagu-lagu Beatles mewarnai "Across the Universe" (ATU) selama 1 jam lebih.

Setelah menonton ATU, saya jadi menyimpulkan jika jalan cerita Mamma Mia! menjadi ’terpaksa’ menyesuaikan lirik lagu –film memang diangkat dari skenario operet atau drama musikal yang dipentaskan di panggung teater- sementara ATU yang skenarionya ditulis oleh Dick Clement ini terasa lebih mengalir.

Tokoh utama bernama Jude dan Lucy (yap! Seperti judul lagu Hey Jude dan Lucy in the Sky with the Diamond).

Jude pemuda tanggung asal Liverpool, seperti kota asal John Lennon cs, yang bekerja sebagai pekerja galangan kapal pergi mencari ayah kandungnya ke Amerika Serikat (AS). Ternyata, sang ayah sudah punya kehidupan baru dan keluarga baru di AS.

Tapi kepergian mencari ayahnya hingga ke kampus Princeton, mengantarkan Jude berkenalan dengan Max. Mereka berdua menyewa kamar bersama penyanyi wanita Sadie (yang sosoknya mengingatkan kita pada karakter Janis Joplin) dengan grup band Sadie and the Po Boys yang gitarisnya mengingatkan kita pada dewa gitar Jimi Hendrix.

Yah, saat itu tahun 60-an, ketika semangat kebebasan, obat bius dan Generasi Bunga menjadi bagian dari kehidupan generasi mudanya.

Max secara naif mendaftarkan diri menjadi tentara ke Vietnam. Hal ini semakin menimbulkan sikap anti perang dalam diri adik Max, Lucy, yang kehilangan pacar di medan perang yang sama sebelum menjalin hubungan dengan Jude.

Pada dasarnya, ATU adalah cerita cinta dan universal sepanjang masa. Tentang pencarian jati diri, kesalahan di masa muda, serta pengalaman hidup. Bagaimana tokoh Jude, Lucy dan Max memperoleh pembelajaran dari kehidupan nyata bahwa dunia bukan taman bermain yang diisi dengan senang-senang belaka. Hidup bersama Jude dan Lucy juga mengalami pasang surut tak hanya bercinta dan ’bunga-bunga’. Lalu Max yang kembali ke tanah air dalam kondisi terluka. Suatu pelajaran besarrr bagi anak yang sepanjang hidupnya tak pernah serius.

Kamu juga ga harus memahami atau menjadi penggemar The Beatles dulu untuk menikmati film yang disutradarai Julie Taymor ini.

Tema cerita terasa lebih dalammmmmm ketimbang Mamma Mia! Sebagai kilas balik, Mamma Mia! The Movie berkisah tentang tokoh utama Sophie Sheridan mencari siapa sebenarnya ayah kandungnya. Sialnya, dari hasil temuan diari sang ibu, dalam waktu berdekatan ibunya dekat dengan 3 pria sehingga Sophie memutuskan mengirimkan undangan perkawinan kepada setiap mantan pacar ibunya tersebut untuk mengetahui siapa bapak biologisnya. Sebuah cerita di abad ke-21 yang sebetulnya bisa dipecahkan dengan Tes DNA, atau silahkan hitung tanggal kelahirannya dengan jeda hubungan sang ibu (yang tersirat jelas dalam diari).

Oke, kesimpulan :
Across the Universe = bagus, menghibur, dan kategori tontonan Dewasa
Mamma Mia! = ringan, menghibur dan masuk kategori tontonan Remaja

Kamis, 26 Februari 2009

Marley & Me

Pasangan pengantin baru John dan Jenny Grogan (yang masing-masing diperankan oleh Owen Wilson dan Jennifer Aniston), pindah dari Michigan ke West Palm Beach, Florida. Mereka berdua sama-sama jurnalis di koran lokal.

Sejumlah rencana sudah ada di dalam benak mereka : pindah dari kota yang dingin ke daerah Florida yang menawarkan mentari hangat. John serius meniti karier sebagai reporter harian di Sun-Sentinel sementara Jenny penulis feature di harian New Beach Post. Lalu mereka membeli rumah, dan berencana punya anak. Namun sebelum anak lahir, mereka mengadopsi anjing supaya naluri merawat makhluk hidup terasah.

Akhirnya, mereka membeli seekor anak anjing labrador seharga US$275 (yang betina berharga lebih mahal US$25) di sebuah peternakan. Anjing jantan jenis labrador itu dinamai Marley, diambil dari nama legenda reggae Bob Marley.

Marley awalnya terlihat bagai anak anjing menggemaskan. Namun tak perlu waktu lama untuk akhirnya mereka menyadari bahwa anjing mereka memiliki nafsu makan besar, hiperaktif, senang mengacak-acak dan mengunyah sofa. Hampir apapun yang bisa dikunyah tak bakal lepas dari gigitannya, termasuk underwear Jenny, bantal tempat tidur, bahkan pernah menelan kalung rantai hadiah John untuk Jenny.

Bahkan Marley diusir dari sekolah pelatihan anjing hanya dalam hitungan jam. Marley yang doyan mangga ini hanya takut dengan petir. Kalau hujan dengan petir menyambar, maka Marley tak berhenti melolong panjang sekaligus bersembunyi ke majikan.

Tapi jalan cerita ini tidak seperti film-film bertema binatang seperti Beethoven, MPX atau Rin Tin Tin. Bukan tokoh binatang jagoan menolong majikan seperti umumnya film anak-anak.

Makanya film ini lebih tepat bagi penonton Remaja atau Dewasa, karena alur drama (dan beberapa bagian komedi yang lebih tepat dicerna orang besar) menceritakan Marley sebagai bagian dari kehidupan keluarga Grogan.

Dengan gayanya yang melelahkan, Marley tetap disayangi oleh Jenny dan John. Marley juga berkelakuan layaknya anjing setia, yang ikut sedih ketika Jenny menangis ketika kehamilannya gagal. Resah di saat Jenny mulai merasakan tanda bukaan tanda melahirkan. Tapi juga menimbulkan naik pitam ketika kelahiran anak pertama disusul kehamilan kedua.

Marley saksi kehidupan keluarga Grogan hingga kehadiran Colleen anak ketiga sekaligus putri satu-satunya keluarga. Ada bagian ketika mimpi terkalahkan realita kehidupan. John yang menjadi kolumnis tetap demi kenaikan gaji dan kemapanan kerja. Ini semua demi perbaikan kehidupan keluarga, seperti membeli rumah baru berkolam renang di kawasan yang lebih elit sekaligus lebih aman untuk membesarkan anak-anak. Ada pula terbersit rasa iri pada rekannya, Sebastian yang masih single (sekilas wajahnya seperti Leonardo diCaprio) yang sukses meningkatkan karier hingga pindah menjadi wartawan New York Times.

Hanya saja, kadang ada bagian yang kurang dalam diangkat sutradara/penulis skenario. Sehingga terasa sepenggal dengan penyelesaian yang gampang. (Saya pribadi belum membaca bukunya yang sudah diterjemahkan dalam versi Indonesia....hmm jadi penasaran baca dan jujur seusai nonton, saya sempat berburu buku tsbt di Gramedia Plaza Semanggi tapi sayangnya tidak ketemu). Mungkin ini disebabkan penulis skenario ingin memadatkan kisah yang diangkat dari buku yang ditulis sendiri oleh John yang kini menjadi kolumnis Philadelphia Inquirer.

Sebelumnya artikel tentang Marley menjadi bagian dari tulisan harian John di koran Sun-Sentinel.

Ohya satu kekurangan lagi. Sepanjang film kita menyaksikan pertumbuhan Marley dari anak menjadi anjing besar. Tapi rasanya tak ada perubahan penampilan pada John dan Jenny dari pasangan pengantin baru hingga menjadi orangtua tiga anak. Secara keseluruhan film menarik ditonton, jalan cerita ringan, meski sedih di bagian akhir karena Marley mati.

Minggu, 22 Februari 2009

Renungan Dalam Keheningan


Resensi ini dimuat di Koran Tempo, Minggu 22 Februari 2009.


Kembalinya Zara Zettira ZR setelah 10 tahun menghilang dari dunia kepenulisan.

Judul : ”Cerita Dalam Keheningan” dan ”Every Silence Has a Story”
Pengarang : Zara Zettira ZR
Penerbit : Esensi – Erlangga Group
Edisi : Cetakan Pertama – Desember 2008
Jumlah Halaman : 353 halaman (bahasa Indonesia) dan 271 halaman (Bahasa Inggris)


Membaca buku Cerita Dalam Keheningan yang dikemas dalam satu buku dwi-bahasa, praktis membuat pembaca menerka tokoh utama Zaira Ramadhani adalah Zara Zettira ZR pribadi.

Memang, seperti diakui Zara di sela peluncuran bukunya di Jakarta, kisah ini 90 persen biografi hidupnya. Tentu saja, sebuah cerita perjalanan pribadi penulis yang dipadu dengan kekuatan imajinasi.

Nama Zara Zettira ZR berkibar di era 80-an dan 90-an, sebagai penulis cerpen di berbagai majalah remaja. Selain itu, wajahnya pun sering tampil sebagai model di majalah. Ini berkah sebagai juara kedua Putri Remaja yang diselenggarakan oleh Majalah Gadis.

Zara telah menulis sejak berusia 12 tahun. Cerpen perdananya meraih juara ke-2 lomba yang diadakan majalah Anita, dan sejak itu ia termasuk pengarang produktif. Ia sudah menulis lebih dari 200 cerpen dan 15 novel fiksi. Seiring maraknya televisi swasta di era 90-an, Zara sibuk menjadi penulis skenario sinetron dan film, dan pada penghujung 1990-an, tepatnya 1999, Zara pindah dan menetap di Kanada bersama suami dan anak-anak. Tujuh tahun menetap di Kanada, suasana hatinya berubah ketika harus menulis satu episode dalam sehari. Menulis sebagai kesenangan bagi perempuan kelahiran Jakarta itu, berubah menjadi tuntutan ketika harus mendengarkan kata orang.

Kegundahan ini terhapus ketika ada penerbit menawarkan dia menulis. Akhirnya terwujud Cerita Dalam Keheningan, yang mengajak pembaca merenungkan perjalanan hidup melalui kisah Zaira.

Zaira cilik dibesarkan di keluarga nan kaya. Tinggal di rumah paviliun berhalaman luas, pergi ke sekolah naik mobil sesuai warna ikat rambut dan baju. Kekayaan ini bersumber dari sang Kakek yang pengusaha sekaligus pentolan organisasi politik berbasis Islam.

Pada usia 6 tahun, Zaira belajar memahami ’cinta’ sekaligus mengalami arti ’kehilangan’. Pertama, ketika sahabatnya, Ali, pergi meneruskan sekolah ke Cina. Ali menyarankan Zaira untuk menuangkan pikiran –yang bagaikan pohon beringin besar di dalam otak, dengan ratusan cabang terus tumbuh, saling membelit dan menekan kepala –ke dalam buku harian.

Selanjutnya, peristiwa Kakek meninggal menjadi kehilangan terbesar sekaligus pengalaman spiritual pertama Zaira. Represi militer sekaligus persaingan kekuasaan politik di era 70-an membuat Kakek Zaira salah satu target utama untuk disingkirkan. Dengan alasan tidak jelas, Kakek Zaira ditahan tentara, dibawa pergi entah ke mana, yang berakhir pada perawatan di rumah sakit.

Di rumah sakit, Zaira baru mengetahui rahasia Sang Kakek ternyata pemakai susuk agar kebal di medan perang. Akibatnya, sakratul maut susah menjemput. Zaira sebagai cucu perempuan pertama –dalam rangkaian kegiatan yang tidak sepenuhnya dimengerti anak kecil- menjadi ’pembuka jalan’ Kakek untuk meninggal.

Setelah Kakek tiada, Zaira dan keluarga besar pun mengalami perubahan hidup. Kehilangan mobil, teman-teman, dikucilkan dari lingkungan perumahan, dan puncaknya rumah keluarga besar Ramadhani pun disita.

Dari rumah megah tengah kota, Zaira dan keluarganya pindah ke rumah terpencil di kawasan selatan Jakarta, terletak di pinggir sungai bau –tempat penduduk mengambil air untuk minum dan masak- sekaligus tempat membuang sampah dan buang hajat.

Cekcok Ayah dan Ibu akibat perubahan kondisi ekonomi ditambah kelahiran adik perempuan semakin merengganggkan relasi Zaira-Ibu yang sedari awal tidak hangat. Jenuh bertikai, Zaira memutuskan hengkang menyewa kamar kos. Meski masih duduk di SMU, Zaira sudah memiliki penghasilan berkat kerja paruh waktu sebagai copywriter di sebuah kantor periklanan.

”Kadang, untuk mendapatkan sesuatu yang baru, kita harus meninggalkan yang lama,” kata Ayah Zaira, seolah mendukung keputusan anaknya. Sebuah perkataan yang membekas ke dalam Zaira hingga dewasa. ”Bahwa untuk mendapatkan sesuatu, selalu ada pengorbanan. Selalu harus ada yang hilang. Misalnya, untuk mendapatkan uang kita harus bekerja. Bekerja berarti kita kehilangan waktu untuk diri kita sendiri. Untuk mendapatkan, kita harus kehilangan.”

Dunia seolah berada di tangan perempuan usia 20-an yang tengah mekar. Zaira terus melaju. Punya uang, kecantikan, terkenal, mampu beli mobil, menjabat sebagai direktur kreatif di perusahaan periklanan, serta kuliah di fakultas psikologi Universitas Indonesia (UI) berkat jalur prestasi.

Namun, Zaira punya mimpi lain. Dengan berbekal uang tabungan, ia memutuskan keluar dari UI dan mengambil kursus singkat broadcasting di Los Angeles. Perjalanan singkat untuk kursus singkat tak selesai, karena mendapat kabar Ayah sakit. Zaira kembali ke Jakarta, dan menemani Ayah hingga ajal karena sakit kanker.

Zaira kembali mengalami ’kehilangan’. Kali ini, kehilangan yang terasa dashyat. Cinta hanya membawa luka, termasuk kehadiran cinta dari Jody. Pria selisih usia 3 tahun darinya yang datang setelah Ayah meninggal, hanya pergi menorehkan kesedihan.

Zara masih tetap penulis handal. Ia mengajak pembaca seolah menikmati roller coaster. Pertama, kita akan dibawa perlahan, memahami tokoh Zaira dan sejumlah latar belakang tokoh dari sudut pandang Aku (Zaira). Kemudian, rahasia pun terkuak mengapa Ibu dingin terhadapnya, lalu menanjak dan bergerak cepat hingga konflik cerita. Zaira dan perasaan kehilangan saat ayahnya meninggal, berganti lonjakan keceriaan ketika menemukan cinta pada Jody, lalu kehilangan cinta, hingga bermuara pada dunia hening Zaira.

Semua bergerak cepat, tegang, membuat mata berbaris melahap setiap kata dan segera membalik helai halaman selanjutnya, ... dan, sampailah di bab terakhir. Lho, begini saja? Zaira menemukan ketenangan dan spiritualisme di Bali. Zaira hanya berteman dengan Jody tanpa bermuara pada pernikahan. Zaira vs Jody adalah cinta tanpa memiliki. Selesai.

Kita sudah meliuk-liuk bersama Zaira dan dunia heningnya, lalu berhenti di kepasrahan bahwa semua akan berlalu, bahwa kemarin bukanlah milik kita lagi, dan hari esok belum tentu jadi milik kita.

Jumat, 02 Januari 2009

Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung

Oleh : Joko Pinurbo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama (2007)


Bagi penggemar puisi, buku Antologi atau Kumpulan Puisi menjadi bentuk mudah untuk melahap karya seorang penyair dalam satu kemasan. Termasuk jika ingin mencoba membaca, mengenal termasuk meresapi gaya seorang penyair terkenal dalam satu buku yang sudah merangkum karya–karya terbaik/terpilih dari seorang penyair.

Salah satu buku kategori ini adalah Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung. Buku ini merupakan rangkuman 3 kumpulan puisi Joko Pinurbo : Celana (1986-1998), Di Bawah Kibaran Sarung (1999-2000), dan Pacarkecilku (2001-2002).

Jika sebelumnya diterbitkan oleh Yayasan Indonesiatera, Magelang, maka dalam format 1 buku ini hadir melalui Gramedia Pustaka Utama. JokPin –begitu pria asal Pelabuhan Ratu itu kerap disebut- mengatakan terdapat perbedaan materi dalam sajak yang tertuang dalam bagian Celana dan Sarung.

Buku setebal 219 halaman ini, terbagi atas 3 bagian besar, sesuai tahun penerbitan buku kumpulan puisi. Secara gradual pula, pembaca bisa merasakan proses pertumbuhan sang penyair kelahiran Sukabumi 11 Mei 1962 ini dalam mengolah puisinya yang cendrung berbentuk prosa lirik.

Ia yang gandrung memakai kata ’kuburan’, ’celana’, ’andong’, namun mengolah kata-kata itu lebih dari sekadar benda harfiah. Kata tersebut tampil berulang kali menunjukkan keahliannya dalam mengeksplorasi kata dan bentuk. Selain itu, puisinya kadang tampil jenaka, penuh humor, lalu menukik –membuat pembaca terhenyak- pada bagian akhir.

Dalam karyanya, Jokpin bisa menangkap hal-hal kecil seperti dalam ”Tukang Cukur”, ”Di Salon Kecantikan” atau ”Tetangga”. Dalam aktivitas potong rambut (Tukang Cukur), JokPin menohok kesadaran betapa berkuasanya sang tukang cukur. Siapapun, meski ia raja atau diktator sekalipun takluk kepada sang tukang cukur rambutnya kan?!

Simak pula kalimatnya yang silahkan Anda tersenyum simpul ataupun kecut. Seperti ”Topeng Bayi untuk Zela” (halaman 114) atau ....”biasanya tetangga lebih cermat mengamati keadaan rumah kita. Siapa tahu ia juga bisa menyumbangkan gagasan cemerlang tentang cara batuk yang sopan supaya tidak mengganggu tetangga yang sedang tidur atau makan.” (Halaman 125).

Atau perhatiannya pada masalah sosial dalam ”Senandung Becak” dan ”Malam Pembredelan” yang membuat kita menerka inikah sentilan Jokpin untuk represi terhadap media.

Pembaca juga diajak terhanyut dalam lamunan romantisme. Misalkan ”Bulu Matamu : Padang Ilalang” :

Bulu matamu : padang ilalang
Di tengahnya : sebuah sendang.

Kata sebuah dongeng, dulu ada seorang musafir
Datang bertapa untuk membuktikan apakah benar
Wajah bulan bisa disentuh lewat dasar sendang.

Ia tak percaya, maka ia menyelam,
Tubuhnya tenggelam dan hilang di arus mahadalam.
Arwahnya menjelma menjadi pusaran air berwarna hitam.

Bulu matamu : padang ilalang.



Jokpin sendiri adalah salah satu nama beken dalam dunia puisi. penerima berbagai penghargaan : Sastra Khatulistiwa untuk antologi puisi Kekasihku yang diterbitkan pada 2004 (2005) dan Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001. Bersama buku ini, silahkan tenggelam menikmati puisi Jokpin.