Jumat, 20 Juni 2008

Veronika Memutuskan Mati

Oleh : Paulo Coelho
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, 2005


Veronika memutuskan bunuh diri. Bukan karena patah hati, lari dari jeratan utang, atau ada tujuan lain yang biasanya menjadi alasan memutuskan mati.

Gadis ini hanya potret tentang pencarian makna hidup dalam masyarakat yang terbelenggu rutinitas, tanpa jiwa dan takluk pada tekanan sosial.

Namun, kematian tidak menghampiri Veronika, yang berupaya bunuh diri dengan menelan pil tidur, secara sederhana. Ia selamat dan dimasukkan ke dalam Rumah Sakit Jiwa Villete. Di dalam rumah sakit yang dibangun pada menjelang perpecahan Yugoslavia menjadi negara-negara kecil, ia bertemu dengan rekan-rekan ’normal’ yang tampil ’gila’. Ia bertemu individu-individu rapuh yang seolah sadar memilih masuk rumah sakit jiwa karena kemauan, impian, dan sikap hidup mereka berbeda dengan yang dianggap normal oleh masyarakat.

Di dalam rumah sakit terdapat Mari, pengacara di usia 40 tahun penderita panic attack. Zedka yang depresi, dan Eduard anak diplomat yang ingin menjadi pelukis. Mereka adalah orang-orang yang melepaskan diri dari kenyataan.

Veronika, divonis kepala Rumah Sakit Jiwa Villete, Dr. Igor, hanya memiliki waktu hidup 5 hari lagi akibat pil-pil tidur mengganggu kerja sistem jantungnya. Namun, kehadiran Veronika yang tinggal menunggu ajal, justru membuat Mari, Zedka, dan Eduard, mengalami pencerahan untuk berani menghadapi kenyataan. Mewujudkan impian.

Akhirnya, mereka termasuk Veronika seperti ditulis Dr. Igor dalam penelitiannya yang berjudul ”Kesadaran akan Kematian membangkitkan semangat hidup yang baru.”

Ini karya Paulo Coelho yang tergolong ’ringan’, tidak menjejali kita dengan kalimat yang dalam dan penuh makna. Tidak seperti karya-karya lainnya : Sang Alkemis (The Alchemist); atau, Di Tepi Sungai Piedra , Aku Duduk dan Menangis (By the River Piedra I Sat Down and Wept) dalam bukunya yang berjudul asli ”Veronika Decides to Die” tahun 1998 tidak menawarkan kalimat-kalimat yang membuat saya sebagai pembaca berhenti sejenak untuk merenungi dan meresapi barisan kata yang dikemukakan oleh Coelho. Hanya melahap bacaan hingga akhir, lalu merenungi apakah diri ini sudah memiliki dan menikmati hidup tanpa didikte orang lain.

Tidak ada komentar: