Selasa, 14 Desember 2010

The Ghost – Sang Penulis Bayangan


Pengarang     : Robert Harris
Penerjemah    : Siska Yuanita
Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama (November – 2008)
Isi                : 320 halaman



“…. Hanya saja, kau tidak bisa mengubah keadaan dengan menjadi aktor. Cuma politikus yang bisa melakukannya.”

Demikian ucapan Adam Lang kepada sosok berjuluk Aku di suatu siang di Martha’s Vineyard. Siapa nama dari pria yang disebut “Aku” ini tidak pernah disebutkan dari awal hingga buku berakhir, karena dia hanya penulis bayangan dari Adam Lang.

Penulis bayangan atau ghostwriter adalah sebutan untuk orang yang berprofesi sebagai penulis professional yang dibayar untuk mendampingi penulis utama dalam proses penulisan buku. Tentu saja secara teknis, penulis pendamping ini memiliki kemampuan menulis dan editing yang baik, tapi namanya tidak tercantum di buku atau artikel sebagai penulis.

“Aku” direkrut untuk menulis autobiografi dari mantan Perdana Menteri Inggris, Adam Lang, yang sedang menghadapi tuduhan kejahatan perang. Buku autobiografi diharapkan menjadi satu-satunya cara membela diri di depan mata dunia.

Sang penulis bayangan menggantikan McAra, ajudan politik Adam Lang yang menjadi penulis memoar dan melakukan proses riset untuk buku tersebut.

Miliader Martin S. Rhinehart melalui perusahaan penerbitannya telah memberikan bayaran sebesar 10 juta dengan syarat memoar perdana menteri itu sudah terpajang di toko buku dalam waktu dua tahun. Bahkan, sengaja meminjamkan rumah peristirahatannya di Martha’s Vineyard agar proses penulisan berlangsung lancar.

Tapi McAra ditemukan tewas tenggelam, dan ternyata selama setahun pertama McAra sepertinya terlalu tenggelam dalam pengumpulan data. Dan pada saat yang berdekatan setelah kematiannya, Adam Lang tengah disorot dalam dugaan telah memberikan otorisasi illegal kepada pasukan khusus Inggris, Special Air Service (SAS) untuk menangkap 4 warganegara Inggris tersangka teroris al-Qaeda di Pakistan. Keempat orang tersebut kemudian diserahkan ke pihak CIA, Amerika.

Operasi semacam itu illegal dibawah hukum Inggris maupun internasional. Dan mantan menteri luar negeri Inggris yang dipecat Adam Lang 4 tahun sebelumnya, Richard Rycart, kini menjabat sebagai duta besar luar biasa PBB untuk Masalah-Masalah Kemanusiaan dan mengecam keras kebijakan luar negeri AS. Rycart berusaha untuk menyeret mantan bos-nya itu ke mahkamah internasional di Den Haag.

Ketika tuduhan dilayangkan dan bukti-bukti diyakini sudah dipegang, ini sekaligus pula menjadi momentum besar dan tepat untuk penerbitan buku Adam Lang.

Namun dalam proses pengerjaan buku, sang “hantu” menemukan terlalu banyak hal yang tidak sesuai, misalnya awal karir politik Adam Lang, kebijakan-kebijakan politiknya, termasuk dugaan keterlibatan badan intelijen negara asing.

Latar belakang Adam Lang pernah belajar Ekonomi di kampus Cambridge, pernah bergabung di tim sepak bola universitas sebagai pemain cadangan, dan memperoleh reputasi bagus sebagai aktor kampus, seolah tidak cukup menggiring minat Lang untuk kemudian tertarik ke dunia politik dan terjun kedalamnya.

Sang penulis bayangan kemudian tak hanya menyelesaikan tugasnya membuat buku autobiografi sang mantan perdana menteri. Tapi dia masuk kedalam proses memecahkan teka-teki dari kumpulan dokumen yang berhasil dikumpulkan McAra.

Novel The Ghost” atau dialihbahasa ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Sang Penulis Bayangan” dikarang oleh Robert Harris dan diluncurkan di Inggris pada 2007. Lalu 3 tahun kemudian diangkat menjadi film berjudul The Ghost Writer (2010). Silahkan baca resensi filmnya disini.
  
Memang banyak buku-buku novel yang kemudian menjadi cerita film layar lebar. Biasanya pembaca yang telah lebih dulu melahap buku novel secara sengaja atau tidak akan membandingkan dengan filmnya.

Saya pribadi kebanyakan menonton filmnya ketimbang lebih dulu membaca bukunya. Dan menurut pendapat pribadi, cara ini lebih praktis dalam memahami alur cerita yang tersaji dalam bahasa gambar (baca: film).  Iya. Kelebihan novel memang membuat pembaca membangun imajinasi tersendiri tentang tokoh, lakon, suasana, hingga jalan cerita.

Tetapi baik buku maupun film unggul masing-masing dalam kapasitasnya. Untuk buku terjemahan ini mengalir lancar dengan dialog-dialog cerdas antar tokoh.

Bagi pembaca awam maupun memang berprofesi di bidang media atau berprofesi sebagai penulis, novel The Ghost memberikan informasi tentang dunia penulisan. Apalagi setiap awalan bab yang total terdiri dari 16 bab, terdapat kutipan tentang penulis bayangan diambil dari buku Ghostwriting karya Andrew Crofts (A & C Black, 2004). 

Pengarang buku, Robert Harris adalah pria kelahiran Nottingham, Inggris pada 1957, memang pernah menjadi wartawan BBC, kemudian menjadi editor politik Observer, kolumnis di Sunday Times dan Daily Telegraph. Kini dia termasuk salah satu penulis laris dari Inggris dimana hasil karyanya telah diterjemahkan kedalam 37 bahasa.

Penghargaan profesi pernah diperoleh bapak empat anak ini sebagai Columnist of the Year dari British Press Award pada 2003. (*)

Rabu, 01 Desember 2010

Zona Aman Goražde - Perang di Bosnia Timur 1992-1995


Penulis : Joe Sacco
Penerjemah : Desti J. Basuki dan Ary Nilandari
Penerbit : PT Mizan Pustaka (Cetakan I – Oktober 2010)



Buku bergenre novel grafis ini menyajikan sepenggal kisah nyata tentang perang etnis dan antar agama yang berlangsung di suatu kawasan di selatan Eropa pada tahun 1990-an.

Wilayah Yugoslavia yang terletak di semenanjung Balkan itu telah menoreh sejarah panjang, menjadi tempat perebutan pengaruh antara Romawi Barat yang Katolik dan Romawi Timur yang Ortodoks, berlanjut ke era Ottoman Turki yang beragama Islam, membawa pengaruh dalam etnis dan agama yang dianut.

Perubahan bentuk menjadi negara kerajaan pasca Perang Dunia I diikuti pembentukan negara boneka dibawah Hitler (era Perang Dunia II) ternyata belum sepenuhnya membentuk pikiran yang terbuka terhadap perbedaan latar belakang etnis dan agama.

Selama bertahun-tahun Presiden Josip Broz Tito membangun kembali persaudaraan negeri dibawah bendera komunisme untuk mengatasi perselisihan antar kelompok etnis dan agama, dengan membentuk sistem federal yang dibedakan berdasarkan etnisitas.

Sistem ini hancur setelah Tito meninggal. Selain itu awal 90-an ditandai berbagai peristiwa menandai berakhirnya negara-negara komunis, seperti runtuhnya Tembok Berlin pembatas antara Jerman Barat dan Jerman Timur, revolusi di Cekoslowakia yang menjadikan Vaclav Havel sebagai presiden terpilih, dan pecahnya Republik Sosialis Uni Soviet.

Setelah runtuhnya rezim komunis di Eropa Timur, Yugoslavia terpecah pada tahun 1991 menjadi negara berdiri sendiri yaitu : Kroasia, Slovenia, Bosnia-Herzegovina, Srpska (Serbia), Macedonia dan Montenegro.

Judul buku Goražde dikutip dari nama kota di Bosnia Timur dan menceritakan kondisi kota selama 3,5 tahun (1992-1995) saat etnis Serbia, di komik ini disebut “Chetnik” sebagaimana orang Bosnia menyebut mereka berdasarkan berlatar belakang sejarah, menyerang kawasan yang semula aman damai di tepi Sungai Drina ini.

Cerita diambil dengan sudut pandang orang pertama atau “Aku” berprofesi sebagai reporter asal Amerika Serikat (AS). Cerita dibuka pada musim gugur 1995, ketika Aku bersama sejumlah wartawan asing dan penduduk lokal Goražde menanti hasil perundingan damai antara Serbia-Bosnia yang difasilitasi AS di Dayton, nun jauh di benua Amerika.

Di kawasan dengan populasi 9.600 orang dan lebih dari 70 persen muslim, perjanjian ini berpengaruh terhadap masa depan mereka. Karena pihak Serbia menginginkan kawasan itu masuk dalam wilayahnya dan menukarnya dengan wilayah sekitar Sarajevo, ibukota Bosnia.

Kemudian cerita bergulir ke latar sejarah dan letak geografis yang memberikan pembaca informasi tentang akar kebencian antar etnis di negara pecahan Yugoslavia itu.

Bosnia merupakan salah satu pecahan negara Yugoslavia, bersama Slovenia, Kroasia, Serbia, Montenegro, Kosovo dan Makedonia.

Joe Sacco adalah reporter dan kartunis yang melakukan empat kali perjalanan ke Goražde pada akhir 1995 dan awal 1996. Sehingga tidak heran jika novel grafisnya ini menjadi sebuah cerita reportase dalam bentuk gambar.

Sehingga cerita kaya akan sudut pandang, seperti dari Edin, Riki, Dr. Alija Begovic, bahkan warga Serbia yang masih tinggal di Goražde. Adapula kisah dari Haso dan Nermin tentang pengalamannya berada di Srebrenica.

Kita bisa jadi terbelalak lalu tertawa ketika seorang perempuan beranjak dewasa yang tinggal di kawasan isolasi lebih butuh jeans untuk membalut kaki ketimbang makanan atau buku pelajaran. Emira penerjemah berusia 19 tahun ingin titip dibelikan jeans Levi’s seri 501 asli di Sarajevo. Harus asli! Namun ketika kehidupan terasa gelap dan bisa mati setiap saat, termasuk terkena tembak saat menjemur baju, mati berbalut celana jins to die for bisa jadi kenikmatan duniawi terakhir.

Buku yang diterbitkan pertama kali pada 2000 di AS, menyegarkan kembali ingatan kita akan sebuah perang yang bisa jadi hanya sekelebat berita di layar televisi pada masa kecil dulu.

Apalah arti Bosnia yang luasnya hanya lebih dari 51 ribu kilometer persegi bagi dunia internasional? Ketika Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) bersikap bertahan dengan mengatasnamakan azas netral dan prinsip perdamaian, menyayangkan sikap AS, Inggris dan Perancis sebagai anggota Dewan Keamanan PBB yang berlarut-larut dalam menghentikan kekejaman yang melanggar hak asasi, mari pembaca berkata inilah politik internasional.

Negara Paman Sam dibawah Presiden Bill Clinton ibarat seorang paman yang baru berteriak dan menjewer anak kecil bernama Serbia yang menyiksa hewan-hewan di ladang tetangga ketika hampir dua pertiga hewan di ladang mati.

Buku ini bukan menyuguhkan cerita ‘indah’ dengan  sapuan penuh warna. Wajah-wajah muram tidak ada garis ganteng ataupun cantik. Tapi ilustrasi hitam putih justru memperkuat alur cerita yang dramatis.

Secara pribadi saya sebagai pembaca buku sekitar 300 halaman ini ikut terbawa dalam suasana mencekam, haru, atau miris. Sebaliknya ikut terbawa lega dan bahagia ketika sinyalemen damai tercetus. 

Ketika menutup buku ini, pembaca bisa jadi menjadi seorang yang mendukung pluralisme dan anti pandangan fundamentalis yang sempit. Bisa jadi akan menguatkan sikap Anda menjadi lebih pro aktif melawan isu atau pandangan SARA nan ekstrim. Kesimpulannya, buku ini layak baca.

Novel grafis ini masuk kedalam buku kategori “D” atau Dewasa karena jalan cerita dan sajian gambar cukup eksplisit untuk menggambarkan kejadian perang. (*)

Rabu, 27 Oktober 2010

Antologi Puisi - Roket Pun Bersyair

Penggagas : Atik Bintoro

Penyunting : Khrisna Pabichara
Penerbit : Tekro Publishing – Bogor (Cetakan I-Juni 2010, Cetakan II-Agustus 2010)
Halaman : 72 + xii halaman



Menerbitkan buku tak selalu untuk menghasilkan uang. Ada alasan lain seperti memberikan informasi, pembelajaran dan kepuasan batin penulisnya. Buku juga bisa menjadi media pengenalan agar menumbuhkan minat pembaca terhadap suatu obyek.

Seperti buku Antologi Puisi – Roket Pun Bersyair ini memperkenalkan dan menumbuhkan minat terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), roket dan satelit.

Rencana buku antologi puisi non komersil ini, yang digagas oleh Atik Bintoro Sani (Man Atek) bakal dibagikan ke masyarakat pada acara-acara yang berkaitan dengan roket dan satelit, dipublikasikan kepada komunitas sastra via milis.

Komunitas sastra atau penulis puisi yang kini terbangun melalui jejaring dunia maya sepertinya menyambut antusias. Buktinya dari rencana menampung 45 puisi, pada buku terbitan Tekro Publishing justru memuat 58 puisi. Total sebanyak 29 pemuisi menyumbangkan karyanya.

Untuk pembuatan tulisan dengan tema sudah ditentukan pasti mengundang kesulitan tersendiri bagi pesertanya, bagaimana menerjemahkan tema menjadi sebuah karya yang enak dibaca tanpa meninggalkan tema besar.  

Hasilnya menjadi sebuah antologi atau kumpulan puisi bergaya variatif. Ada yang menjadikan kata “roket” sebagai cantelan kata, wujud sebagaimana aslinya, dan adapula yang bersifat metafora.

Ambil contoh puisi “Di Perut Bunda Tiada Adenium yang Kupuja” dari Puti Sugih Arta samasekali tidak menyebut roket, dan berhasil melontarkan intepretasi pembaca.

Adapula yang bermain dalam singkat kata seperti Nisa Ayu Amalia dalam 2 karyanya. Coba simak “Pesan” yang sederhana, jenaka, tapi penutup yang touchy. Sebuah roket kembang api telah berhasil Nisa lontarkan, pecah di angkasa wusshh.. dan padam dibatas gravitasi.

Sementara karya Man Atek membuktikan bahwa pemuisi memang berada dalam dunia mesin roket dan satelit. 

Puisi-puisi dari Lailatul Kiptiyah juga bergaya khas dirinya yang jago dalam merangkai kata hingga menjadi kalimat menguntai dalam satu baris.

Beberapa puisi menghasilkan metafora romantis atau sains pada “Aku adalah Satelit Hatimu”, “Romansa Satelit”, “Sang Penakluk”, atau “Mata Angkasa”. Dan masih ada puisi lain yang mengagumi jagad raya, langit dan angkasa sebagai obyek ramuan puisi.

Masih ada nama lain yang kerap ditemukan karyanya di blog, milis Bunga Matahari, fordisastra, kemudian.com,  komunitas sastra lokal seperti Divin Nahb, St. Fatimah, Siu Elha, Atisatya Arifin, Gita Pratama, Dewi Retno Lestari Siregar, Edo Anggara, Putri Sarinande, Wory Kharisma, Arrizki Abidin, dan Khrisna Pabichara yang ikut berkontribusi dalam antologi ini.

Dengan ukurannya yang tipis dan seukuran buku saku sehingga mudah dibawa, kehadiran antologi ini membuktikan ranah sastra punya spektrum luas dan bisa memperkaya dunia iptek. 

Minggu, 24 Oktober 2010

Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa – 4 Serangkai Pendiri Republik

Edisi Khusus Majalah Tempo 2001-2009
Tim Penyunting : Arif Zulkifli, Bagja Hidayat, Dwidjo U. Maksum, Redaksi KPG
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Cetakan Pertama (September 2010)


Seandainya mesin waktu ada dan Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa – 4 Serangkai Pendiri Republik menjadi media lompatan pindah masa, maka saya ingin meresap masuk dan muncul di Belanda, bertemu dengan pemuda Muhammad Hatta yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Rotterdam, untuk duduk berdiskusi meresapi khazanah ilmunya yang kaya berkat banyak baca buku.

Ikut dalam rapat Indonesische Vereeniging pada 8 Februari 1925 untuk ikut menentukan bahwa nama tanah air saya berasal bernama “Indonesia”.

Jika saya belajar disiplin dan tepat waktu dari Hatta, maka dari Sutan Sjahrir akan belajar komunikasi dan bersosialisasi. Karakter gemar bergaul pula yang menyebabkan anak jaksa kelahiran Padang Panjang, Sumatra Barat ini percaya pada kekuatan diplomasi dan dia menjadi pelatak dasar politik bebas aktif yang kini dianut Indonesia.

Lalu saya belajar berdansa dari Sjahrir sembari membahas pemikiran para filsuf sosialis dari Karl Marx, Engels, Rosa Luxemburg, Karl Kautsky, Otto Bauer, dan Hendrik de Man.

Saya juga ingin berpetualang bersama Tan Malaka seperti film Catch Me If You Can. Bak Frank Abagnale Jr. yang diperankan oleh aktor Leonardo DiCaprio, Tan Malaka melanglang lintas negara, menyamar dan berganti nama. Jejaknya terekam dari Belanda, Jerman, Cina, Filipina, Singapura, Penang, lalu mampir ke pesisir Jawa tepatnya di Bayah.

Kemudian menjadi saksi hidup Proklamasi Indonesia yang dibacakan oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, mendengarkan pidato Sukarno yang menggelorakan, bersorak atas Konferensi Asia Afrika, mengikuti sepak terjang pemerintahan di era kemerdekaan, menangis antri beli beras dan berbusana kain blacu, cemas akan gerakan pemberontakan dimana-mana, hingga Presiden Indonesia pun berganti orang.  

Namun ketika quantum leap saya selesai dan kembali ke masa kini, Sukarno hanya terlihat seperti Che Guevara. Wajah tampan Che, bertopi baret dan gayanya yang rebel, kini sebatas poster dan sablon kaus.

Sama halnya dengan Che, pemikiran Bung Karno tenggelam sebatas gambar wajah, patung dan daya tarik sebuah partai politik. Tapi apa pikiran beliau, rasanya perlu membuka buku ”Sukarno – Paradoks Revolusi Indonesia” dan buka halaman 66-76, kita bisa temukan rujukan untuk mencari sejumlah tulisan Sukarno dan tentang Sukarno bisa kita bongkar di perpustakaan setempat.

Buku Seri Bapak Bangsa juga membuka pikiran pembaca bahwa pada masa itu Sukarno bukan individu super yang membawa kemerdekaan Indonesia. Ada peran pemikiran jauh kedepan yang dipelopori Hatta, peran diplomasi Sjahrir dan jauh sebelumnya buah pikiran dan gaya revolusi Tan Malaka menginspirasi rakyat untuk merdeka dari penjajah.

Buku “4 Serangkai Pendiri Republik” merupakan kemasan ulang dari edisi khusus majalah berita mingguan Tempo yang mengambil tema dengan semangat khaul atau kelahiran 100 tahun tokoh nasional Indonesia.

Bagi pembaca setia majalah Tempo mungkin masih ingat bahwa media ini pernah menerbitkan edisi khusus dengan laporan utama membahas Sukarno (2001), Muhammad Hatta (2002), Tan Malaka (2008), dan Sutan Sjahrir (2009).

Terasa unik memang ketika majalah nasional dengan segmen berita membawa gaya jurnalisme-nya yang khas, bahasa yang mengalir, dan kekuatan ilustrasi grafis kedalam biografi tokoh yang berperan dalam membentuk negara Indonesia.

Hasilnya menjadi sebuah artikel sepanjang 50-200 halaman lebih yang mengulas seseorang tak hanya dari latar belakang dan kehidupannya yang turut membentuk pola pikir, petualangan sang tokoh hingga urusan asmara.

Jadilah sebuah kumpulan artikel yang ringan dan bersifat informatif. Seperti dikutip dari Kata Pengantar bahwa tujuan penerbitan buku ini memunculkan pesona sejarah, melalui pendekatan jurnalistik, sehingga ada unsur fakta dan data-data yang dibangun untuk merekonstruksi kepahlawan 4 tokoh pemikir bangsa.

Sebagaimana edisi khusus sebuah majalah tentu akan tampil lebih istimewa dan bisa menjadi benda koleksi. Namun jika dikemas sebagai buku tentu akan lebih fokus dan tentu saja buku ini bukan jenis sekali baca kelar. Melainkan bisa menjadi rujukan atau referensi yang memperkaya pemahaman kita tentang sejarah negeri sendiri.

Berikut ulasan singkat tentang setiap buku :


Sukarno – Paradoks Revolusi Indonesia :
Kemampuannya dalam menaklukkan perempuan sama menariknya dengan figur dirinya sebagai pemimpin. Sukarno adalah pribadi perlente, punya selera tinggi dan sadar mode, menyukai seni, bahkan pernah berkata, “membuat seniman itu susah, membuat insinyur itu mudah.”

Didalam buku ini adapula latar belakang putri Sukarno, Megawati Sukarnoputri mengikuti jejak politik ayahnya hingga sempat menjadi salah satu Presiden RI.

Bab lain di buku ini memuat buku-buku yang ditulis oleh Sukarno maupun yang membahas Sukarno.

Artikel tak selalu serius. Ada kisah jenaka pula. Misalkan apa perintah pertama Sukarno setelah menjadi Presiden pertama RI? Ternyata ketika pulang dari Jalan Pegangsaan Timur 56 menuju rumah, di tengah jalan Sukarno bertemu penjual sate. Lalu dia memesan satenya dan berarti keluarlah perintah pertamanya terhadap penjual sate, yaitu, Sate ayam lima puluh tusuk,” lalu Sukarno jongkok di dekat selokan, menyantap sate dengan lahap.


Hatta – Jejak yang Melampaui Zaman :
Dalam “Hatta-Jejak yang Melampaui Zaman” yang terbit setahun setelah laporan khusus tentang Sukarno, terlihat tim Tempo lebih matang dalam mengolah bahan hingga menampilkan biografi dalam beberapa artikel yang saling menyambung.

Membahas tentang Sukarno tentu tidak lengkap tanpa Muhammad Hatta karena mereka berdua adalah Dwi Tunggal Proklamator atau dua tokoh proklamator kemerdekaan Republik Indonesia.

Buku Bapak Bangsa seri Hatta menampilkan sosok wakil presiden pertama RI secara kronologis dan runut. Bab didalam buku memuat tentang kelahiran dan latar belakang keluarga, pembentukan karakter, perkawinannya, hingga artikel semacam behind the scene (cerita dibalik layar) Jaap Erkelens dalam sesi susahnya mengumpulkan kembali foto-foto bung Hatta.

Melalui buku sebanyak xix dan 172 halaman saya sebagai pembaca menemukan sosok Hatta lebih sekadar “Bapak Koperasi Indonesia” sebagai sebutan kepada Bung Hatta seperti yang saya pahami sejak belajar Sejarah dan Ekonomi di bangku sekolah menengah.


Sjahrir – Peran Besar Bung Kecil :
Pandai menggocek bola dan mahir bermain biola. Pemuda Sjahrir adalah pria allrounded. Cerdas meski minatnya beralih ke hal-hal diluar bidang  akademis, mumpuni secara seni dan olahraga meski dia gagal mengantungi gelar sarjana dari Fakultas Hukum Universiteit van Amsterdam.

Bagian penting latar belakang pengangkatan Sutan Sjahrir menjadi Perdana Menteri Indonesia, dan kontroversi timbulnya jabatan ini. Dalam buku ini juga diulas peran Sjahrir memperkenalkan Indonesia pada awal kemerdekaan di dunia internasional. Ada juga satu bab di buku mengangkat kehidupan pribadi Sjahrir.

Hanya pada foto halaman 43 dengan caption “Presiden Sukarno berdiskusi dengan Sjahrir, 1946. Sering berbeda pendapat” saya melihat didalam foto itu sepertinya bukan Presiden Sukarno, melainkan Bung Hatta yang tengah berdiskusi dengan Sjahrir.  


Tan Malaka – Bapak Republik yang Dilupakan :

Buah pikiran Ibrahim Datuk Tan Malaka yang dituangkan dalam berbagai buku menjadi bacaan wajib tokoh kemerdekaan seperti Sukarno, Hatta dan Sjahrir. Ia juga mencetuskan sekolah rakyat dan pernah memimpin Partai Komunis Indonesia.

Sayang, kisah hidupnya berakhir tragis sebagaimana tanggal kelahirannya tak diketahui. Makamnya sampai hari ini tidak jelas dan perlu izin Departemen Sosial untuk bongkar makam dan melakukan tes DNA.

Buku ini mengupas kisah hidup Tan Malaka khususnya tentang masa sekolah, perjalanan terbentuknya ajaran Marxisme-Leninisme dan pro kaum proletar pada dirinya, serta kisah cinta pria yang selama hidupnya tidak pernah menikah ini.

Adanya komik strip 2,5 halaman Satu Wajah Seribu Nama yang menceritakan perjalanan pelarian dan penyamaran Tan Malaka dari satu lokasi ke lokasi lain hingga lintas negara, memudahkan pembaca memahami jalur pelarian Tan Malaka.

Pada bab terakhir terangkum beberapa tulisan sosiolog, ahli sejarah dan penulis buku tentang Tan Malaka dalam bentuk Kolom tulisan.

Senin, 23 Agustus 2010

Bu Slim dan Pak Bil - Mengobrolkan Kegiatan Belajar-Mengajar Berbasiskan Emosi


Penulis : Hernowo

Penerbit : MLC (Mizan Learning Center) – Cetakan 1, Maret 2005
Halaman : 125 halaman



Doktor psikologi lulusan Universitas Harvard sekaligus penulis ilmu perilaku dan otak, Daniel Goleman, menghadirkan istilah Emotional Intelligence (EQ) sekitar pertengahan 1990-an.

Dalam buku berjudul sama, Goleman mengatakan Emotional Intelligence (EQ) atau Kecerdasan Emosional lebih menentukan keberhasilan seseorang ketimbang Kecerdasan Rasional (IQ).

Sumbang pikiran penulis ilmu-ilmu perilaku dan otak ini memang mengubah paradigma dalam dunia pendidikan bahwa seorang siswa tak hanya perlu fasih dalam ilmu di sekolah. Akan tetapi penting pula pendidikan emosi.

Apa saja yang menjadi bagian dari EQ? Jika membaca buku “Bu Slim dan Pak Bil – Mengobrolkan Kegiatan Belajar-Mengajar Berbasiskan Emosi” maka sekolah perlu memadukan kurikulum pendidikan dan EQ. Kecerdasan emosional ini meliputi emosi positif, empati, dan mendengarkan-aktif tidak doyan memotong orang lain saat dia masih berbicara.

Buku ini menceritakan bagaimana Bu Slim dan Pak Bil menggunakan kecerdasan emosi dalam kehidupan keseharian mereka.

Isi buku dimulai dari cerita Pak Bil mendapat kesempatan berangkat ke Jerman dan Inggris. Sebagai seorang guru, yang notabene berpenghasilan tak cukup untuk membiayai perjalanan ke luar negeri dari kantung sendiri, Pak Bil menjelaskan tentang makna energi positif.

Ia bisa pergi ke luar negeri berkat undangan sebuah LSM. Pak Bil terkenal aktif membangun kegiatan menulis dan membaca sekaligus membuka perpustakaan. Selain memperoleh piagam penghargaan, Pak Bil bisa keliling Eropa untuk menyaksikan pameran buku internasional di Frankfurt dan mengunjungi museum-museum di London.

Lalu di Jerman dia mendapat kesempatan berkunjung ke rumah Goethe yang dikaguminya, dan mengunjungi aneka museum di Inggris. Di negeri Ratu Elizabeth II ini Pak Bil mendatangi 3 museum dan mendapat pengalaman cara mendidik.

Seperti ke Imperial War Museum, Pak Bil jadi paham pentingnya belajar dari pengalaman melalui desain museum yang ditata sedemikian rupa sehingga menghasilkan ‘tampak asli’ kondisi perang dan efek buruk yang ditimbulkannya.  

Sedangkan sikap empati diulas melalui Bu Slim yang baru saja dirundung kemalangan. Suaminya, Pak Bram, mengalami musibah karena sanak saudaranya terkena tsunami di kota ujung Sumatra (Nanggroe Aceh Darussalam?).

Intinya dalam hal berkaitan dengan Kecerdasan Emosi (EQ) terdiri dari dua hal yaitu “motivasi” dan “emosi”.

Menurut Rudolf Steiner, emosi berkembang pada usia antara 7-14 tahun dan disebut inti masa kanak-kanak atau the heart of childhood, dimana para guru harus memperhatikan betul perkembangan perasaan murid pada usia itu.

Tapi selain EQ dan IQ, adapula SQ atau Kecerdasan Spiritual. SQ dipopulerkan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, dan EQ mengefektifkan IQ dan SQ memberi arah penggunaan IQ dan EQ.

Penulis buku, Hernowo, menyampaikan beberapa buku referensi jika ingin mengetahui lebih dalam tentang kecerdasan emosional melalui diskusi tokoh-tokoh di dalam buku. Seperti Daniel Goleman (Working with Emotional Intelligence), Stephen R. Covey (The 7 Habits of Highly Effective People).

Menurut Daniel Goleman (halaman 65) manusia memiliki kecakapan emosi menjadi dua, yaitu kecakapan pribadi dan kecakapan sosial. Kecakapan pribadi meliputi kesadaran diri, pengaturan dan pengendalian diri, dan pembangkitan motivasi.

Sedangkan kecakapan sosial berkaitan dengan dua hal, yaitu empati dan keterampilan sosial.

Kelebihan buku ini hadir dalam ilustrasi gambar berisi fokus tulisan. Sehingga pembaca cepat membaca poin-poin penting. Selain itu ukuran font tulisan yang cukup besar membuat nyaman saat membaca, sekaligus mengingatkan saya pada  buku pelajaran bahasa Indonesia sekolah dasar dimana tulisan menggunakan huruf besar, bahasa baku, dan penuh gambar.

Sayangnya kadang saya menemukan bahasa yang terlalu njlimet, dan sebenarnya bisa hadir dalam bahasa lebih sederhana meskipun baku.  

Memang secara keseluruhan, buku ini bisa menjadi referensi bagi siapa saja yang menaruh minat pada topik pengembangan EQ, atau khususnya tulisan pendidikan atau psikologi.

Bagian paling berguna bagi saya pribadi adalah Glosarium di halaman awal (halaman 11) berisi kata yang sering dipakai di dalam buku dan arti dari kata tersebut. Bagi masyarakat umum atau yang khususnya berkecimpung dalam dunia pendidikan, mungkin tentu telah terbiasa mendengar kata berikut: inner self, emosi, empati, atau kecerdasan emosi, dan mengerti maksud tulisan dengan menggunakan kata-kata tersebut.

Akan tetapi, mungkin bakal kewalahan menjelaskan definisi pasti ketika diminta menjelaskan kata tersebut. Maka Glosarium ini memberi definisi resmi tentang beberapa kata yang saya sebutkan diatas. 

Rabu, 26 Mei 2010

The Ghost Writer

Sutradara : Roman Polanski Skenario : Roman Polanski dan Robert Harris (berdasarkan novel Robert Harris)
Pemain : Ewan McGregor, Pierce Brosnan, Olivia Williams, Kim Catrall
(2010)


Suatu hari di Martha’s Vineyard, sebuah tempat peristirahatan di timur Amerika Serikat bagi kaum kaya raya Amerika. Sang penulis bayangan atau lazim disebut ghost writer, The Ghost (Ewan McGregor) menginjakkan kaki saat kawasan tepi laut itu tengah dipeluk mendung, angin menderu dan ombak bergulung memecah pantai.

Ia sampai di sebuah vila mewah berarsitektur minimalis, dingin dan berwarna kelabu. Vila tersebut dihuni oleh mantan Perdana Menteri Inggris Adam Lang (Pierce Brosnan) dan istri Ruth Lang (Olivia Williams), dan asisten Adam, Amelia Bly (Kim Catrall).

Selain disambut oleh cuaca tak bersahabat, vila mewah namun dingin, The Ghost pun langsung merasakan aura permusuhan antara sang istri perdana menteri versus asisten pribadi. Serta setumpuk naskah belum jadi tentang biografi sang perdana menteri yang ganteng, kharismatik dan berwibawa.

Tokoh utama yang sepanjang film tak pernah disebutkan namanya, menggantikan posisi Mike McAra, ghost writer sebelumnya yang meninggal misterius, untuk mengedit dan menulis ulang biografi Adam Lang.

Dalam penugasannya, ia malah menemukan fakta-fakta yang masih diselubungi misteri, menelusuri sejumlah nama dari masa lalu, termasuk menemukan awal karier politik Adam Lang yang aneh dan penuh missing link. Ia malah bekerja bak reporter investigasi.

Langkah pertama ia lakukan adalah menambahkan peran Ruth Lang yang terasa sangat minim. Secara tak sengaja dia menemukan foto-foto dan catatan lama McAra, membuatnya ingin mengetahui lebih lanjut tentang latar belakang Adam Lang.

Adam Lang terancam digiring ke pengadilan internasional karena di masa lalu ia diduga memerintahkan intel Inggris menculik empat orang tertuduh teroris dan menyerahkan kepada CIA. Karena ancaman ini, Lang memilih untuk sementara menetap di Amerika.

Hal ini menyisakan tanya bagi sejumlah warga Inggris, apakah mantan perdana menterinya adalah antek Amerika alias CIA. Mengapa perdana menteri mereka terlalu penurut terhadap keinginan Amerika saat perang Irak?

Cerita yang diangkat dari buku berjudul sama karya Robert Harris, secara jelas memposisikan sosok Adam Lang jelas terinspirasi dari mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair.

Sepanjang film menyuguhkan cerita thriller politik dengan dialog-dialog antar tokoh, dipadu warna muram dan cahaya yang minim, yang berhasil membangun ketegangan di benak penonton, sekaligus menebak-nebak hingga akhir dari cerita.

Meskipun kita sudah bisa menduga, namun jalan cerita yang mengalir cenderung lambat ini tidak memudahkan kita menebak. Sejumlah dugaan melintas seiring putaran gambar.

Apalagi didukung karakter kuat sejumlah pemain seperti Ewan McGregor sebagai pemeran utama. Kita juga menyaksikan Kim Catrall tampil sebagai sosok yang sangat berbeda dari karakternya sebagai Samantha, salah satu tokoh sentral di Sex and the City.

Kim tampil sebagai Amanda yang cerdas, tenang, sekaligus mengagumi boss-nya, Adam Lang, adu menonjol dengan karakter Ruth yang dingin, angkuh, sinistis sekaligus manipulatif.

Bagaimana dengan Pierce Brosnan yang berperan sebagai Adam Lang? Aktor yang satu ini memang sudah punya pakem peranan sesuai profil dirinya yang tampan sekaligus bergaya gentle. Hanya bagai sekuel karakter yang pernah dibangunnya : dari serial televisi Remington Steele, James Bond, hingga Mamma Mia!

Dalam hal ini Roman Polanski masih tetap sutradara senior yang mempesona. Sajian gambar di awal dan akhir film kuat mengena. Film dibuka dengan kapal ferry telah bersandar di pelabuhan di sebuah hari berkabut. Semua kendaraan beriringan keluar dari lambung kapal dan meninggalkan sebuah mobil BMW X5 tak juga bergerak, lalu berganti snapshot air tenang berbatas kabut, memberikan visualisasi pengendara mobil tersebut (yang dikemudian Anda ketahui sebagai mobil yang dibawa oleh McAra) telah lenyap.

Lalu, pada akhir film divisualkan kertas-kertas beterbangan di jalan raya kota London yang basah dan muram. Tak ada teriak, tak ada desingan peluru, tak ada pula darah muncrat. Hanya suasana kota kelabu menegaskan The Ghost adalah bayangan yang tak pernah eksis.

Roman Polanski meraih penghargaan Sutradara Terbaik untuk film ini dalam Festival Film Berlin 2010.

Frost/Nixon

Pemain : Michael Sheen, Frank Langella
Sutradara : Ron Howard
(2008)


Jika acara talkshow televisi ibarat ring tinju, maka harus ada yang menang dan kalah. Dan ini yang terjadi dalam talkshow Frost vs Nixon.

Terbongkarnya penyadapan telepon di kubu Partai Demokrat, yang dikenal dengan sebutan Skandal Watergate, membuat Richard Nixon (Frank Langella) resmi mengundurkan diri dari jabatan sebagai Presiden AS.

Di tengah perdebatan antara perlunya Nixon minta maaf kepada rakyat Amerika, di saat itu pula pembawaa acara talkshow asal Inggris, David Frost (Michael Sheen), justru ingin mengajukan wawancara eksklusif bersama Nixon untuk ditayangkan di televisi.

Tawaran wawancara dari Frost disambut baik oleh kubu Nixon. Reputasi Frost selama ini sebagai presenter ganteng yang mengawali karir sebagai pelawak, flamboyan, mengelola acara non-politik, dianggap akan mengembalikan citra positif Nixon dalam sebuah sesi tanya-jawab ringan.

Melalui film sepanjang 1 jam 51 menit ini, penonton bisa mengetahui tentang dunia pertelevisian. Kejadian berlangsung pada tahun 1977 ternyata “rating” sudah menjadi tolok ukur sementara “iklan” bagai “infus” sebuah acara.

Frost pada awalnya kelimpungan mencari sumber dana untuk membiayai ongkos produksi rekaman. Menurut Frost, tayangan wawancara Nixon pasca pengunduran dirinya bakal menarik rating tinggi dengan asumsi sekitar 400 juta penonton di seluruh dunia akan menyaksikan tayangan tersebut.

Namun kenyataan yang ditemui di lapangan ternyata salah. Image negatif di masyarakat dan kontroversi yang melekat membuat sosok Nixon (dianggap) tak bakal mengundang penonton.

Frost mengalami berbagai penolakan. Sejumlah stasiun berita enggan membeli ataupun mendanai. Konsep acara ini dinilai tak punya nilai jual. Simak pula salah seorang petinggi stasiun televisi di AS menolak Frost dengan kalimat, “Maaf, tapi peraturan kami tidak membayar sebuah wawancara berita.”

Memang, Nixon memperoleh bayaran untuk wawancara tersebut.

Kemudian kita simak pada paruh awal film, bagaiamana Frost mempersiapkan acara dibantu produser dan periset untuk mempersiapkan sejumlah pertanyaan dan menggali informasi.

Sedari awal kita disadarkan pada sosok Nixon yang keras berhati baja, sebagai negarawan kaya pengalaman tampil penuh percaya diri dan menguasai sesi wawancara. Sedangkan Frost yang berkemauan kuat tampil bak petinju hijau yang sempat kelimpungan terkena jab-jab Nixon.

Sesi wawancara ini berlangsung 4 kali. Dimana syuting selama tiga hari berturut-turut, lalu terhenti karena perayaan Paskah. Selama jeda syuting, Frost yang dalam rangkaian sebelumnya seolah bakal tampil sebagai pecundang, mengumpulkan bahan bersama timnya.

Dengan amunisi yang lebih tajam pada sesi terakhir, melalui bekal investigasi ke perpustakaan pengadilan federal, Frost melontarkan pernyataan kunci bahwa dia mewakili pikiran di benak hampir seluruh masyarakat AS, apakah mantan Presiden menyesal atas Skandal Watergate.

Gotcha! Caption bagus ketika kamera televisi menyorot wajah Nixon secara closeup, di sesi terakhir wawancara.

Usai menjawab pertanyaan tampak wajah Nixon yang murung. Mata menerawang menyiratkan seseorang yang sedang flash back kembali ke masa lalu, mengurutkan rangkaian peristiwa hingga dia mengambil satu keputusan yang mungkin akan menghasilkan keluaran berbeda jika langkah lain yang dia ambil.

Sebuah keputusan telah diambil oleh Nixon, termasuk mengeluarkan apa yang selama ini dia pendam dalam benaknya. Nixon telah Knock Out (KO).

Anda tiba-tiba melihat sosok Nixon yang semula bagai petinju tegar, haus kemenangan, berubah menjadi orang yang perlu dikasihani. Kita sebagai penonton pun sempat bertanya, sebenarnya apa tujuan tayangan televisi yang mencecar sebuah pengakuan kesalahan dari seorang tua yang sudah terbuang dari puncak karir politiknya?

Walhasil Nixon bagai mantan peraih gelar tinju kelas dunia, yang ngotot kembali ke arena ring, untuk kemudian menyadari bahwa dirinya sudah tamat justru ketika sudah di atas kanvas ring.

Rating tayangan ini dianggap tersukses sebagai sebuah talkshow, Frost menjadi pemenang di arena ini.

Film ini memang diangkat dari kisah nyata. Sebelumnya kita ketahui film All the President’s Men (1976), yang dibintangi oleh Dustin Hoffman dan Robert Redford mengangkat cerita nyata tentang dua wartawan The Washington Post, Bob Woodword dan Carl Bernstein membongkar skandal Watergate yang melibatkan Presiden AS, Richard Nixon di era 1970-an.

Dalam film ini penonton disuguhkan teknik jurnalisme investigasi dua wartawan media cetak mengendus keterlibatan Nixon dalam penyadapan, termasuk teknik penelusuran menggunakan narasumber anonim bersandi “Deep Throat”.

Sehingga Film Frost/Nixon seolah melengkapi cerita berlatar dunia jurnalistik dengan fokus pasca terbongkarnya kasus itu dengan membidik tokoh yang hingga meninggalnya pada 1994 akibat stroke tetap meninggalkan silang pendapat tentang keterlibatannya dalam skandal Watergate.

“All the President Men” maupun “Frost/Nixon” merupakan dua buah film menarik yang menyuguhkan dunia jurnalistik, baik tentang kegigihan penggalian berita versus tohokan kamera.

Because She Can (Bos dari Neraka)

Pengarang : Bridie Clark Penerjemah : Siska Yuanita
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (November, 2008)



Bagi pembaca maupun penonton versi film yang diadaptasi dari novel “Devils Wear Prada” tentu ingat karakter Miranda Priestley, bos Andrea Sachs, yang menakutkan?

Nah buku “Bos dari Neraka” juga bertemakan konflik antara bos dan anak buah. Anak buah bernama Claire Truman sedangkan bos bernama Vivian Grant. Berbeda dengan karakter Miranda yang perfeksionis dan ja’im, maka Vivian digambarkan sebagai pribadi kasar, mulutnya tak segan memuntahkan makian dan demanding.

Vivian sebenarnya memiliki kemampuan untuk melihat kesempatan, etos kerja yang tangguh, dan bahkan intuisi marketingnya mampu mencium jenis buku yang bakal laris. Meskipun jangan harap bukunya bakal berupa sastra berkelas.

Tapi yaaaa itu… Vivian Grant punya emosi yang meledak-ledak. Ia doyan bersumpah serapah yang bisa membikin anak buahnya depresi. “Oh, dia lebih daripada sekadar gampang marah,” Jackson tertawa tanpa humor, sambil menggosok-gosok alisnya. “Vivian Grant itu arogan, kasar, dan lebih peduli pada egonya sendiri ketimbang menerbitkan buku-buku berkualitas.” (Halaman 87).

Cerita bermula dari tokoh utama Claire yang stuck dalam urusan cinta dan karir. Lalu dia mendapat keberuntungan. Bertemu kembali dengan pria yang benar-benar membuatnya crush on the heart dari masa kuliah : Randal Cox. Tampan, berlatar keluarga terhormat dan sukses pula secara pribadi.

Randall pun memberi Claire referensi untuk melamar pekerjaan di Grant Books, penerbitan yang dipimpin oleh Vivian. Ia memang sudah merasa jenuh di perusahaan penerbitan tempat ia bekerja selama 5 tahun hingga mencapai Associate Editor.

Secara skala perusahaan, Grant Books jauh diatas P & P tempat dia bekerja. Namun, seperti umumnya tips melamar bekerja bahwa kenali dulu perusahaan yang bakal kamu incar, sebenarnya Claire sudah mendapat informasi ‘miring’ seputar Vivian.

Informasi seperti karyawan yang hanya bertahan beberapa minggu dan selanjutnya berjam-berjam terapi psikiatris. Amukan Vivian memang legendaries dan menjadi mitos di kalangan penerbit.

Hanya saja Claire tetap menerima pekerjaan tersebut. Yang dilihat adalah kesuksesan Vivian melahirkan sejumlah buku best-seller. Ternyata… semua isu itu benar. Pekerjaan menyita seluruh waktunya, ditambah kehidupan pribadinya yang berubah cepat.

Pertunangan dengan Randall Cox yang dilanjutkan rencana pernikahan yang terasa cepat dan hanya karena desakan calon ibu mertua. Claire seolah juga tidak mengenal pribadi Randall yang tergambarkan sebagai pria workaholic. Dalam kondisi yang berbaur masalah itu Claire pun bekerjasama dengan seorang pengarang cerdas sekaligus ganteng.

So, bakal sudah ketebak? Memilih Randall atau Luke Mayville, penulis ganteng sekaligus humble.

Sebuah cerita fiksi yang mengalir ringan termasuk dalam genre chicklit. Tapi yang perlu digaris bawahi, jika Anda tertarik dunia editorial dan penerbitan, cerita di dalam buku ini memberikan gambaran tentang deskripsi kerja dan tantangan menjadi seorang editor cukup detil.

Clash of the Titans : Membandingkan Versi 1981 dan 2010

Clash of the Titans (1981)

Pemain : Laurence Olivier, Maggie Smith, Harry Hamlin
Sutradara : Desmond Davis


***

Clash of the Titans (2010)
Pemain : Sam Worthington, Liam Neeson, Ralph Fienness, Gemma Arterton
Sutradara : Louis Leterrier




Jika sebelumnya di blog ini sudah ada resensi film Clash of the Titans (2010) dari teman saya, Toni. Maka saya ingin menulis sebagai penikmat film Clash of the Titans lawas yang kecewa atas hasil perekaan ulang filmnya.

Sebagai informasi, Clash of the Titans adalah film tahun 1981. Film ini diangkat dari legenda Yunani, tentang petualangan Perseus (Harry Hamlin) –anak Dewa Zeus (Laurence Olivier) yang dibesarkan di desa nelayan- menjalankan misi memenggal kepala Medusa sebelum jatuh hari ke-30. Jika melewati batas hari, maka putri Andromeda dari kerajaan Argos harus dipersembahkan kepada monster laut bernama Kraken.

Ini merupakan kutuk Dewi Thetis (Maggie Smith) akibat Cassiopea ibu dari Andromeda, berani berkata bahwa putrinya lebih cantik daripada Dewi Thetis yang mereka sembah. Selain itu Andromeda seharusnya menikah dengan anak Dewi Thetis, Calibos.

Dengan minimnya teknologi Computer Graphic Interface (CGI) pada saat itu, Clash’80-an berhasil menyuguhkan sebuah cerita fantasi yang kaya akan makhluk ganjil dan dunia ajaib sebagaimana penuturan dongeng, mengandalkan efek visual spesial. Sebagai contoh mereka membuat terlebih dahulu Kraken dalam ukuran boneka mainan umumnya, lalu dengan teknik kamera monster laut itu menjadi seukuran raksasa. Animator Ray Harryhausen yang menjadi creator dalam film King Kong (1933),dan Sinbad and the Eye of the Tiger (1977) berada dibalik kesuksesan visual canggih film ini.

Saya sendiri masih anak kecil saat film ini pertama kali beredar. Hanya mencuri lihat majalah Hai milik kakak berisi ulasan film tersebut lengkap bersama gambar-gambar yang membuat imajinasi dongeng saya bereaksi. Dan ternyata melekat dalam ingatan sehingga saya mencari versi DVD dan menontonnya pada pertengahan 2000-an.

Lalu ketika Clash (2010) tayang April lalu, ekspetasi utama saya adalah bagaimana semaraknya sebuah mitologi diterjemahkan oleh kemajuan teknologi CGI.

Apalagi, Sam Worthington didaulat memerankan tokoh utama Perseus. Hati kaum hawa-ku rasanya siap-siap meleleh melihat kegantengan pria Australia yang belakangan ini tampil di film-film yang banyak diperbincangkan seperti Terminator IV-Salvation dan Avatar.

Tapi ternyata… hmm, sorry to say, saya tidak menemukan greget komputer grafis dalam remake ini. Makhluk-makhluk seperti Kraken dan Medusa versi 80’an tak kalah pamor dengan yang terbaru.

Kawasan kaya cahaya matahari pun diganti dengan sudut cerita yang banyak menggunakan tone gelap. Akhirnya kesempatan menggunakan teknologi terkini kalah karena selera penulis skenario atau sutradara.

Dari sisi cerita terjadi perubahan. Tokoh jahat di Clash’10 adalah Hades, dewa bawah tanah sekaligus adik Zeus. Dan di versi yang terbaru, Perseus bukan jatuh cinta pada Andromeda. Ada Gemma Arterton yang cantik dan bening bak pualam, berperan sebagai wanita yang menohok hati si pria yang dibesarkan oleh nelayan itu.

Sisi pakaian? Jika di film lawas para dewa termasuk Zeus tampil mengilap, versi sekarang juga tak ada eksplorasi ide tentang penampilan para dewa. Malah terasa katrok ketika Zeus bagai penampilan rocker era 90-an dengan rambut gondrong, sepatu lars tinggi, dan berbinar-binar. Ini mengingatkan pada penampilan bapak si Superman yang diperankan oleh Marlon Brando di film lawasnya Superman.

Hades, adik kandung Zeus sekaligus musuh dalam selimut, bagai kembaran Saruman dari LoTR.

Terasa dangkal ketika Perseus yang tumbuh besar sebagai anak nelayan penjala ikan, langsung tokcer berlatih pedang. Ohya, dia kan “anak Dewa”.

Karakter istimewa –tentu saja- Medusa. Konon Medusa wanita cantik sebelum dikutuk dewa menjadi gadis berambut sekaligus berbadan ular. Siapapun yang memandang mata Medusa akan berubah menjadi batu. Ini adalah subyek menantang jika diterjemahkan dalam ilustrasi gambar. Tapi mewujudkannya dalam gambar nyata di film di era 80-an? Itu butuh teknik tersendiri yang membuat penonton jadi terpesona.

Dan bisa dikatakan sesi Medusa bertarung dengan Perseus merupakan adegan mempesona di Clash’80.

Salah satu pembelajaran dari dongeng adalah mengajarkan untuk panjang akal dalam menjalani hidup. Meskipun tokoh utama kalah kuat atau kalah besar dari lawan, akan tetapi berhasil menang berkat kecerdikan.

Namun kecerdikan Perseus mengintip gerakan Medusa melalui balik tameng sekaligus laga individual memakan durasi beberapa menit (versi Clash’80), diubah menjadi menonjolkan kerjasama tim dalam versi terbaru.

Dan satu lagi kekecewaan saya : Pegasus! Bagi penikmat dongeng, nama ini terdengar indah sekaligus visualisasi menarik bahwa Pegasus adalah kuda putih bersayap dan bisa terbang. Mungkin sama halnya jika kamu sudah lekat dengan imajinasi tentang Cyclop si raksasa mata satu.

Whoa! Tapi mengapa di versi 2010 : Pegasus menjadi Black Stallion terbang??? Alias kuda hitam bersayap. Saya jadi berpikir iseng bahwa penulis naskah mempertimbangkan lebih gagah jika kendaraan Perseus adalah kuda hitam sehingga terlihat lebih jantan. Bisa jadi karena Pegasus sudah identik sebagai lambang TriStar Pictures, kompetitor Warner Bros Pictures yang memproduseri film Clash’10 … haha…imho…

Baik. Saya mungkin melankoli kenangan atas film perdana. Akibat cerita dongeng yang plek plek berhasil diterjemahkan dalam bahasa gambar di Clash’80. Seperti seorang pembaca novel –didalam benak sudah ada ekspetasi khayal jika cerita difilmkan- ternyata tak menemukan greget sama saat menonton versi pembaharuan dari cerita yang sama.

Dalam versi Clash’10, Anda bisa jadi teringat film-film fantasi epik yang sudah dibuat sebelumnya seperti The Scorpion King, The Lord of The Rings (LoTR), atau Van Helsing.

Tapi sebagai catatan, cerita di versi 2010 lebih humanis ketimbang plot Clash 80’an yang sesuai pakem dongeng.

Dalam versi 80-an saat menonjolkan ketangguhan Perseus secara individu. Karena dia anak setengah dewa setengah manusia, tampil bak superhero atau sang penakluk. Ia banyak ditolong benda-benda ajaib yang dikirimkan oleh bapaknya, Zeus.

Burung besi, Bubo, sama sekali tak punya peranan. Ya. Era millennium tentu tak percaya gratifikasi benda ajaib dari dewa.

Pembaharuan skenario cerita yang humanis menonjolkan Perseus yang ingin menjadi manusia seutuhnya, mengalami luka fisik sekaligus luka batin, pernah pula merasa kecewa dengan yang Diatas.

Perseus sebagai makhluk sosial harus bekerjasama dengan orang lain untuk menunaikan misi memotong kepala Medusa sebelum gerhana matahari muncul, sebagai tanda putri Andromeda harus dipersembahkan kepada Kraken.

Makna lain yang bisa dipetik adalah tentang menggunakan strategi menghajar lawan tanpa menggunakan tangan sendiri.

Sebagai latar belakang, dahulu langit dikuasai oleh Titan yang memiliki tiga putra yaitu Zeus, Poseidon dan Hades. Ketiga kakak beradik ini berkonspirasi menggulingkan orangtuanya sendiri dimana Zeus memanfaatkan Hades untuk menyingkirkan Titan, sekaligus menelikung dan membuang Hades ke dunia bawah.

Siapa menanam dia akan menuai. Bak nasehat anak durhaka menggulingkan orangtua sendiri bakal kena karmanya, maka Zeus pun diincar dendam sang adik (Hades), penolakan pengakuan dari sang anak, dan kembali Zeus harus menyingkirkan musuh tanpa menggunakan kekuatan sendiri. Perseus adalah ‘senjata’ sang ayah untuk menyingkirkan Hades.

Hanya sayang akting Sam Worthington sangat kurang menonjolkan sisi dramatisasi manusia. Wajahnya nyaris sama sepanjang film meskipun dia mengalami kesedihan saat orangtua dan adik angkatnya mati tenggelam, atau saat menjadi manusia udik masuk kota, hingga menjadi calon pahlawan.

Aktingnya justru lebih menonjol saat berperan sebagai manusia cyborg berhati manusia di Terminator Salvation.

Memang toh saya menonton Clash’10 sebagai mengenang film lawas favorit, sekaligus menerapkan fungsi film : sebagai media hiburan.

My Blueberry Nights

Waktu : 112 menit
Pemain : Jude Law, David Strathairn, Rachel Weisz, Natalie Portman,
Sutradara : Wong Kar Wai
(2007)


Berbeda dengan penulis skenario dan sutradara Cina umumnya yang larut dalam film aksi, Wong Kar-Wai malah senang menyajikan drama-drama romantis.

Belajar desain grafis di Hong Kong, pria kelahiran Shanghai Cina pada 1958 ini merintis jalan ke perfilman melalui film-film drama televisi. Ia menjadi penulis skenario sekaligus sutradara. Film My Blueberry Nights (2007) merupakan film bahasa Inggrisnya yang pertama.

Film ini sendiri sebuah cerita cinta yang penuh bahasa gambar, menyajikan makna tersirat, dengan problematika masing-masing.

Cerita berawal di suatu malam di bar milik Jeremy (Jude Law). Perhatiannya terarah pada seorang pengunjung berwajah murung yang belakangan diketahui bernama Elizabeth alias Lizzy (Norah Jones). Tampak ia menggunakan telepon umum dan sikapnya dalam bercakap-cakap melalui telepon umum menunjukkan tengah terjadi baku emosi sengit.

Lizzy lalu menitipkan kunci apartemen kepada Jeremy. Hari-hari selanjutnya Lizzy rutin berkunjung ke bar hanya untuk menanyakan apakah kunci itu sudah diambil. Ia berharap suatu hari kunci tersebut diambil sang pacar (orang yang menjadi mitranya berbicara di telepon umum).

Hanya sia-sia. Kunci itu tak pernah diambil. Jeremy menunjukkan sebuah toples bening penuh berisi kunci yang tak diambil pemiliknya. Jadi, Lizzy adalah orang kesekian dengan kejadian sama. Lizzy pun memutuskan berkelana. Kerja double-shift di dua restoran demi mengumpulkan uang untuk membeli mobil. Melanglang mengikuti jalur yang terkenal dengan istilah Route 66, seperti New York, Memphis, Nevada, dan Las Vegas.

Dalam petualangannya ia menjadi pengamat kisah cinta bermacam-macam karakter. Seperti kisah cinta bertepuk sebelah tangan antara Arnie dan Sue Lynne (Rachel Weisz). Lalu bertemu penjudi, Leslie (Natalie Portman) dan menjadi sahabat seperjalanan. Cinta Leslie ditujukan kepada ayahnya sekaligus gurunya belajar memainkan kartu termasuk trick permainan.

Dan setahun kemudian Lizzy kembali ke New York. Kembali ke bar dan menemui Jeremy.

“Kamu mengingatku seperti apa? Sebagai gadis yang menyukai blueberry pie, atau sebagai gadis yang patah hati?” demikian pertanyaan Lizzy kepada Jeremy. Selama setahun pergi, Lizzy rajin mengirimkan kartu pos tanpa alamat kepada Jeremy.

Lalu film pun ditutup dengan ciuman antara Lizzy dan Jeremy yang digambarkan dalam lumernya es krim vanilla di kue blueberry yang senantiasa dikudap Lizzy saat berkunjung ke bar.

Sebuah film berdurasi sekitar 1 jam 52 menit seolah putaran scene yang datar. Tapi inilah gaya Wong Kar-Wai yang senang bermain dalam bahasa gambar.

Contoh bahasa gambar lain adalah pada saat Lizzy pulang ke New York. Sebelum memasuki bar, terpampang snapshot wanita ini pulang sembari membawa tas Louis Vuitton berukuran besar–merek mahal menandakan keberhasilan merantau cari uang- memasuki restoran Jeremy.

Silahkan memaknai inilah cinta sebenarnya yang butuh waktu untuk menyadari kehadirannya.

Selama kurang dari 2 jam, penonton disuguhkan cerita yang datar, tanpa gejolak dan ledakan, semelankolis wajah Lizzy. Film ini merupakan aksi perdana penyanyi peraih Grammy Award, Norah Jones.

Minggu, 18 April 2010

Detektif Conan ke-56

Penulis : Aoyama Gosho
Penerbit : PT Elex Media Komputindo – Jakarta (Cetakan I : 2010)


Ngakunya sudah jenuh, tapi ternyata rasa penasaran lebih besar, dan terlanjur gandrung mengikuti kisah Detektif Conan.

Sejak awal April 2010, Anda sudah bisa menemukan komik Detektif Conan serial No. 56 di toko buku dan kios majalah.

Cerita pertama tentang memecahkan kasus ruang tertutup (lagi). Jika rutin mengikuti petualangan bocah bernama Conan Edogawa, pembaca menemukan istilah ‘kasus ruang tertutup’, yaitu modus pembunuhan dimana korban ditemukan di dalam ruangan tertutup misalkan di kamar tidur tanpa ada jejak dari pembunuh, kamar dan jendela terkunci sehingga seolah tak mungkin ada seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut. Sehingga ketika korban ditemukan pertama kali, seolah terlihat mati bunuh diri, atau meninggal secara wajar.

Saya kemukakan kata “lagi” karena jika rajin mengikuti serial ini, pembaca berkali-kali pula menemukan kasus semacam ini. Hanya beda trik dan benda yang dipergunakan untuk membantu pelaku menyelesaikan pekerjaannya.

Kali ini korban bernama Masataka Moroguchi, penulis novel misteri berusia 52 tahun. Dari awal cerita sudah ditampakkan tabiat Moroguchi yang tak simpatik sehingga sudah pasti mengundang musuh sakit hati.

Rencananya, bakal berlangsung dialog antara Moroguchi dengan Detektif Kogoro Mouri yang diliput oleh Kakuji Dejima (penulis), Wataru Tarumi (juru kamera) dan Harue Anabuki (redaksi majalah). Kogoro Mouri adalah ayah Ran dimana di rumahnya Conan numpang tinggal.

Ternyata besok paginya Moroguchi ditemukan telah meninggal di dalam kamar tidurnya yang terkunci. Ketiga tersangka masing-masing punya peralatan kerja andalan yang bisa menjadi senjata pembunuh. Sebuah cerita menarik sebagai pembuka komik ini secara keseluruhan. Selanjutnya adalah pemecahan kasus melibatkan Detektif Cilik, yang beranggotakan Conan dan teman-teman satu sekolahnya.

Cerita terakhir adalah bagian dari memecahkan masa lalu murid pindahan teman Ran dan Sonoko, Eisuke Hondo, yang dalam beberapa seri sebelumnya terlihat samar. Hingga menutup bacaan, tetap menggantung, dan tetap tidak menarik. Karena secara pribadi, menurut saya, kehadiran Eisuke dari awal terlalu dipaksakan :-)

Sabtu, 03 April 2010

ayo berlatih dengan sang naga!

bagaimana bila seorang membelot dari tradisi? apalagi tradisi yang dilanggar merupakan kebanggaan bangsa Viking yang kesohor itu: membantai naga. demikian tema yang mau diangkat oleh film: How to train your dragon. judulnya terdengar sangat teknis, namun jangan salah duga dulu, isinya sangat menghibur.

film animasi yang diangkat dari novel karangan Cressida Cowell mengambil setting bangsa Viking yang melatih anak-anak mereka bagaimana menaklukkan aneka macam naga. dengan demikian mereka mewariskan kebencian manusia terhadap mahluk reptil itu. berbagai latihan dan manual mereka pelajari untuk dapat membunuh naga. namun, Hiccup anak sang kepala suku punya cara yang aneh, alih-alih mengacungkan pedang, ia malahan melepaskan semua persenjataannya maju mendekati sang naga dan membelai-belainya. teknik ini dipelajari dari perjumpaannya dengan Toothless, seekor naga Night Fury berwarna biru dengan mata besar (mengapa wajahnya mengingatkan pada Lilo and Stitch?). Toothless ditemukannya di dekat danau dan tidak dapat terbang ke mana-mana karena sebelah sayap pada ekornya telah tiada.

Hiccup belajar banyak mengenai naga dari Toothless, lebih dari itu ia belajar mengenal dunia nan luas karena kemudian dapat menunggang sang naga terbang. Astrid yang memusuhi Hiccup dan menjadi pesaingnya dalam pelajaran menaklukkan naga, akhirnya mengetahui rahasia ini. Toothless membawa mereka berdua terbang tinggi, mengajari mereka mengenai arti persahabatan, dan menunjukkan sebuah rahasia besar di dunia naga. lihatlah bagaimana reaksi Astrid kemudian:
Astrid: [sambil meninju Hiccup] That's for kidnapping me.
[kemudian mencium Hiccup] Astrid: That's for everything else.

akankah prasangka dan tradisi bangsa Viking sebagai penakluk naga akan berubah? bagaimana Hiccup berjuang membela Toothless dari pembantaian?

film ini layak ditonton sebagai hiburan keluarga yang memberikan pelajaran mengenai prasangka, kebanggaan, serta nilai-nilai persahabatan.

untuk itu menurut saya ia layak mendapat nilai 8 dari 10.

Kamis, 01 April 2010

pertarungan para dewa

Sam Worthington setelah sukses berperan di film Avatar kini beraksi kembali di film Clash of the Titans yang dirilis 1 April 2010. kali ini ia memerankan tokoh Perseus, anak Zeus sang Mahadewa, yang lahir sebagai manusia. berlatar belakang kisah mitologi Yunani, film ini memperlihatkan bagaimana manusia bertarung melawan superioritas para dewa, dan celakanya di alam abadi para dewa pun saling bertarung.

penduduk kerajaan Argos menumbangkan patung mahadewa Zeus ke dasar laut. hal ini menimbulkan kemarahan Hades adik Zeus yang menguasai alam neraka (underworld). ia meluluhlantakkan pasukan Argos dan berjanji akan melepaskan sang monster Kraken tepat saat gerhana matahari untuk menghukum manusia yang tidak lagi menghormati para dewa.

Perseus sebagai manusia setengah dewa (karena Zeus ayahnya), ikut serta sebagai pasukan Argos melawan Hades. kalajengking raksasa, perjumpaan dengan para penyihir, dan perjalanan mereka ke underworld untuk mencari Hermes, puteri cantik berbadan ular dengan rambut terdiri ratusan ular itu benar-benar mendebarkan. jangan coba-coba melirik dan memandang mata Hermes! sudah banyak prajurit yang menjadi patung batu dibuatnya!

film ini berhasil menyajikan gambar-gambar indah dunia mitologi Yunani. tak luput para puteri nan cantik rupawan: Andromeda dan Io (endingnya belum jelas mengenai siapa jodoh Perseus). namun kesan film Avatar dan Harry Potter mengapa sangat terasa di film ini? mungkin karena Sam Worthington pemeran utamanya, dan Ralph Fiennes (si Voldemort) berperan sebagai Hades yang jahat itu yaaa...

secara keseluruhan, film ini layak mendapat nilai 8 dari 10.

Minggu, 07 Februari 2010

Rumah Dara


Pemain : Julie Estelle, Ario Bayu, Sigi Wimala, Shareefa Danish Sutradara : Timo Tjahjanto



Dalam dunia sinema dikenal istilah film-film bergenre Slasher, dimana tokoh antagonis bukan hantu, melainkan manusia yang mengalami gangguan jiwa seperti psikopat.

Sebut saja sebagai contoh adalah Halloween, My Bloody Valentine, Jason, atau Saw. Sudah pasti di film-film seperti ini mandi darah, teriak histeris korban, selain pisau, clurit, kapak hingga gergaji listrik sebagai senjata pembunuh bakal menjadi tontonan.

Tapi untuk film Indonesia, sepertinya genre slasher masih jarang atau bisa dikatakan belum ada.

Oke, alasan saya menonton ini karena penasaran ingin ‘menyaksikan’ film genre terror jiwa dalam citarasa film lokal. Alasan kedua, saya yang berniat marathon nonton dari satu studio ke studio lain ternyata salah lokasi. Niat utama mencari “Sherlock Holmes” yang memang sudah tidak gres lagi di bioskop.

Sudah baca jadwal dan lokasi bioskop, tapi ternyata saya salah membedakan antara Blok M Square vs Blok M Plaza. Kadung berada di depan loket….walaupun sempat bertanya dengan mbak penjaga tiket yang menjelaskan kesalahan saya...akhirnya menonton film berdurasi satu jam lebih ini.


Film Rumah Dara dibuka dengan pasangan suami istri Adjie (Ario Bayu) dan Astrid (Sigi Wimala) dan teman-temannya datang menemui Ladya (Julie Estelle) di tempat kerja.

Hubungan sepasang kakak beradik Adjie dan Ladya tak harmonis sejak kedua orangtua mereka meninggal kecelakaan. Ladya menyalahkan Adjie sebagai penyebab kecelakaan yang dialami oleh orangtua mereka, dan memilih bekerja sebagai pelayan bar ketimbang bergantung pada sang kakak.

Adjie pamit mau berangkat ke Australia untuk bekerja disana. Dan berharap Ladya mau menghentikan permusuhan, kuliah dan malam itu ikut mengantarkan sang kakak ke bandara. Total di dalam mobil berisi 6 orang bersama teman-teman Adjie.

Di tengah jalan, mereka bertemu wanita misterius Maya yang mengaku dirampok dan bingung pulang ke rumah. Maya mengatakan kebetulan rumahnya dilalui dalam perjalanan dari Bandung menuju Jakarta.

Tiba di rumah Maya, mereka berkenalan dengan sang ibu yang bernama Dara (Shareefa Daanish) dan dua kakak lelakinya.

“Rumahnya gaya old school banget,” lebih kurang demikian komentar teman yang diperankan oleh VJ Daniel. Tak hanya rumah bergaya kolonial yang di tengah hutan, perkataan seperti itu memang mewakili gaya keseluruhan keluarga dan rumah Dara. Penampilan ibu berbaju potong pinggang dilapis cardigans dan gelung cepol, saudara lelaki klimis pomade, radio transistor, dan alat pemutar film gaya dulu.

Sebagai ucapan terimakasih telah menolong sang putri, Dara mengajak para tamu untuk makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Makan sambil bersantap anggur dan mengunyah hidangan yang menurut Ladya dan kawan-kawannya belum pernah mereka menyantap rasa daging seperti yang disuguhkan saat itu.

Belum habis makanan disantap, para tamu merasa pusing dan pingsan. Saat mereka tersadar, terjadi hal-hal yang tak mereka bayangkan sebelumnya.

Teror penyekapan, darah berceceran dimana-mana, jagal tubuh manusia, pisau hingga gergaji listrik menjadi sajian di dalam cerita. Sutradara pun tak sungkan untuk menampilkan mata tercolok pensil, jari terpotong dan lengan tersayat.

Dalam satu adegan terjadi kejar-kejaran di hutan hingga salah satu teman Ladya berhasil ditemukan di jalan oleh polisi patroli. Empat orang polisi pun menuju rumah Dara untuk minta konfirmasi. Penampilan polisi sangat main-main. Aneh juga cara sang kepala polisi memperkenalkan diri, “Saya Sherif…” mmm apakah Indonesia mengenal jabatan Sherif dalam kepolisian? Atau maksudnya nama pak polisi itu Sherif?

Lalu seandainya Ladya dan kawan-kawan melihat cincin batu besar yang dikenakan Maya, mereka tentu berpikir ulang untuk menolong, karena mengapa tak sekalian cincin itu dirampok? (tapi cerita ga bakal lanjut dong…..).

Dalam percakapan di meja makan terjadi pula diskusi dalam bahasa Belanda antara ibu Dara bersama anak-anaknya. Seolah memberi nafas inlander, tapi sayangnya tak diberi terjemahan teks dalam bahasa Indonesia. Padahal, pasti penonton yang mampu berbahasa Belanda sangat jarang.

Permusuhan antar kakak beradik yang kemudian mencair karena bahu membahu menyelamatkan diri pun mengingatkan akan sepasang kembar tokoh utama di film House of Wax.

Secara keseluruhan jalan cerita film cukup rapi. Kebingungan penonton mengapa wajah Dara yang terlihat awet muda tanpa kerut, terjawab menjelang akhir film. Kilas balik masa lalu disajikan dalam hitam putih turut mudah dipahami.

Tujuan film ini sebagai genre slasher-thriller yang membuat penonton duduk diam sembari bergidik cukup berhasil. Sehingga saya beri nilai 8 dari total penilaian 10. Jika Anda tak kuat melihat darah yang berceceran dimana-mana atau adegan sadis, film ini tak layak Anda tonton, apalagi bukan untuk menghibur.