Kamis, 18 Desember 2008

Filsuf Jagoan 1 & 2

Oleh : Fred van Lente & Ryan Dunlavey
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) - (2007)


Pada dasarnya, Saya tertarik filsafat. Tapi entah mengapa saya berkali-kali membaca Filsuf Jagoan, tapi tetap tidak nyambung. Seolah otak saya terbatas untuk memahami filsafat. Meskipun Filsuf Jagoan, sebuah bentuk sederhana penyampaian filsafat. Dengan gaya ringan, melalui cerita bergambar karikatur.

Buku ini mengenai para filsuf terkemuka dan konsep yang dikemukakan oleh masing-masing tokoh.

Filsuf Jagoan berbentuk komik (atau sekarang disebut Novel Grafis?), menceritakan biografi filsuf, dari latar belakang kehidupan, bagaimana ia menelaah permasalahan dan memaparkan teorinya.

Kelebihannya, bagi awam filsafat –yang baru mau mengetahui- buku ini mudah dicerna (sederhana), tampil dalam gambar hitam putih, kocak dan kadang memancing tawa. Mudah dibaca, sembari ngemil dan bermalas-malasan. Dan sst.. jangan percaya tampang asli filsuf memang seburuk di komik. Contohnya, coba klik searching foto Soren Kierkegaard di Google. Filsuf terkemuka Denmark (1813-1855) wajah aslinya jauh lebih cakep ketimbang hasil karya Ryan Dunlavey..... :-))

Tapi memang Ryan Dunlavey dan Fred van Lente, masing-masing sebagai tukang gambar dan penulis komik berseri ini, bertujuan menjadikan Filsafat sebagai sesuatu yang menyenangkan. Tidak serius. Maka para filsuf tampil bak jagoan superhero komik layaknya Superman, Batman, dsb.

Hmm... meski berusaha lugas, yah seperti saya ungkapkan di awal tulisan, sebagai pembaca, saya tetap butuh berulang-kali membaca dan mencerna isi cerita. Mungkin sama halnya saya mempelajari rumus fisika, perlu mencerna kalimat per kalimat sebelumnya menggangguk ngerti. (Itupun sambil garuk-garuk kepala....).

Ohya, pada beberapa gambar tampil eksplisit, sehingga perlu sensor pula untuk usia pembaca atau butuh pemahaman luas, karena teori filsuf kadang menyentuh soal agama dan keyakinan.

Pada Filsuf Jagoan Jilid 1 memaparkan 9 tokoh : Plato, Bodhidharma, Nietzsche, Thomas Jefferson, Santo Agustinus, Ayn Rand, Sigmund Freud, Carl Jung, Joseph Campbell.

Jilid 2 menampilkan : Karl Marx, Machiavelli, Kabbalah, Descartes, Sartre, Derrida, Wittgenstein, St. Thomas Aquinas, Kierkegaard.

Saya membeli dua komik masing-masing pada akhir 2007 dan awal 2008. Nah, sudah hampir tutup tahun 2008, tapi rasanya saya belum melihat Filsuf Jagoan Jilid 3 beredar di toko buku. Padahal, pada lembar terakhir di Jilid 2 sudah dicantumkan Jilid 3 bakal ”Segera Terbit” dengan memuat filsuf antara lain : Socrates, Kant, Hegel, Lao Tzu, Rousseau, Hobbes, dan Francis Bacon. Masih perlu sabar menunggu......

Selasa, 09 Desember 2008

The Kite Runner

Pemain : Khalid Abdalla, Atossa Leoni, Shaun Toub
Sutradara : Marc Forster (2007)

Ada persahabatan kanak-kanak. Persahabatan tanpa mengenal strata ekonomi. Namun, semua berakhir setelah satu kejadian usai festival layang-layang. Semua terjadi di satu sudut kota di Kabul, Afghanistan.

Lalu sebuah cerita berlanjut. Invasi Uni Soviet ke Afghanistan pada tahun 1979, membuat Amir dan ayahnya yang anti komunis melarikan diri ke Pakistan. Menuju tanah kebebasan : Amerika Serikat. Di sana, ayahnya bekerja sebagai petugas pompa bensin, Amir belajar hingga lulus college dan merealisasikan cita-cita menjadi Penulis.

Amir tumbuh dewasa di negeri Paman Sam. Menikah dengan Soraya, putri jenderal (pelarian dari Afghanistan pula), hidup bahagia. Ia sudah melupakan masa kecilnya di Kabul. Tepatnya di bagian pertemanan masa kecilnya bersama Hassan, anak pembantu di rumahnya.

Ia sudah pula mempublikasikan novel karyanya. Ketika tiba-tiba pada 2000-an, sebuah telepon mengingatkannya kembali akan cerita persahabatannya dengan Hassan.

Telepon berasal dari , teman sang ayah, membuat Amir mengetahui bahwa Hassan sudah meninggal. Namun, minta menyelamatkan putra Hassan dari panti asuhan di Afghanistan, untuk memberikan hidup lebih baik. Amir juga baru tahu apa relasi antara dia dan Hassan yang selama ini tidak ia ketahui.

Karakter utama, Amir, juga bukan tokoh heroik dan super. Boleh jadi kita sempat ill-feel dengan Amir yang pengecut, tak setia kawan, tidak mau menolong Hassan yang mengalami penganiayaan dari gerombolan anak laki-laki yang usianya lebih tua.

Kita cap Amir si pencari aman, lebih baik menghindar ketimbang mengatasi keadaan. Dan memang sepertinya begitu karakternya, hingga akhirnya ia terbukti punya sikap : menolong Sohrab (putra Hassan), membungkam omongan mertuanya yang merasa tidak pantas Amir mempertaruhkan nyawa demi turunan Hazzara.

Hazzara adalah kaum minoritas di Afghanistan, berasal dari daerah antara perbatasan Afghan, Rusia, dan Cina, dimana secara fisik mereka lebih terlihat seperti Cina Utara.

Film yang diangkat dari buku karya Khaled Hosseini, bukanlah bergaya cepat atau action. Mutlak drama dilatari konflik perang. Jalan cerita lambat, namun touchy dan menggali humanisme. Menyindir manusia dengan berbagai sifatnya. Pada beberapa frame gambar, sosok Taliban ditampilkan, silahkan kita beropini meski berkoar-koar mengatasnamakan agama, mereka juga ’manusia sakit’ : ada yang pedofilia, menghujat manusia lain sebagai pendosa dengan tindakan ekstrim, dan anarkis.

Jenderal, mertua Amir, yang meskipun sesama ’kaum terbuang’, namun masih merasa punya strata lebih tinggi. Misalkan saat Amir mendekati sang putri, bagi sang mertua ia cuma ’penulis’. Bukan ’dokter’, sebuah profesi yang terdengar lebih bergengsi. Termasuk pula masih berpikir bahwa kaum Hazzara lebih hina. Adapula yang mengundang senyum, pada adegan kebencian ayah Amir terhadap komunis (Uni Soviet), membuat ayahnya langsung cabut dari ruang periksa, setelah ia tahu dokter yang memeriksanya imigran dari Rusia.

Film ini cukup rekomend- untuk ditonton. Sayapun jadi penasaran ingin membaca bukunya (sorry, saya pribadi kenapa yah? suka malas membaca buku yang sudah ada filmnya. Maksudnya, jika mendengar buku tsbt bakal difilmkan, ya sudah, saya tunggu saja filmnya).

(Gambar dikutip dari : www.entertainmentwallpaper.com)

Sabtu, 06 Desember 2008

Madagascar 2 (Escape 2 Africa)

Hooray! Akhirnya Madagascar 2 meluncur di bioskop. Namun, setelah menanti sekian tahun jeda setelah Madagascar (yang pertama), rasanya usai menyaksikan sekuel-nya bakal meluncur komentar, “Tidak selucu yang pertama.” :(

Sebagai kilas balik, Madagascar menceritakan empat sekawan penghuni kebun binatang New York : Alex (singa), Marty (zebra), Melman (jerapah), Gloria (kuda nil). Berbeda dengan Alex yang sangat menikmati kehidupannya sebagai bintang/ikon kebun binatang, Marty merasa jenuh dan ingin kembali ke Afrika, menjadi hewan dengan kehidupan binatang yang sebenarnya di habitatnya.

Karena kabur dan menimbulkan kehebohan di stasiun KA bawah tanah, mereka bersama simpanse dan pinguin dimasukkan ke dalam kapal laut. Dikapalkan ke Afrika. Namun, di perjalanan, para pinguin melakukan kudeta terhadap kelasi kapal dan membuat kapal terdampar ke Pulau Madagaskar (Madagascar).

Dimulailah petualangan kuartet New York di Magadaskar. Menyelamatkan sigung dari para hyena jahat. Lalu pada akhir film, mereka meninggalkan pulau dengan kapal laut, bersama para pinguin dan simpanse. Alex pun sudah belajar menyukai citarasa daging ikan (sushi). Ini keluar dari mainstream singa yang carnivora, harus makan daging kaki empat, dan itu berarti Alex tidak bakal memangsa Marty si sahabat.

Pada akhir film, mereka berangkat bersama kapal laut menuju Afrika. Namun, di sekuel kedua ini, mereka pergi menggunakan pesawat terbang rongsok peninggalan Di tengah perjalanan, pesawat kehabisan bensin. Sekali lagi mereka mengalami kecelakaan transportasi. Ternyata mereka mendarat di... Afrika. Tepatnya, di taman nasional Afrika tempat para binatang dibiarkan bebas, berkehidupan dan sesekali turis (manusia) datang untuk motret-motret. Kuartet pun pulang kampung!

Madagascar-2, diawali dengan kilas balik bagaimana Alex kecil bisa sampai di kebun binatang New York. Alex kecil sedang dilatih bersama ayahnya untuk belajar galak, menjadi singa sebenarnya. Alih-alih belajar bertarung, Alex kecil sudah menunjukkan bakatnya menari dan menghibur.

Alex kecil dipancing para pemburu, dimasukkan ke dalam peti kayu, dibawa pergi dalam truk. Ayahnya pun berupaya menyelamatkan Alex. Apesnya, peti kayu jatuh ke sungai dan terbawa ke laut lepas, lalu terdampar di Amerika Serikat. Bagian cerita ini mengingatkan kita pada film The Wild.

Setelah terdampar, Alex bertemu kembali dengan ayahnya. Namun, pulang bukan berarti tak ada masalah. Alex harus bertarung bersama saudara ayahnya untuk bersaing memperebutkan kedudukan raja di komunitas taman nasional itu. (Ingat cerita Lion King : Scar vs Simba).

Kenapa jalan ceritanya terasa tidak orisinil? Melman yang ternyata lama menyimpan cinta terhadap Gloria; upacara persembahan memanggil air. Semua mengingatkan pada film The Wild. (Tapi toh sebagai pembenaran :Jadi inget prinsip bahwa tak harus yang pertama/orisinil, tapi bagaimana mengolah ide sehingga hadir lebih kreatif).

Nenek maniak yang bertemu di stasiun sentral (Madagascar), kembali dihadirkan di Madagascar 2. Porsinya pun ditambah sebagai turis di taman nasional, sekaligus enemy dari Alex. Namun, kok jadi sickening?

Dalam sekuel ini, persinggungan dengan manusia dikisahkan melalui para turis korban pinguin. Empat sekawan pinguin mafioso membajak dan melarikan mobil wisata mereka. Lalu, para turis yang tersesat hidup ala manusia hutan, termasuk membendung sungai sumber air para satwa. Ingin menyentil manusia yang merusak keseimbangan ekosistem? Hmm...sayang hanya jadi sempalan cerita.

Yap. Tapi memang nonton film ini sebagai hiburan semata. Pereda ketegangan otot mulut dan otak. Pelepas rasa penasaran apa yang terjadi dengan Alex, Marty, Gloria dan Melman. Tidak lebih.

(Gambar dikutip dari : )

Minggu, 30 November 2008

When God Winks - Menangkap Isyarat Tuhan dari Peristiwa-Peristiwa Kebetulan


Oleh : Squire Rushnell
Jumlah Halaman : xx + 155 halaman
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama (2006)


Pada awal tulisan, Penulis menceritakan pengalaman pribadinya tentang isyarat dari Tuhan. Sejak duduk di sekolah menengah pertama, Rushnell berbicara pada gagang sapu, membaca koran keras-keras, bergaya bak penyiar radio menirukan disc jockey favoritnya, Dean Harris.

Lalu pada usia 15 tahun, ia mencari tumpangan ke Watertown, yang letaknya 10 mil ke utara, untuk wawancara kerja sebagai penyiar di WCNY-TV. Ia memperoleh tumpangan dari pria botak ber-Volkswagen hijau. Baru diketahui ketika ia sudah sampai di tujuan bahwa pria pemberi tumpangan adalah sang idola, Dean Harris!

Bagi Rushnell muda, kisah itu bukan sekadar kebetulan saja. Tapi memang bagian dari urutan peristiwa yang menuntun untuk suatu kekuatan besar menuju tujuan hidup.

”Kebetulan” didefinisikan sebagai suatu urutan peristiwa yang meskipun terjadi tanpa disengaja, tetapi sepertinya sudah direncanakan atau diatur. Sementara ”mengedipkan sebelah mata” (winks) adalah memberi tanda, isyarat atau mengungkapkan suatu pesan.

Rushnell mempercayai bahwa dalam hidup ini setiap orang mengalami saat Tuhan mengedipkan sebelah mata kepada umatnya. Ia memberi suatu isyarat atau pesan pribadi, dalam bentuk kebetulan. Meskipun tidak selalu, namun sebaiknya orang memperhatikan setiap langkahnya.

Bagi pembaca-pembaca buku motivasi, pendapat ini mengingatkan pada buku seperti ”The Secret”. Intinya : lakukanlah segala sesuatu yang bisa Anda lakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi jawaban Sang Pencipta atas harapan dan doa Anda. Do the best, God will do the rest.

Buku ini terbagi atas tiga bagian. Bagian pertama, adalah membuka mata untuk melihat isyarat. Di bagian kedua adalah menggunakan isyarat Tuhan untuk memperkaya hidup, dan di bagian ketiga membahas kebetulan di segala bidang kehidupan. Di bagian terakhir ini, menjadi petunjuk praktis bagi pembaca untuk isyarat dalam bentuk kebetulan. Entah itu dalam hubungan percintaan, keluarga, sejarah, seni, olahraga, serta karier dan perusahaan. Atau untuk menyadari bentuk kebetulan yang menyelamatkan jiwa, kebetulan di akhir hayat, dan kebetulan-kebetulan kecil.

Dalam buku ini dikutip pengalaman pribadi orang tentang ’kebetulan’ seperti dialami oleh Oprah, Bill Clinton, atau keluarga Kennedy. Namun, bermacam contoh di setiap bagian buku, justru menjebak penulisan jadi terasa membosankan.

Akan tetapi, buku ini bisa menjadi salah satu buku motivasi diri alternatif. Pada berbagai bagian kita memperoleh kutipan kalimat menarik untuk diingat. Ohya, saya pribadi ada yang mengena di hati : ..... mungkin kekuatan itu tidak menuntun kita pada jalan yang telah kita pilih sendiri atau secepat yang kita inginkan, tetapi bagaimanapun, kekuatan itu menuntun kita. Ketika kita membawa diri sejauh kita bisa dan merasa bahwa kita tidak bisa pergi lebih jauh lagi, saat itulah kita harus bersiaga mencari isyarat Tuhan. Isyarat itu akan muncul. (Halaman 17).

Squire Rushnell sendiri adalah pembicara tentang masalah motivasi/inspirasi populer, mantan Presiden dan CEO di sebuah stasiun televisi kabel, dan eksekutif ABC Television Network selama 20 tahun.

Detektif Conan No. 52

Oleh : Aoyama Gosho
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo (2008)


November ini, Detektif Conan sudah mencapai seri ke-52. Kali ini Conan berkolaborasi bersama Detektif Cilik, Ai Haibara dan Profesor Agasa memecahkan rencana bunuh diri yang dari seorang pemuda yang ditemui saat menunggu pemutaran preview film Star Blade.

Dalam kasus lain bersama Detektif Cilik membongkar kasus pembunuhan seorang penulis. Lalu, mencari pembunuh yang menyusup di tengah resepsi pernikahan. Cerita utama saat Conan, Ran dan sahabat Ran, Sonoko, hunting pohon maple. Dua perempuan itu berencana menggantungkan saputangan merah di pohon maple, mengikuti cerita yang terdapat di dalam serial drama televisi”Maple Musim Dingin”.

Di luar dugaan, gunung yang disebut-sebut sebagai lokasi syuting, dipenuhi saputangan merah akibat kepopuleran serial tersebut. Dan, mereka menemukan staf AD drama tersebut sudah menjadi mayat! Jelas insting detektif Conan bekerja untuk mencari dan menemukan pembunuh Hozumi. Dalam kasus ini Makoto Kyogoku, jagoan karate yang cool pacar Sonoko, muncul lho....

Hingga seri ini, Conan Edogawa a.k. Shinichi Kudo belum berhasil menemukan Organisasi Hitam yang mengubahnya menjadi anak kecil, untuk mengembalikan wujudnya ke anak Sekolah Menengah Atas. Namun, sepertinya pelacakan jejak penjahat terorganisir sudah mentok (untuk sementara) hingga di seri 50-an di kisah reporter televisi Reina Mitsuhasi (?...CMIIW) ternyata kaki tangan organisasi.

Meski belum menemukan titik terang, dalam keseharian selalu ada saja kasus yang perlu dipecahkan Conan.

Ini komik manga satu-satunya yang masih kutunggu penerbitannya. Setiap seri menyajikan beberapa kasus berbeda ditemui Conan Edogawa dalam upayanya melacak Organisasi Hitam, sambil numpang tinggal bersama Detektif Kogoro Mouri (ayah Ran).
Kapan kelarnya yaa....? Yang pasti cuma sang pengarang –Aoyama Gosho- yang tahu! Harga jual komik yang hak penerbitannya di Indonesia dipegang oleh PT. Elex Media Komputindo ini pun sudah bergerak, jika dulu di bawah Rp 10 ribu, sekarang perlu merogoh kocek sekitar Rp 14 ribu per komik. Sebuah pergerakan mahal bagi rasa penasaran :p

Ohya, di seri ke-52 ataupun pada komik manga umumnya, terjadi ketidak sesuaian gambar dengan kata-kata. Ini terjadi karena komik ini diterjemahkan dari Jepang yang gaya membacanya dari kanan ke kiri, menjadi kiri ke kanan.

Rabu, 19 November 2008

Nice Girls Don’t Get Rich


75 Kesalahan Perempuan dalam Mengelola Uang

Oleh : Lois P. Frankel, Ph.D
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama


Dalam suatu kesempatan diskusi, teman lelaki menanyakan alasan mengapa perempuan musti melakukan perencanaan keuangan. Alasan ini bakal memperkaya bahan penulisan advertorial sebuah bank swasta tentang ’wanita dan finansial’.

Saya bilang karena perempuan memiliki angka harapan hidup alias umur lebih panjang ketimbang laki-laki. Sementara usia pensiun –baik pekerja laki-laki dan perempuan- hampir sama. Katakanlah pada usia 55 tahun. Padahal, wanita terkadang punya masa jeda atau berhenti bekerja akibat melahirkan dan mengurus keluarga.

Atau kecendrungan wanita tidak berani meminta gaji lebih tinggi ketimbang pria.

Beberapa alasan tersebut membuat praktek menabung harus dilakukan. Di sisi lain kita sadari bahwa kebutuhan wanita juga banyak. Nah, ini yang disebutkan teman saya karena perempuan itu cenderung boros. Wanita adalah tukang belanja.

Ada banyak alasan lain mengapa perempuan harus memiliki perencanaan keuangan. Menurut Lois P. Frankel, masyarakat pun berperan dalam menciptakan karakter perempuan yang terpaku pada pola lama, tidak mandiri, dan memposisikan jika wanita mengendalikan uang maka dia bukan ’gadis manis’. Uang adalah kekuatan, dan perempuan bukan diposisikan untuk ’menjadi kuat’.

Para gadis umumnya diajarkan untuk menjadi penjaga, pengasuh atau pelindung dalam masyarakat. Dan bukan menjadi pencari nafkah. Sebagai pengasuh, perempuan sering kali bekerja secara terputus, selain lebih menggunakan penghasilan mereka untuk kepentingan anak-anak dan rumah tangga.

Perempuan juga sungkan untuk meminta upah yang sepadan dengan nilai tambah. Karena sudah terpatri bahwa wanita bukan pencari nafkah (utama) maka perubahan zaman yang membuat wanita semakin banyak terjun ke dunia kerja, namun ternyata perempuan berusia antara 45-54 tahun memiliki simpanan uang 28% lebih sedikit daripada laki-laki sebaya.

Dalam buku ini, Frankel mencatat poin-poin kesalahan perempuan dalam menilai uang. Misalkan Kesalahan # 20 : Membelanjakan Uang untuk Melipur Lara. Hmmm... sound familiar?? Ini mungkin terkait pula dengan Kesalahan # 26 : Tidak Membedakan Keinginan dan Kebutuhan. Atau akibat rasa takut, kaum hawa juga sering terjebak dalam Kesalahan # 45 : Menabung, Bukan Berinvestasi.

Akibat rasa sungkan atau ingin menjadi ’gadis manis’ maka terjadi Kesalahan # 59 : Tidak Meminta Bayaran untuk Jasa yang Anda berikan.

Frankel mencatat sebanyak 75 kesalahan kaum perempuan dalam mengelola keuangannya. Dikemukakan dalam poin-poin yang terbagi dalam 7 bab. Mulai dari pentingnya perempuan memulai ’permainan uang’ yang dia miliki; bertanggung jawab atas kehidupan finansial pribadi; mempelajari prinsip uang; memaksimalkan potensi finansial di tempat kerja yang memang menjadi hak Anda sebagai karyawan; serta menabung dan berinvestasi untuk masa depan.

Anda tidak perlu membaca satu per satu, karena pertama-tama kita menjawab pertanyaan dalam kuis Penilaian Diri di Bab 1. Dari 42 pertanyaan yang dijawab antara Benar atau Salah, akan dihasilkan suatu Interpretasi ’kekuatan’ dan ’kelemahan’ diri dalam hal finansial pribadi.

Lalu, kita dapat langsung membaca bab-bab yang menunjukkan skor terendah, supaya kita tahu lebih lanjut tentang bagaimana dapat memusatkan perhatian pada area yang butuh pengembangan tersebut.

Buku ini menjadi menarik karena dipaparkan bentuk tips singkat, lengkap bersama kiat bimbingannya. Adapula bagian Lembar Kerja Kekayaan Bersih yang dapat membantu kita mencatat Aset maupun Liabilitas (utang) kita untuk kemudian kita ketahui berapa sebenarnya Kekayaan Bersih milik kita.

Selain itu, Frankel memberikan pula besaran (dalam persentase) anggaran pengeluaran bulanan. Misalkan tabungan/investasi sebesar 10% anggaran, kebutuhan rumah tangga antara 8-15%, makanan 10-20%, dsb.

Namun, karena buku ini merupakan terjemahan, maka ada beberapa hal yang rasanya kurang sesuai bagi pembaca Indonesia untuk diterapkan. Misalkan, contoh nominal uang dalam bentuk dollar AS, atau situs/alamat website asing sebagai rujukan.

Akan tetapi, buku setebal lebih kurang 275 halaman dari Frankel yang juga menulis Nice Girls Don’t Get the Corner Office ini, ada beberapa saran yang bisa diterapkan oleh setiap perempuan (bahkan untuk setiap orang) dalam mengelola keuangan :
1. Jangan meletakkan semua telur dalam satu keranjang
2. Luangkan waktu untuk membaca artikel-artikel perencanaan keuangan, investasi, dan finansial (keuangan) di surat kabar, majalah, internet maupun buku.
3. Siapkan pendanaan untuk rencana pensiun Anda. Asumsi : miliki tabungan hari pensiun yang besarnya 25 x penghasilan tahunan Anda saat ini untuk dapat hidup nyaman di masa pensiun.
4. Jaga aset terpenting Anda : Diri Anda. (Halaman 85) Lakukan check-up kesehatan, jadi anggota pusat kebugaran, rencanakan liburan berikutnya untuk mengunjungi sebuah spa, atau miliki suatu hobi.

Buku ini cukup bernas, memberi kita (perempuan), khususnya yang dalam usia produktis, suatu pandangan untuk lebih menghargai penghasilan dan lebih bijaksana dalam mengelola keuangan pribadi.

Senin, 27 Oktober 2008

Dilbert and the Way of the Weasel

Penulis: Scott Adams
Tebal: 350 halaman
Penerbit: Boxtree (2003)

“To err is human. To cover it up is weasel.” (Scott Adams)

Saya suka sekali komik strip Dilbert karya Scott Adams. Menurut saya, lewat komik itu, Adams bisa menyampaikan analisanya terhadap dunia kerja dan kantoran dengan sangat baik. Menghibur, sekaligus membuat orang berpikir.

Dalam buku Dilbert and the Way of the Weasel, kita bisa mempelajari banyak gelagat “musang” di dunia kerja. “Musang-musang” itu bisa jadi atasan, bawahan, atau rekan kerja kita.

Lewat buku ini, Adams mengajak kita untuk mempelajari teknik musang untuk menghindari pekerjaan, kelihatan lebih baik di depan rekan kerja (meskipun sebenarnya kinerja kita tidak lebih baik), menyembunyikan ketidakmampuan kita dalam bekerja, dan melatih orang untuk jadi robot yang bisa kita kendalikan dengan remote control. Haha, keren kan?

Ketololan-ketololan dalam praktik manajemen dipaparkan oleh Adams dalam bukunya ini. Berikut contoh percakapan di ruang rapat dalam rupa komik strip, di buku ini.

CEO: Profits are down. Our senior management blames the weak economy.
Dilbert: So they're saying that profit went up because of great management and down because of a weak economy?
CEO: These meetings will go faster if you stop putting things in context.
Dilbert: Sorry...

Buku ini pas untuk para karyawan yang sering merasa dimanfaatkan oleh rekan, atasan, atau perusahaan tempatnya bekerja. Semua teknik musang dibahas dalam buku ini. Lucu, pedas, dan cerdas.

Gambar diambil dari www.bookreporter.com

Chicken with Plums

Penulis: Marjane Satrapi
Tebal: 88 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (2008)

Satu lagi novel grafis karya Marjane Satrapi diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, setelah “Embroideries” alias “Bordir”. Judulnya “Chicken with Plums”. Saya termasuk penggemar Marjane. Menurut saya, karya-karyanya sederhana, berani, humoris, dan menyentuh. Satu karya fenomenal Marjane, “Persepolis”, bahkan sudah difilmkan dalam format animasi.

Dalam Chicken with Plums, Marjane berkisah tentang kehidupan tragis paman dari ibu Marjane, Nasser Ali Khan. Kisah ini bersetting di Teheran, Iran, tahun 1958. Nasser Ali adalah seorang musisi tar terbaik di Iran, yang mendedikasikan hidupnya untuk musik dan cinta.

Dalam hal percintaan, Nasser Ali bisa dibilang kurang beruntung. Ayah dari Irane, perempuan yang dicintainya, menolak lamaran Nasser Ali untuk jadi suami anaknya. Alasannya, bagaimana mungkin seorang musisi bisa menghidupi anaknya?

Nasser Ali patah hati, dan akhirnya menikahi Nahid. Nahid ini sudah jatuh cinta dengan Nasser sejak ia berusia 8 tahun. Saat itu Nasser berusia 15 tahun. Adalah ambisi Nahid untuk menikahi Nasser Ali. Sayangnya, rumah tangga mereka, yang dikarunia 4 orang anak, ternyata tak berjalan mulus.

Hidup Nasser Ali makin nelangsa sejak tar kesayangannya rusak, dipatahkan oleh Nahid yang merasa kesal karena suaminya hanya peduli dengan musik dan enggan membantunya mengurus anak dan rumah tangga. Tidak ada tar yang bisa menggantikan tar kesayangan Nasser Ali. Hal ini membuatnya merasa tak berguna.

Di satu frame, ditampilkan pertemuan tak sengaja antara Nasser Ali dan Irane. Sayangnya, Irane mengaku tak ingat pada Nasser Ali. Padahal, perempuan inilah yang selalu jadi sumber inspirasi Nasser Ali dalam bermusik. Sigh...

Nasser Ali memutuskan untuk mati. Sebelum mati, dia mengurung diri di kamarnya selama 8 hari. Nah, 8 hari ini lah yang diceritakan oleh Marjane―tentang pikiran-pikiran dan beragam peristiwa yang berkelebat dalam benak Nasser Ali, sebelum maut menjemputnya. Oleh Marjane, kisah sedih ini dibawakan secara humoris.

Oiya, harga buku 88 halaman ini lumayan mahal, Rp45.000. Saya rasa, itu karena kualitas kertas yang dipakainya, bagus.

Gambar diambil dari www.madisonpubliclibrary.org

Tahun 69

Penulis: Ryu Murakami
Tebal: 284 halaman
Penerbit: TransMedia Pustaka

“Aku ini sebenarnya tidak terlalu suka bekerja. Jadi, aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dan kemudian setelah itu bersenang-senang.” (Ryu Murakami)

Membaca pernyataan itu di buku ini, saya lantas pengin tahu, seperti apa sih novel buatan seorang Ryu Murakami. Hihi, habis prinsip kerjanya kurang lebih sama seperti saya. Bedanya, saya masih sering tergoda untuk senang-senang dulu, baru kerja kemudian. Ya, selain itu, saya juga tertarik dengan gambar kaver bukunya. Ternyata, memang “Tahun 69” menyenangkan untuk dibaca.

Tahun 69 berkisah tentang pengalaman hidup Ryu Murakami semasa ia SMA. Tokoh Kensuke Yazaki alias Kensuke adalah bentuk personifikasi Ryu sendiri.

Bersama sama dua kawan baiknya, Adama dan Iwase, Kensuke memimpin pasukan anak pemberontak untuk membarikade sekolah mereka, SMA Kita. Alasan Kensuke sama sekali bukan berlatar politik, masalah yang peka di masa itu. Dia memimpin barikade SMA Kita karena dia naksir cewek paling cantik di sekolahnya, Kazuko Matsui alias si Lady Jane, yang menurutnya suka dengan anak laki-laki “pemberontak”.

Ketertarikan Kensuke utamanya pada musik jazz dan film. Setelah sukses membarikade sekolah dan dihukum skors selama 119 hari, dia merancang pertunjukan musik rock, film indie, dan drama yang dinamainya “Morning Erection Festival”.

Singkat kata, Tahun 69 berkisah tentang masa baby boomer, di mana kaum muda punya mimpi untuk mengubah dunia. Oleh Ryu, masa mudanya ini dikisahkan dalam tutur bahasa santai dan penuh kelucuan. Aseli, lucu banget! Buku ini sudah dilayar-kacakan dengan judul yang sama, 69.

Gambar diambil dari www.bukukita.com

Laskar Pelangi the Movie

Film Laskar Pelangi merupakan adaptasi dari novel berjudul sama, karya Andrea Hirata yang dibuat berdasar kisah nyata kehidupan masa kecilnya. Dalam film ini, tokoh utama, bocah bernama Ikal, merupakan personifikasi dari Andrea kecil.

Banyak orang bilang, film ini merupakan potret buram dunia pendidikan di Indonesia. Terus terang, menonton film ini, saya sama sekali tidak menyalahkan pendapat mereka.

Cerita Laskar Pelangi dimulai dengan narasi dari Ikal dewasa yang diperankan oleh Lukman Sardi. Di sini, Ikal dewasa menceritakan tentang satu masa―rasanya tidak salah kalau saya sebut masa itu sebagai tipping point dalam hidup Ikal―yang mengubah hidupnya. Belitong di tahun 1974, hari pertama ia masuk ke sekolah dasar.

SD Muhammadiyah Gantong, SD Islam tertua di daerah Belitong, adalah satu-satunya sekolah yang bisa dituju oleh kaum miskin di Belitong. Maklum, sekolah ini dibuka untuk mereka secara cuma-cuma. Para orangtua bebas menukar pendidikan anak-anaknya dengan berasa.


Pak Harfan (Ikranagara) dan Bu Muslimah (Cut Mini) adalah dua pahlawan di SD Muhammadiyah. Mereka rela mengabdikan diri mereka demi pendidikan anak-anak miskin di Belitong. Bagi mereka, siapapun berhak mengenyam pendidikan, tak terkecuali anak-anak tak punya.

Di hari pertama pendaftaran sekolah, Pak Harfan dan Bu Mus merasa was-was. Pasalnya, jika tak mampu mengumpulkan minimal 10 orang siswa, SD tersebut akan ditutup. Di sini, tokoh Harun, anak abnormal berusia 15 tahun, keluar jadi tokoh penyelamat. Harus adalah anak ke-10 yang datang ke sekolah itu untuk mendaftar sebagai murid. Itulah awal persahabatan dari 10 anak miskin yang kemudian dijuluki oleh Bu Mus sebagai “Laskar Pelangi”, yakni Ikal (Zulfanny), Mahar (Verry S. Yamarno), Lintang (Ferdian), Kucai (Yogi Nugraha), Syahdan (M. Syukur Ramadan), A Kiong (Suhendri), Borek (Febriansyah), Harun (Jeffry Yanuar), Trapani (Suharyadi Syah Ramadhan), dan Sahara (Dewi Ratih Ayu Safitri).

Dalam film berdurasi 125 menit ini, karakter masing-masing tokoh jelas tidak mungkin untuk ditampilkan secara utuh. Karakter Lintang, anak nelayan yang sangat miskin, yang sebenarnya menjadi inti dari cerita ini―contoh paling penting yang mewakili kaum miskin yang tersingkir―pun kurang diangkat. Makanya saya beri tips untuk teman-teman yang pengin menonton (atau sudah menonton) film ini (dan kecewa): jangan bandingkan film ini dengan novel aslinya. Keduanya, menurut saya, sama-sama bagus. Pada intinya, pesan yang ingin disampaikan Andrea dalam novelnya sudah disampaikan oleh Riri lewat film ini. Laskar Pelangi mengajak kita memandang kemiskinan dengan cara lain, bukan sebagai sesuatu untuk ditangisi, tapi cambuk semangat untuk meraih asa. Itu dibuktikan dari suksesnya Ikal mencicip pendidikan di Universitas Sorbonne di Paris.

Nilai film ini makin bertambah karena juga menyuguhkan keindahan alam Belitong. Akhir kata, saya sendiri hanya penggemar buku dan film, bukan kritikus. Saya hanya berusaha menikmati apa yang saya baca dan tonton. Dan sejauh ini, saya suka keduanya, baik buku maupun film Laskar Pelangi.

Foto diambil dari laskarpelangithemovie.com

Jumat, 10 Oktober 2008

Mamma Mia! The Movie





Saya menonton film ini agak terlambat setelah seru dibahas di media atau dibicarakan teman-teman sekantor sekitar 1-2 minggu lalu. Tepatnya pada Selasa (7/10) di BlitzMegaplex. Jaringan bioskop 21cineplex sudah tidak memutar film ini.

Film musikal karya sutradara Phyllida Lloyd, dari awal hingga akhir bertutur melalui lagu-lagu ABBA, grup musik asal Swedia yang pernah ngetop di tahun 1970-an. Misalkan Mamma Mia (sama dengan judul film), Dancing Queen, Honey Honey, Money Money Money, Super Trouper, I Have a Dream dan lainnya.

Para pemain film pun menyanyi dan menari dengan lincahnya. Termasuk Meryl Streep dan Pierce Brosnan yang tampil beda di film ini.

Film yang menyegarkan dan menghibur, membawa Anda bernostalgia ke masa remaja saat grup vokal, yang konon penyumbang pajak terbesar di negaranya setelah industri mobil Volvo, merajai dunia. Ataupun bagi yang belum lahir di era tersebut, juga bisa ikut bersenandung.

Di sebuah pulau kecil di Yunani, Donna (Meryl Streep) tengah mempersiapkan pernikahan putrinya, Sophie Sheridan (Amanda Seyfried). Diam-diam, tanpa sepengetahuan Donna, Sophie mengundang tiga pria mantan kekasih Donna. Ia Ia berharap bakal mengetahui siapa bapak kandungnya. Sayangnya, Donna sendiri tak yakin, mana diantara ketiga pria tersebut yang benar-benar ayah kandung Sophie.

Maklumlah, Donna muda berada pada masa hippies yang bebas, dipenuhi semangat pemberontakan dan petualangan masa remaja. Donna pada waktu berdekatan akrab dengan tiga pria : Sam Carmichael (Pierce Brosnan), Bill Anderson (Stellan Skargard) dan Harry Bright (Colin Firth) pegawai bank yang tak biasa hidup spontan.

Jalan cerita tidak lagi yang utama. Ga usahlah terlalu pusing mencari jawaban siapa bapak ’the real’ Sophie (meski dari semula kamu bisa menebak). Kekuatan film ini justru dalam unsur nostalgia. Pertama, nostalgia lagu-lagu ABBA. Nostalgia kedua, adalah kehadiran sahabat lama Donna yang dulu tergabung dalam Donna and the Dynamos : Rosie (Julie Walters) dan Tanya (Christine Baranski) yang khusus datang menghadiri pernikahan Sophie.

Julie Walters dan Christine Baranski membuktikan bahwa umur hanyalah angka, tapi semangat tetaplah ’dinamit’ tanpa memandang usia.

Unsur kesulitan film ini pada pemaksaan agar plot cerita matching dengan lirik lagu. Sehingga saya sebagai penonton sempat merasa jenuh. Jalinan cerita terlalu bertele-tele. Dan kadang tidak perlu. Misalkan saja adegan Rosie yang ditaksir cowok yang jauh lebih muda, lalu mereka berbalas nyanyi dan menari di tepi pantai. Cerita yang ditulis oleh Catherine Johnson berbasis lagu-lagu ABBA, sebelum ditayangkan ke dalam bentuk film layar lebar, cerita ini sudah melanglang di berbagai panggung teater. Termasuk teater Esplanade Singapura beberapa tahun lalu.

Lupakan pula usaha Anda mencari-cari wajah kerut pemain film itu saat masuk kedalam emosi sedih atau kesal. Semua perasaaan ternyatakan dalam lirik lagu.

Tapi jangan komparasi film ini dengan film India yang penuh tarian dan nyanyian ya .......:D
Jadi, mari nikmati saja sebagai hiburan menyegarkan sebelum kembali merasakan normalnya jalanan Jakarta dan ritme kerja mulai Senin pekan depan. Libur Idul Fitri sudah berlalu 2 minggu.

....”You can dance, you can jive, having the time of your life....”

Rabu, 24 September 2008

5 Aturan Pikiran




Penulis : Mary T. Browne
Tebal : (i-xi) dan 266 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (2008)


Ucapan dan perbuatan merupakan realisasi dari pikiran. Contoh sederhana, ketika benakmu merasa haus, maka kamu segera melakukan perbuatan menuangkan air ke dalam gelas lalu meminum cairan yang ada di dalam.

Kalau kamu mengatakan, ”Hari ini menyebalkan sekali bagiku!”, maka yang terjadi benar-benar rangkaian peristiwa menyebalkan dalam sehari. Apakah kamu memang dikutuk pada hari tersebut? Sebenarnya karena otak kamu sudah ’mencap’ bahwa hari ini adalah hari sial maka rangkaian kejadian selama hampir 24 jam sebagai sesuatu yang memang BAD.

Dalam gambaran besar, pikiran menuntun kita untuk mencapai sesuatu dalam kehidupan.
Pikiran adalah getaran dan energi. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Oleh karenanya, kita memperoleh apa yang kita inginkan dengan mengendalikan pikiran kita.

Mary T. Browne, cenayang terkenal asal New York, menyusun 5 Aturan Pikiran –sebagai hasil pengalaman dirinya sebagai penasehat spiritual dan pembelajaran dari para maestro- yang bisa membantu kita untuk memperoleh apa yang kita inginkan. Kelima aturan itu memang lebih mudah diikuti jika kita lebih dahulu memahami dan sadar akan kekuatan Daya Ilahi.

Ke-5 Aturan Pikiran untuk memperoleh apa yang kita inginkan :
1. Kita harus menentukan apa yang kita inginkan
2. Bayangkan bahwa hal itu sudah terjadi
3. Jangan ragu-ragu
4. Kita harus mempunyai keyakinan
5. Ketekunan membawa hasil

Perasaan bimbang (ragu-ragu) adalah kendala terberat dalam proses meraih hasil. Sukses hanya diraih oleh mereka yang tegas. Tegas dalam arti tidak meragukan diri sendiri, dan fokus pada tujuan akhir.

Selain menghilangkan rasa ragu, pemusatan pikiran bisa dilatih. Melalui meditasi, kontemplasi dan mau meluangkan waktu beberapa menit setiap hari, untuk membuat gambaran yang kita inginkan di dalam benak kita.

Bagi yang pernah baca The Secret, nama Mary T. Browne terasa familiar karena memang Browne merupakan salah satu kontributor. Sehingga ide buku antara ”The Secret” vs ”5 Aturan Pikiran” memang terasa relevan.

Ketika kamu percaya akan law of attraction : dimana pikiran positif dan keinginan akan bekerja, sehingga semesta membantumu merealisasikan keinginan. Nah! Upaya fokus untuk mengarahkan pikiran (keinginan) itu bisa terbantu melalui buku ini. Walaupun (saya akui secara pribadi) butuh konsentrasi lebih untuk memahami ide yang dituang dalam buku setebal 266 halaman ini.

Di dalam buku yang terbagi atas 7 bab ini, Browne menyisipkan contoh kasus dari pengalaman pasien yang berkonsultasi padanya, demi kemudahan pembaca mencerna fokus tulisan.

Senin, 22 September 2008

Shahnameh – Hikayat Persia


Oleh : Ferdowsi
Tebal : 328 halaman
Penerbit : Navila (2002)


Di suatu akhir pekan di awal Ramadan 1429 H, saya membongkar tumpukan novel dan majalah pada rak buku. Saya menimang-nimang buku bersampul warna paduan coklat pucat dan oranye pupus yang menampilkan gambaran khas suasana Timur Tengah. Kemudian saya membuka halaman pertama, tergores nama saya (sebagai pemilik) dan 5 Agustus 2002 sebagai tahun pembelian.

Itu artinya buku ”Shahnameh – Hikayat Persia” ini telah berusia 6 tahun di tangan saya. Saya membelinya di stan Kedutaan Besar Iran di suatu pameran (lupa nama pamerannya).

Saya selalu tertarik dengan buku non fiksi berbau sejarah, khususnya budaya Mesir dan jazirah Arab Sebelum Masehi. Namun, ketertarikan itu tidak cukup kuat untuk segera melahap buku setebal 328 halaman itu sesegera mungkin. Sejumlah alasan membuat saya menunda baca itu. Kesibukan kerja, aktivitas diri, serta buku baru dan majalah yang terus berdatangan mengisi hari saya, menjadi alasan. Selain itu, anggapan ”isi buku pasti berat” sudah membuat saya menunda.

Hanya saja, sesuai niatan untuk menunggu bedug dengan membaca buku -khususnya membuka buku-buku yang sudah terlanjur beli namun belum pernah dibaca selama bulan puasa tahun ini- maka Minggu (6/9)usai Imsak, saya paksakan pula untuk membaca buku ini.

Dan ternyata, wow! Tidak seperti dugaan bahwa isi bacaan berat yang kaya sejarah dan peristiwa, saya justru dilarutkan dalam dunia dongeng 1001 malam dengan membaca kisah raja-raja Iran atau bangsa Persia. Cerita terbagi atas Bab yang memisahkan kisah antara raja (atau tokoh penting dalam perjalanan kerajaan) yang satu dengan yang lain. Cerita dimulai dari Kaiumer I sebagai Shah di Kerajaan Persia. Ia diibaratkan sebagai sang penguasa dunia, yang membangun tempat tinggal di gunung, memakai pakaian dari kulit harimau seperti begitu pula rakyatnya.

Anak manusia yang dilindungi oleh Ormurzd (sebutan Tuhan) dan segala kelimpahannya, mengundang sirik dari setan (Ahriman) yang senantiasa memberi cobaan melalui putranya yang berjuluk Deev. Masa gelap pun hadir melalui Raja Zohak dari jazirah Arab yang dibantu oleh Deev. Penguasa berjuluk Raja Ular –karena memberi korban manusia setiap hari untuk dimakan ular raksasa – bisa dikalahkan oleh Feridoun yang mengasingkannya ke Gunung Demawend.

Intrik di kerajaan Persia dengan raja tertinggi berjuluk Shah, mulai tersemai ketika Feridoun memiliki 3 putra yaitu Silim si sulung, Tur si anak tengah, dan Irij si bungsu.

Suatu hari Feridoun ingin menguji ketiga anaknya dengan menyuruh mereka bertarung melawan naga.

Silim yang dalam pertarungan melawan naga, terbukti adalah si orang yang mencari aman dengan membalikkan badan pergi meninggalkan sang naga. Ia membiarkan adik-adiknya bertarung melawan naga.

Tur yang berarti ”pemberani”, memang membuktikan nyali melawan naga. Akan tetapi, Irij tampil sebagai pria bijaksana sekaligus pemberani.

Feridoun kemudian membagi wilayah kekuasaannya menjadi tiga bagian secara adil kepada putranya. Silim memperoleh Rhoum (Kaver) daerah tempat terbenamnya matahari; Turan atau Turkestan diberikan kepada Tur (sebagai penguasa Turki dan Cina); lalu Feridoun memberikan Iran kepada Irij.

Meski ketiganya menjadi raja makmur di negara masing-masing, bisikan setan berhasil menguasai Silim dan Tur. Keduanya bahu-membahu menyerang Iran dan membunuh adik bungsunya. Dari pertikaian bak kisah putra Adam-Hawa, dimana Kain membunuh adik kandungnya sendiri (Habil), maka dinasti Iran pun tak lepas dari balas dendam, perebutan kekuasaan, dan kematian. Ada pula kisah cinta, cemburu, tipu daya, termasuk ilmu sihir. Para Shah percaya akan ramalan ahli nujum. Melihat nasib dan masa depan dari keturunan yang baru lahir.

Dan kisah sejarah permulaan Iran kuno tak bisa lepas dengan tidak mengisahkan kepahlawanan ksatria besar Persia, Rostam atau Rustem. Pehliva (ksatria?) turunan Zal putra Saum sang pahlawan dengan Rudabeh, setia membela Shah meskipun pada beberapa kasus peperangan terjadi akibat kebodohan dan ketamakan rajanya. Pada cerita penutup menjelaskan bagaimana Rustem mangkat.

Selain memang seputar silsilah raja Persia, Ferdowsi meletakkan sentralisasi cerita terpusat pada peperangan antara Iran vs Turan (negeri di Asia Tengah) dan suksesi kekuasaan Shah.

Ferdowsi atau bernama lengkap Hakim Abol Ghasem Ferdowsi Toosi (935-1020/1026 M) selama 35 tahun telah berhasil mengumpulkan sebanyak 60.000 syair pendek yang kemudian dituangkan dalam buku berjudul Shahnameh atau Shahnamah ”The Epic of Shahnameh Ferdowsi” (The Epic of Kings : Hero Tales of Ancient Persia). Shahnameh ini dipersembahkan Ferdowsi untuk kejayaan Sultan Mahmud dari Ghazna.

Shahnameh mengangkat Ferdowsi sebagai salah satu sastrawan terkemuka Persia, disejajarkan dengan penyair sufi terkenal Jalaluddin Rumi dan Sheikh Musli-uddin Sa’di Shirazi.

Buku yang diterbitkan oleh Navila, penerbit yang memiliki kepedulian terhadap sastra dan budaya Timur, terbagi dalam beberapa bab, dimana setiap bab menceritakan tentang seorang tokoh penting dalam kekaisaran Persia.

Hanya saja, saya menemukan beberapa kekurangan antara lain berupa pengertian. Misalkan pada halaman 108 : ..... ”Setelah makan dan minum sampai kenyang, Rustem mengambil lira dari kantong, ditaruhnya di meja, dan bernyanyi dengan riang”. Penerjemah/penerbit menjelaskan ”lira” sebagai ”sebutan untuk mata uang, satuan mata uang Italia”.

Nah, saya rasa tidak ada relevansinya. Apalagi pada masa itu Italia belum terbentuk dan satuan mata uang Lira belum dikenal. Saya rasa lebih tepat jika yang dimaksudkan ”lira” dalam tulisan tersebut adalah alat musik petik semacam kecapi.

Kekurangan lain dari buku ini adalah salah cetakan. Buku yang saya pegang memiliki halaman kosong di lembar 227 dan 238. Polos tanpa ada tulisan. Ini cukup menganggu dan sebagai pembaca jadi menebak-nebak cerita yang ada di bagian hilang itu, melalui lanjutan halaman berikutnya. Duh, kalau sudah 6 tahun berlalu, apakah saya masih bisa menghubungi penerbit untuk minta ganti buku?

Minggu, 24 Agustus 2008

Citizen Brand



10 Perintah untuk Mentransformasikan Merek dalam Demokrasi Konsumen

Penulis : Marc Gobé
Penerbit : Penerbit Erlangga
Terbit : 2001
Tebal :298 halaman + xiii


Era teknologi informasi (TI) yang mendorong derasnya arus informasi, membuat orang dengan gampang mencari tahu seputar produk atau jasa yang mereka butuhkan. Tinggal mengakses internet dan mengaktifkan situs pencarian. Selain itu, konsumen semakin kritis karena semakin variasinya pilihan produk.

Oleh karenanya, produsen perlu menyadari bahwa konsumen bukan lagi sekadar mendapat fungsi dari sebuah produk/jasa. Lebih dari kebutuhan akan fungsi suatu barang, mereka (konsumen) perlu ditempatkan sebagai masyarakat yang tertarik untuk membeli pengalaman emosional.

Maka timbullah kebutuhan penciptaan merek yang juga menyentuh sisi emosi konsumen. Marc Gobé, pendiri, Presiden, CEO dan Executive Creative Director Desgrippes Gobé Group, perusahaan pencipta citra merek, menggagas ide ini dengan istilah Emotional Branding.

Emotional Branding ini dibahas Gobé dalam satu buku. Dan meneruskan konsep ini, Gobé merilis ”Citizen Brand” dimana Ia memaparkan dalam dunia emotional branding, konsumen yang demokratis, maka merek suatu produk/jasa menjelma dalam citizen brand. Ketika bermain pada citizen brand, maka produsen memasukkan identitas emosional (emotional identity = E.I.). Beberapa contoh merek yang telah berhasil membangun EI ini adalah Sony untuk ”inovasi” , atau Apple yang menyimbolkan ”desain dan aksesbilitas”. Merek-merek itu sudah menerapkan konsep citizen brand dan telah berhasil memasukkan bahwa produknya tidak hanya diperlukan karena fungsionalitas.

Merek atau perusahaan juga dituntut mengambil peran nyata dalam dunia modern. Bagaimana serangan 9/11 menarik simpati dunia. Termasuk pula gerak cepat perusahaan untuk turun langsung meringankan kejadian yang dianggap sebagai salah bentuk duka di abad-21. Contohnya, perusahaan asuransi Allstate menghabiskan sejumlah uang untuk membayar iklan yang memberikan jaminan kepada klien bahwa klaim mereka akan dipenuhi secepatnya, meminta orang-orang tanpa ragu untuk mengontak mereka, serta menyiapkan meja informasi khusus. Ini salah satu bukti nyata, bahwa perusahaan turut berperan dalam menciptakan dunia yang lebih baik.

Avon, perusahaan kosmetik dengan sistem MLM, memiliki kampanye jalan kaki di seluruh dunia untuk mendukung upaya menyembuhkan kanker payudara. Para perempuan tentu merasa bahwa kosmetik yang mereka beli tidak cuma ’menarik’ uang mereka, namun peduli terhadap mereka.

The Body Shop tidak mempraktekkan filantropi, melainkan terlibat aktif, dari perspektif bisnis, untuk membuat dunia yang lebih baik. Brand asal Inggris yang terkenal sebagai aktivis anti melibatkan binatang dalam percobaan laboratorium untuk pembuatan produk, serta membeli langsung dari pabrik-pabrik kecil dan pengrajin sebagai kebalikan dari membeli secara tidak langsung melalui pabrikasi massal.

Meskipun konsumen senang dengan kepedulian mereknya terhadap perbaikan masyarakat dan dunia, konsumen lebih menyukai aktivitas yang sejalan dengan bisnis inti perusahaan. Dalam suatu jajak pendapat menghasilkan opini bahwa masyarakat senang jika perusahaan peduli terhadap kegiatan berkaitan dengan pendidikan publik, kriminalitas dan lingkungan. Namun, konsumen saat ini yang cerdas, khususnya generasi Y yang kini memasuki usia produktif kerja dan menghasilkan uang, juga semakin kritis untuk ”mencium” upaya-upaya pemolesan. Kondisi ini, seperti dicontohkan Gobe, rawan terjadi terhadap kegiatan yang disponsori oleh rokok yang bisa saja disalah artikan sebagai upaya ’cuci tangan’ atau upaya membersihkan diri dari isu kesehatan yang menyudutkan perusahaan tembakau.

Nah! Gobe dalam buku Citizen Brand ini mengemukakan ” 10 Perintah untuk Mentransformasikan Merek dalam Demokrasi Konsumen” yaitu :

Perintah 1 : Berevolusilah dari konsumen ke masyarakat (fokus bab tentang tren konsumen/demografi)

Perintah 2 : Berevolusilah dari kejujuran ke kepercayaan (fokus bab : cause marketing)

Perintah 3 : Berevolusilah dari produk ke pengalaman (fokus bab : ritel/lingkungan merek)
Perintah 4 : Berevolusilah dari kualitas ke preferensi (fokus bab : pengembangan produk)

Perintah 5 : Berevolusilah dari kemasyhuran ke aspirasi (fokus bab : periklanan)

Perintah 6 : Berevolusilah dari identitas ke kepribadian (fokus bab : identitas perusahaan)

Perintah 7 : Berevolusilah dari fungsi ke perasaan (fokus bab : desain sensorik)

Perintah 8 : Berevolusilah dari ubikuitas ke eksistensi (fokus bab : inisiatif kehadiran merek)

Perintah 9 : Berevolusilah dari komunikasi ke dialog (fokus bab : internet..) Dalam bab ini, Gobe menyarankan perusahaan untuk memanfaatkan internet sebagai salah satu media ruang iklan.

Perintah 10 : Berevolusilah dari pelayanan ke hubungan (fokus bab : layanan konsumen)

Yang harus diingat, bahwa penciptaan emotional branding tidak hanya upaya penciptaan citra keluar. Melainkan, bahwa semua ini bermula dari perusahaan itu sendiri.

Seperti dikemukakan oleh Howard Schultz, CEO Starbucks dan seorang inovator dalam emotional branding, mengatakan, ”Merek harus dimulai dari budaya perusahaan dan ditularkan secara alamiah kepada pelanggan.... jika kita ingin mendapatkan kepercayaan dari pelanggan, maka pertama-tama kita harus mendapat kepercayaan dari karyawan kita sendiri.” (Halaman 61)

Ucapan Schultz ini direalisasikan dalam penawaran hak untuk membeli saham dan tunjangan kesehatan kepada para karyawan paruh waktunya.

Sementara Nucor, perusahaan baja, memberikan beasiswa untuk pendidikan di perguruan tinggi senilai US$2500 setiap tahun untuk setiap anak karyawannya, dan tidak pernah mem-PHK karyawan di masa resesi. Hanya mengurangi jam kerja, dan mengurangi perjalanan. Nucor pun menginspirasikan diri sebagai perusahaan yang menghargai pekerjanya dengan mencantumkan daftar 7.500 karyawannya dalam laporan tahunannya. Gagasannya : perusahaan adalah sebuah organisme hidup, tersusun dari dan sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang bekerja di dalamnya lebih dari yang kita sadari (halaman 63).

Dalam membaca buku ini saya tidak menerapkan konsep scheming. Praktisnya, membaca buku non fiksi adalah pertama mencek ”Daftar Isi” untuk mengetahui pembahasan buku. Melalui cara ini, pembaca tahu apa yang paling dibutuhkan, dan bacalah yang memang menarik/penting. Akan tetapi, saya membaca buku ini dari awal. Dan pada permulaan saya tertatih-tatih untuk membaca buku ini dari halaman mula.

Tulisan memiliki ukuran font yang kecil dan rapat antar baris. Selain itu, terjemahan yang kadang bikin saya berulang kali membaca untuk mencerna lebih takzim. Hanya saja, begitu memasuki ”10 Perintah Gobe” yang diuraikan dalam bab terpisah, paparan berlangsung menarik. Dalam setiap bab juga dilengkapi dengan contoh iklan/studi kasus. Secara keseluruhan, buku ini menyajikan ulasan yang cukup menarik bagi Anda yang tertarik atau terjun di dunia marketing, advertising dan sebagainya.

Jumat, 01 Agustus 2008

Street Kings




Produksi : 2008
Pemain : Keanu Reeves, Forest Whitaker, Hugh Laurie
109 menit


Setelah beberapa lama tidak nonton di bioskop, akhirnya beberapa waktu lalu saya menonton “Street Kings”. Film yang cukup bagus ketika di waktu bersamaan pilihan lain di cineplex seputar film Indonesia yang tidak jauh-jauh dari horror atau komedi cendrung porno.

Selain itu, kita bisa menyaksikan wajah Keanu Reeves yang masih seganteng seperti 10 tahun lalu ketika bermain dalam film Speed (ups, jangan-jangan dia suntik Botox hehehe....). Sekaligus juga karakternya kali ini lebih membumi ketimbang Neo (trilogi Matrix), atau detektif supernatural John Constantine dalam film berjudul sama (Constantine).

Alur cerita film bergenre action ini memang standar. Keanu Reeves berperan sebagai Tom Ludlow, detektif LAPD yang mencari penyebab kematian mantan partnernya Terrance Washington (Terry Crews).

Namun tunggu dulu! Ludlow sendiri bukan jenis penegak hukum yang bersih. Selain sering melanggar prosedur, Ludlow juga tukang mabuk. Dan kinerjanya yang bagus –tapi sekaligus banyak pelanggaran- selalu ditutupi sang bos, Jack Wander (Forest Whitaker).

Persahabatan dan kemitraan dengan Washington yang lurus, terpecah karena kontradiksi keduanya.

Kematian Washington di minimarket yang seolah kasus perampokan, memicu rasa ingin tahu dari Ludlow. Dalam membuka kasus penyebab kematian mantan rekan, Ludlow dibantu oleh detektif muda, Paul Diskant. Langkah ini menyeret dirinya ke mafia narkotika, dan bahkan ke teman-temannya di kepolisian.

Dari awal kita bisa menebak bahwa kapten dan rekan-rekan Ludlow berada di belakang semuanya. Hanya saja, ternyata ada kejutan-kejutan lain di belakangnya.

Film ini memotret polisi kotor, ketika menggunakan ‘aib’ orang sebagai alat pemerasan, atau menyalah gunakan jabatan dan kuasa demi mewujudkan ambisi pribadi. Hmm.. suatu gambaran yang bisa terjadi di negara mana saja dan bagi siapa saja bukan?

Film yang cukup menarik bagi pecandu film action. Bahkan cenderung sadis dan pada beberapa scene terucap kata-kata makian yang kasar. Namun, sayang di bagian terakhir cerita terasa kedodoran. Akan tetapi, secara keseluruhan film yang disutradarai David Ayer ini not bad untuk ditonton.

Btw, si Keanu Reeves dalam film ini tampak kalah ganteng dengan detektif Diskant yang diperankan oleh Chris Evans. Haha.. memang muka baru selalu lebih segar!

Minggu, 29 Juni 2008

22 Ide Rumah yang Bergeming di Tatasurya

Bukan perkara mudah menyadarkan orang akan betapa rentannya bumi ini. Kebanyakan umat manusia terlena akan keteraturan yang disediakan bumi sampai saat ini. Banjir, tanah longsor, badai, gunung mleduk, memang bukan rutinitas biasa, namun kejadian-kejadian luar biasa itu hanya akan membekas dalam kenangan sejarah yang makin pendek saja singgah di benak umat manusia.

Saya? Saya termasuk yang ngeri bukan karena kampanye besar-besaran, seperti misalnya tentang "global warming" akhir-akhir ini. Saya ngeri sejak pertama kali mengenal konstelasi planet dan tatasurya. Bumi ini berputar kencang lho, Sodara-sodara! Tanpa tali pengikat atau sabuk pengaman yang secara kasat mata menjamin hubungannya dengan asnya! Namun hebatnya, justru karena putaran yang kencang dan konstan inilah yang menyebabkan kita tetap bergeming pada tempatnya, tidak gemetar atau ajrut-ajrutan. "Sopir alam semesta" ini memiliki presisi dan konsistensi yang luar biasa, tidak seperti sopir bajaj atau metromini di Jakarta, meski ada perhitungan yang menunjukkan bahwa putaran bumi ini mengalami perlambatan dari waktu ke waktu, hingga sekarang ini jumlah hari dalam satu tahun tinggal 364,25 hari.

Sopir alam semesta ini ternyata juga berjuang keras menghadapi kondisi jalan dan "ulah usil penumpang". Pencairan es dan kondisi atmosfer adalah salah satu penyebab ketidakstabilan putaran bumi. Dan kita tahu bahwa kondisi atmosfer dan es di permukaan bumi akhir-akhir ini mengalami perubahan drastis. Es abadi bercairan di mana-mana, atmosfer gerah tersengat panas yang tak mampu diserap bumi. Jika perubahan ini makin mendrastis saja, bukankah tidak mungkin perubahan siklus putaran bumi akan juga berubah drastis. Dan apakah tidak mungkin juga bahwa planet bumi akan terlempar dari orbitnya atau bertabrakan karena jadwal orbit yang tidak ditepatinya? Sepertinya saya harus memelajarinya jika ingin menumpahkannya sebagai tema novel sci-fi.

Ngemeng apa sih saya ini? Cuma mau ngemeng saja bahwa mungkin semua orang harus memiliki trauma atau kekhawatiran masing-masing yang menyangkut kelangsungan bumi agar bisa bertindak secara mandiri, tanpa menunggu gembar-gembor orang lain dalam bahasa dan idiom yang mungkin tak dipahaminya. Bagi saya, kekhawatiran akan terlempar dari tatasurya ternyata berhubungan erat dengan tingkah laku saya sehari-hari, misalnya dalam menggunakan kertas. Jika boros mengonsumsi kertas, maka ternyata bumi saya bisa berhenti berputar, dan efeknya terlempar dari tatasurya atau ditabrak planet lain, jika bukan hangus karena tersedot gravitasi matahari. Silakan pilih!

Artinya, saya (untuk tidak memaksa semua umat manusia) harus punya paradigma "kemungkinan terlempar dari tatasurya" dalam setiap keputusan dan eksekusi kehidupan. Bangun pagi secara lestari, misalnya (entah bagaimana manifestasinya). Atau yang agak makro seperti ketika saya mau membangun rumah. Sebelum sadar bahwa setiap saat bisa terlempar dari tatasurya, rumah yang mau saya bikin ya yang cantik dan estetis, selain nyaman. Namun, apa guna rumah nyaman dan cantik sekarang jika nanti anak atau cucu kita harus terlempar dari tatasurya?

Untunglah ada buku ini: "22 Desain Rumah Hemat Energi" terbitan Pustaka Rumah (Mei 2008). Buku ini adalah hasil kumpulan desain rumah oleh para mahasiswa arsitektur seluruh Indonesia yang disayembarakan oleh Tabloid Rumah. Teknis lombanya adalah: panitia menyediakan sebuah acuan lahan yang aslinya berupa sebuah lahan riil yang ada di kawasan Jakarta Selatan (entah ini lahan siapa punya), dari lahan ini peserta dipersilakan merancang sebuah rumah di atasnya dengan tema "rumah hemat energi". Ada 300-an karya yang masuk dan setelah diseleksi, ada sekitar 150 yang memenuhi syarat. Juara yang diambil ada lima desain, namun untuk kepentingan buku ini, diambil 22 karya terbaik.

Sebagai sebuah gambar desain, memang karya-karya ini masih baru sampai pada tataran konsep, belum dituangkan menjadi sebuah rancangan yang (dalam bahasa saya yang awam) bisa langsung dijejalkan ke saku para tukang untuk mereka wujudkan, sementara saya memesan kopi joss di angkringan Lik Man (kalau lagi tanggal tua) atau tenggelam di sofa-sofa empuk Starbucks sambil menyeruput Cafe Americano (setahun maksimal 3 kali jika ada bonus (excl. traktiran)). Namun itulah kelebihan karya-karya ini: dengan tanpa banyak keribetan di dana dan bahan, bisa muncul kreasi yang lebih mengutamakan gagasan penghematan energi. Bukan berarti gagasan hemat energi berbiaya mahal, namun lebih berefek pada alokasi effort yang harus lebih banyak karena banyak rancangan yang tidak biasa.

Jika sampai kepada tahap implementasi maka bantuan "penerjemah" dari konsep ke bentuk konstruksi dan rancangan anggaran biaya akan berperan penting. Saya belum mencobanya, namun sepertinya sudah punya bayangan bahwa jika memang ingin membangun rumah dengan paradigma hemat energi ini, maka sumbangan gagasan penggunaan berbagai elemen penghematan dalam buka ini adalah luar biasa kayanya. Mungkin belum ada referensi selengkap ini di Pertiwi yang memberi insight dan ide tentang elemen apa saja yang bisa diterapi gagasan hemat energi. Apalagi, selain gagasan dari penulis (yang juga peserta lomba), buku ini dilengkapi dengan dasar-dasar penghematan energi dalam membangun rumah dari redaksi penyusun buku. Keren!

Mungkin, karena berbagai alasan, tidak bisa satu ide rumah bisa kita implementasikan secara penuh. Namun bisa juga beberapa ide kita gabungkan jadi satu. Hebatnya, referensi untuk padu-padan itu ada di satu buku ini. Pas banget sebagai sumber rujukan jika kita menghadapi kendala untuk satu gagasan tertentu, tinggal mencari ide di halaman-halaman berikutnya.

Beberapa contoh gagasan elemen hemat energi adalah: pengudaraan, pencahayaan, pengairan, pembahanan, penyampahan, penghijauan, penyuhuan, peruangan, pengenergian, dan lain-lain.

Berkaitan dengan fungsinya sebagai rujukan paling mutakhir dan lengkap tentang gagasan pembangunan rumah yang hemat energi ini, maka dalam bayangan saya, buku ini pantas tampil secara lebih "akademis" dengan "form factor" yang lebih ke aspek tebal daripada lebar.

Good job!

Jumat, 20 Juni 2008

Veronika Memutuskan Mati

Oleh : Paulo Coelho
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, 2005


Veronika memutuskan bunuh diri. Bukan karena patah hati, lari dari jeratan utang, atau ada tujuan lain yang biasanya menjadi alasan memutuskan mati.

Gadis ini hanya potret tentang pencarian makna hidup dalam masyarakat yang terbelenggu rutinitas, tanpa jiwa dan takluk pada tekanan sosial.

Namun, kematian tidak menghampiri Veronika, yang berupaya bunuh diri dengan menelan pil tidur, secara sederhana. Ia selamat dan dimasukkan ke dalam Rumah Sakit Jiwa Villete. Di dalam rumah sakit yang dibangun pada menjelang perpecahan Yugoslavia menjadi negara-negara kecil, ia bertemu dengan rekan-rekan ’normal’ yang tampil ’gila’. Ia bertemu individu-individu rapuh yang seolah sadar memilih masuk rumah sakit jiwa karena kemauan, impian, dan sikap hidup mereka berbeda dengan yang dianggap normal oleh masyarakat.

Di dalam rumah sakit terdapat Mari, pengacara di usia 40 tahun penderita panic attack. Zedka yang depresi, dan Eduard anak diplomat yang ingin menjadi pelukis. Mereka adalah orang-orang yang melepaskan diri dari kenyataan.

Veronika, divonis kepala Rumah Sakit Jiwa Villete, Dr. Igor, hanya memiliki waktu hidup 5 hari lagi akibat pil-pil tidur mengganggu kerja sistem jantungnya. Namun, kehadiran Veronika yang tinggal menunggu ajal, justru membuat Mari, Zedka, dan Eduard, mengalami pencerahan untuk berani menghadapi kenyataan. Mewujudkan impian.

Akhirnya, mereka termasuk Veronika seperti ditulis Dr. Igor dalam penelitiannya yang berjudul ”Kesadaran akan Kematian membangkitkan semangat hidup yang baru.”

Ini karya Paulo Coelho yang tergolong ’ringan’, tidak menjejali kita dengan kalimat yang dalam dan penuh makna. Tidak seperti karya-karya lainnya : Sang Alkemis (The Alchemist); atau, Di Tepi Sungai Piedra , Aku Duduk dan Menangis (By the River Piedra I Sat Down and Wept) dalam bukunya yang berjudul asli ”Veronika Decides to Die” tahun 1998 tidak menawarkan kalimat-kalimat yang membuat saya sebagai pembaca berhenti sejenak untuk merenungi dan meresapi barisan kata yang dikemukakan oleh Coelho. Hanya melahap bacaan hingga akhir, lalu merenungi apakah diri ini sudah memiliki dan menikmati hidup tanpa didikte orang lain.

Kamis, 05 Juni 2008

Misteri Yang Tak Terpecahkan - Sherlock Holmes



Pengarang : Mitch Cullin
Penerbit : Voila Books (2007)


Sherlock Holmes bagi Mitch Cullin, adalah pria uzur berusia 93 tahun, sudah renta, dan telah ditinggal mati rekan-rekannya termasuk Dr. Watson (John).

Holmes tua tidak lagi tinggal di Baker Street London. Melainkan, pindah ke Sussex Downs – terletak di antara Seaford dan Eastbourne, dengan Cuckmere Haven sebagai desa terdekat- menghabiskan hari-hari dengan beternak lebah, serta percaya keunggulan royal jelly dalam menjaga stamina.

Holmes, dengan daya ingat mulai didera kepikunan, harus mengumpulkan keping-keping memori masa lalu untuk memecahkan misteri yang tiba-tiba saling terkait. Dari pemecahan kasus ayah yang hilang (yang sudah terjadi bertahun-tahun lalu), membuat Holmes teringat kasus lama yang mempengaruhi dirinya untuk mulai beternak lebah, dan juga kematian Roger, putera Mrs. Munro yang berusia 12 tahun. Mrs. Munro adalah pengurus rumah Holmes.

Alur cerita dalam tulisan ini memakai teknik kilas balik. Cerita dimulai dari kepulangan Holmes dari Jepang. Kepergiannya ke Negeri Sakura untuk memenuhi undangan Mr. Umezaki yang mengaku sesama penggemar ternak lebah.

Jangan bayangkan Holmes dalam buku ini memecahkan misteri melalui penelitian kimia, penelusuran mendalam, dan mengingat detil yang terlewat oleh awam. Kerumitan terjadi dalam upaya Holmes mengingat kembali sesuatu yang sudah lama lewat.

Cerita terasa berbelit-belit dan menjenuhkan. Mau tak mau, saya menjadi membandingkan cerita ini dengan Miss Jane Murple tua (tokoh rekaan Agatha Christie) yang mencoba mengembalikan keping memori masa lalu dalam cerita ”Gajah Selalu Ingat” atau ”Nemesis”. Sesama detektif tua dan tak secergas waktu dulu, hanya saja sel abu-abunya sama-sama tergelitik untuk mengingat kasus yang terjadi di masa lalu. Hanya saja, rasanya Holmes terlihat terseok-seok dibanding Mrs. Murple. Atau ini persoalan siapa penulis di belakangnya?

Kafka on the Shore (Labirin Asmara Ibu dan Anak)



Pengarang : Haruki Murakami
Penerbit : Pustaka Alvabet (2008)

Terus terang ini persinggungan pertama saya dengan sastrawan Jepang. Ini jika Aoyama Gosho komikus pengarang Detektif Conan, atau Kyomi Ogawa yang berada dalam kategori Manga tidak termasuk.

Haruki Murakami dalam profil di buku disebutkan sebagai penulis Jepang kontemporer yang terkenal. Dan telah meraih banyak penghargaan di dunia kepenulisan, antara lain Yomiuri Literary Prize (1995); Kuwabara Takeo Academic Award (1998); Frans O’Connor International Short Story Award (Irlandia – 2006); Franz Kafka Prize (Cekoslovakia – 2006); dan Kiriyama Prize 2007, sebuah penghargaan untuk penulis unggul di kawasan Pasifik dan Asia Selatan.

Usai membaca habis buku yang hak edarnya di Indonesia dimiliki Pustaka Alvabet, definisi kontemporer ini saya maknai sebagai alur cerita yang absurd.

Yap! Tokoh utama pemuda berusia 15 tahun, Kafka Tamura, yang lari dari rumah dan ayahnya yang terasa asing. Kafka semenjak berusia 4 tahun telah ditinggalkan oleh ibu dan kakak perempuannya. Dan tokoh lain bernama Nakata yang daya ingatnya dan kecerdasannya hilang akibat peristiwa sial yang menimpanya di masa Perang Dunia II.

Kafka Tamura ibarat Oedipus, Raja Thebes, yang mengawini ibu kandungnya. Sejak Kafka kecil, ayah kandungnya telah meramalkan, atau tepatnya mengutuknya, bahwa suatu hari Kafka bakal membunuh ayahnya, meniduri ibu kandungnya dan juga kakak perempuannya.

Alur cerita berliku dan penuh teka-teki, akhirnya pembaca tersadar bahwa Nakata, lelaki tua aneh yang hilang separuh ’bayangannya’ adalah wujud semu dari Kafka.

Cerita ini seputar orang-orang yang sedang bingung. Kafka kabur ke Shikoku, terletak jauh di selatan Tokyo dan terpisah dari daratan oleh lautan, adalah pemuda yang berontak pada nasib. Ia bertanya kepada diri sendiri mengapa ia tidak dibawa pergi dan ditinggal saat ibunya angkat kaki dari kehidupan keluarganya yang berkecukupan secara materi. Ia merasa ditolak oleh ibu yang telah melahirkan dirinya.

Dalam pelariannya, ia bersahabat dengan Oshima, penjaga perpustakaan yang terbelenggu jati diri tak jelas antara berkelamin pria atau wanita. Adapula Nona Saeki, kepala perpustakaan Komura berusia sekitar empat puluh tahunan, yang tenggelam dalam kenangan masa lalu. Kafka yakin wanita tersebut adalah ibu kandungnya.

Nakata dalam pelariannya dari pengejaran polisi, berkenalan dengan Hoshino. Pria supir truk yang pasti ’nyaris dangkal’ dalam semua aspek kehidupannya. Di awal cerita, Nakata yang telah berusia 60 tahunan, mampu berbicara dengan kucing. Kucing bagi bangsa Jepang menjadi perlambang keberuntungan. Buku ini memang perlu dinikmati dengan tenang. Penuh teka-teki dan metafora.

Senin, 26 Mei 2008

Bertukar Kehidupan

The Stolen Child

Pengarang : Keith Donohue
Penerbit : Dastan Books, 2007 (Cetakan 1)
Jumlah halaman : 580 halaman

Lupakan dongeng indah Peter Pan, yang menceritakan anak yang tidak pernah besar, dan selalu hura-hura. Ini kisah hobgoblin, peri kecil yang suka menculik dan bertukar tempat dengan anak-anak manusia. Si hobgoblin berubah menjadi anak manusia, sementara anak yang diculik berubah menjadi hobgoblin dan terperangkap dalam kondisi anak kecil, sampai ada anak manusia yang ia culik dan bertukar tempat lagi.

Henry Day menjadi korban penculikan para hobgoblin saat berusia 7 tahun. Anak lelaki yang tinggal di kota kecil dekat Chicago, berubah menjadi Aniday. Sementara Gustav, si hobgoblin yang bertukar tempat dengan Henry, menjalani kehidupan sebagai Henry.

Henry sebagai Aniday perlahan mengingat kembali momen-momen masa lalu. Meski hadir sepenggal-sepenggal, dan berusaha menyusun ‘serpihan’ itu. Tentu menjadi rasa sakit ketika dia sadar bahwa hidup yang ia alami sekarang bukanlah kemauan dia sendiri.

Begitu pula dengan Gustav yang menjadi sosok Henry Day, ternyata memiliki memori lain dan seolah mengalami de ja vu. Ia ingin mencari tahu kehidupan masa lalu sebelum ia diculik menjadi hobgoblin.

Cerita fiksi ini berakar dari Eropa pada abad pertengahan. Para orang tua yang melahirkan anak yang sakit-sakitan –sebagai bentuk keputus asaan, penolakan atau upaya mencari pembenaran- membuat keputusan secara sadar untuk ‘menggolongkan kembali’ anak mereka sebagai sesuatu yang bukan manusia. Mereka dapat menyatakan bahwa para setan atau goblin telah datang di tengah malam dan mencuri anak mereka yang asli lalu menukarnya dengan keturunan setan yang sakit-sakitan, bentuknya tidak proporsional, atau pincang. Istilah ini dikenal dengan sebutan ‘peri anak-anak’ atau Changeling di Inggris, ‘enfants changés’ di Prancis, atau wechselbalgen di Jerman.

Kisah ini menjadi mitos dan cerita rakyat yang berlanjut sampai abad ke-19 di Jerman, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya, dan di bawa para imigran ke Amerika. Pencarian Gustav akan jati diri sebenarnya atau siapa dia di masa lalu, menuntun dirinya ke sejarah migrasi bangsa Eropa ke Amerika.

Alur cerita terbagi atas dua karakter –Aniday dan Gustav- dalam menjalankan kehidupan dalam bentuk tubuh barunya. Ketika satu bab menceritakan bagaimana Henry menjalani kehidupannya yang terperangkap dalam tubuh anak kecil. Secara fisik tetap anak, namun jiwa terus tumbuh dewasa. Ada kesedihan di sana. Ketika dia memberontak terhadap hidup yang bukan kemauannya. Hingga akhirnya ia pasrah, menjalani dan (mencoba) menikmati.

Sementara berpindah ke bab berikutnya, kita mengikuti perkembangan karakter Henry Day baru alias Gustav yang bukan berarti penuh kesenangan ’ketika masa penantian dalam tubuh cebol’ berakhir.

“Semua seperti kita semua….. Pada titik tertentu, kau harus meninggalkan masa lalu, anakku. Terbukalah untuk kehidupan yang akan datang,” kata yang diucapkan Eileen Blake.

Membuat kita berdamai dengan masa lalu, bahwa kadang ada kenangan yang sebaiknya tidak perlu menjadi titik mati dan membuat kita stagnan, membuat kita lama-lama berkubang di dalamnya.

Perpindahan cerita dari satu karakter ke karakter terasa dinamis. Pembaca terhanyut untuk mengetahui perubahan dan perkembangan Aniday dan Gustav. Kekurangan dalam buku ini adalah Catatan Kaki (footnote), yang berada terpisah di halaman belakang, membuat pembaca cape untuk bolak balik membuka lembaran kertas. Terasa lebih mudah jika Catatan Kaki diletakkan di bagian bawah di halaman yang sama dengan kata yang hendak diberi penjelasan.

Akan tetapi, mungkin hal ini disiasati penerbit karena cukup banyak kata yang harus diberi penjelasan. Total ada 14 keterangan.

Selasa, 08 April 2008

Mengobati Rasa Penasaran



“The Adventures of Tintin” Volume 8
Penerbit : Egmont, London


Jika Anda penggemar kisah petualangan Tintin, rasanya sayang melewatkan seri “The Adventures of Tintin” yang diterbitkan oleh Egmont, London. Buku ini hadir dalam tampilan hard cover terdiri dari 8 jilid. Dan, masing-masing memuat antara 2-4 cerita petualangan wartawan berjambul yang selalu ditemani anjingnya yang setia, Snowy.

Nah, pada volume ke-8, jilid yang terakhir, kita bisa mengobati rasa keinginan tahuan isi cerita ”Tintin and Alph-Art” . Ini merupakan seri petualangan Tintin yang ke-24, dan tidak terselesaikan karena Herge sang kreator keburu menghembuskan nafas terakhir pada 1983.

Dalam cerita ”Tintin dan Alph-Art” (kependekan dari ”Personalph-Art”) wartawan berjambul yang hanya menyesap air soda itu membongkar jaringan pemalsuan lukisan.

Meski setelah menyimak cerita yang belum selesai itu, boleh jadi sebagian pembaca kecewa karena menemukan komik masih berupa coretan kasar berupa sketsa pensil, dan script percakapan tokoh. Ya! Komik Tintin –dan umumnya komik asal Eropa seperti Smurf, Asterix & Obelix, Tanguy& Laverdure, bahkan Trigan atau Storm- memiliki kekuatan pada tampilan kaya warna, bentuk karakter yang terarsir rapi, sehingga menimbulkan daya pikat tersendiri bagi mata.

Apalagi di dukung kualitas kertas jenis art-paper sehingga menegaskan variasi warna secara nyata. Jangan lupa, dalam satu buku ini juga masih bisa menikmati kisah lainnya yang terangkum dalam buku setebal 287 halaman. Yaitu, "The Castafiore Emerald" ; "Flight 714 to Sydney" ; dan, "Tintin and the Picaros".

Senin, 03 Maret 2008

“Alasan Berpikir Positif”


Judul : The Secret (Rahasia)
Penulis : Rhonda Byrne
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2007


Buku (yang juga ada dalam versi DVD) ini memberi inspirasi kepada pembacanya untuk optimistis. Di dalam buku ini, penulis Rhonda Byrne menguraikan korelasi antara pemikiran positif berbuah hasil positif.

“Pikiran-pikiran Anda adalah benih, dan panenan yang akan Anda petik akan bergantung pada benih yang Anda tanam” (halaman 19).

Keadaan sekarang merupakan hasil dari benih yang kita tanam di masa lalu. Hal ini saya buktikan dengan mengaitkan salah satu contoh dalam kehidupan diri. Waktu kecil saya pernah berkhayal menjadi seperti Tintin. Menjadi wartawan seperti tokoh komik ciptaan Herge, rasanya asyik banget bisa berpetualang ke berbagai negara. Mungkin itu pula yang menyebabkan langkah saya menjadi wartawan. Meski sejauh ini belum lintas negara, namun saya saat ini sudah cukup puas pernah ke berbagai pelosok daerah di Indonesia. Saya pun kini menekuni pekerjaan yang pernah saya inginkan di institusi yang pernah saya impikan.

Dalam buku ini, saya memperoleh penjelasan kenapa hal ini bisa berkorelasi.
Ketika kamu ’memutuskan’, maka alam bawah sadar menuntun kita mewujudkan mimpi tersebut. Hanya masalah waktu yang tepat untuk mencapainya.

Dan oleh karenanya, hati-hati pula dengan ’pikiran’ kamu. Ketika kamu berpikir negatif, maka semakin mengundang hal tak baik (buruk) ke dalam kehidupan kita.

Sebenarnya ide yang dituangkan dalam buku ini memang tidak baru. Bagi penggemar buku pengembangan diri, Anda tentu telah mengenal istilah : berpikir positif, memiliki gambaran besar, dan sebagainya.

Namun, buku ini menggugah karena penulis merangkum kisah pribadinya dengan pemikiran-pemikiran lintas tokoh berkompeten untuk membahasnya. Mulai dari penulis dan fasilitator, ahli feng shui, pebisnis hingga dokter. Sehingga penyampaian satu ide diberikan dari beberapa pakar.

Selain itu, buku ini bisa dibaca berulang kali antara lain ketika kamu merasa not in the good mood, kecewa, bertanya mengapa ’pintu’ itu belum terbuka. Intinya, buku ini menjadi ’pengetuk’ diri atau memberi inspirasi.

Di dalam buku ini artikel terbagi ke dalam mewujudkan keinginan manusia secara garis besar. Yaitu, seputar kondisi fisik dan kesehatan yang prima (termasuk –umumnya perempuan- ingin memiliki berat badan ideal) ; kehidupan sosial; dan finansial yang baik.

Selasa, 19 Februari 2008

”The Cardigans...Best Of”.



Dengan kemajuan teknologi mengunduh lagu, membeli kaset dan bergeser ke Compact Disk (CD) jadi berkurang. Akhirnya, pilihan membeli CD lebih ke bentuk “The Greatest Hits” atau “The Best of….”

Pertimbangannya ya jelas : masalah budget. Kemudian, dengan membeli kumpulan hits/lagu popular dari seorang penyanyi ataupun grup band berarti memperoleh lagu-lagu yang paling kita sukai dalam satu kemasan. Selain itu, saya menikmati bentuk fisik seperti melihat keindahan desain grafis atau foto-foto personil/sang pelantun lagu.

Nah, saat mampir ke Disk Tarra Pondok Indah Mal, mata saya tertumbuk pada ”The Cardigans...Best Of”.

Ya ampun.. gua suka nih sama lagu-lagu grup ini! Ingat lagu Carnival, My Favourite Game, Rise & Shine, Erase/Rewind, Been It, dan tentu saja… Love Fool (Ini menjadi tembang soundtrack “Romeo + Juliet” film besutan Baz Luhrman yang diadaptasi dari karya William Shakespeare, yang dibuat dalam gaya masa kini dibintangi oleh Leonardo DiCaprio dan Claire Danes).

Belum lagi gaya vokalisnya, Nina Perssons, yang ”Crazy, Sexy, Cool” (CSC)... Saya sering menggunakan istilah CSC ini untuk orang-orang yang tak butuh dandan berlebihan, gayanya cu’ek, akan tetapi asyik untuk dilihat. Suaranya juga khas.

(Dan, maaf, saya merasa grup Mocca yang asli Indonesia, terinspirasi gaya The Cardigans…. Kalau tidak salah, Mocca yang melejit lewat lagu “Secret Admirer” memang muncul setelah The Cardigans ngetop.)

Akhirnya, saya mencomot CD-nya yang terdiri dari 2 piringan. Selain itu, secara fisik albumnya memenuhi ’selera mata’. Plastik CD nya tidak seperti kotak CD umumnya. CD The Cardigans The Best memiliki lengkungan menyudut di setiap ujung, lalu untuk membukanya kita menekan tombol di sisi pinggir kanan.

Piringan sendiri tampil sederhana. Seperti CD-R atau CD-RW kosong yang diatasnya tergrafir tulisan ”Disc One” atau ”Disc Two” (untuk CD yang ke-2) dan ”The Cardigans Best Of” dalam huruf timbul. Desain itu mengingatkan saya seperti menulisi CD kosong yang baru di-burn dengan foto-foto advertorial, lalu saya tulisi keterangan isi CD tsbt dengan spidol besar (spidol whiteboard).

Untuk saya, pihak Universal Music Group International dan Stockholm Record sebagai pemegang hak edar, telah cerdas mengerti sisi marketing. Yaitu, memanjakan penggemar The Cardigans tidak hanya memberikan kompilasi lagu hits. Akan tetapi, memiliki bentuk fisik yang indah untuk ditimang-timang. Hehe...

Soal resensi isi? Ga perlu saya bahas deh.. Pokoknya bagi penggemar, silahkan beli dan nikmati. CD pertama terdiri dari 22 lagu, sementara CD kedua memuat 24 lagu.Apalagi, di CD ke-2 ada lagu yang sama ditawarkan dalam beberapa versi (First Try/Mini Version/Puck Version).

Untuk keterangan dalam, kita bukan menemukan lirik lagu. Melainkan, diberi penjelasan latar belakang lagu tersebut lahir, serta foto desain album The Cardigans yang pernah muncul).

Senin, 11 Februari 2008

P.S. I Love You


“So now, alone or not, you’ve got to walk ahead. Thing to remember is if we’re all alone, then we’re all together in that too.”

Perasaan. Kehilangan. Sedih. Terpuruk. Lewat tokoh Holly (Hillary Swank), semuanya bisa digambarkan dengan jelas. Kematian Gerry (Gerard Butler), suaminya, di usia muda 35 tahun akibat tumor otak membuat hidupnya hancur.

Holly dan Gerry menikah di usia sangat muda. Karena itulah hubungan keduanya tidak mendapat restu penuh dari orangtua mereka. Berawal dari pertemuan yang tidak disengaja, mereka jatuh cinta, dan akhirnya menikah.

Gerry bekerja sebagai sopir limosin, dan Holly sebagai agen real estate. Hidup mereka bisa dibilang pas-pasan. Dan masalah ekonomi ini yang kerap menjadi penyebab pertengkaran mereka. Bahkan karena masalah ini, Holly mengurungkan niatnya untuk segera memunyai anak. Tapi di balik pertengkaran yang sering terjadi ini, kedua insan ini saling mencintai.

Kepergian Gerry ibarat meninggalkan lubang yang teramat dalam di hati Holly. Bahkan rasa sakitnya tak bisa disembunyikannya. Perempuan ini menutup diri untuk waktu yang lumayan lama—menjaga jarak dari lingkup sosial dan keluarganya.

Hingga akhirnya tiba hari ulang tahunnya yang ke-30. Beberapa kerabat datang mengunjunginya—sang ibu Patricia (Kathy Bates); sahabatnya Denise (Lisa Kudrow), Sharon (Gina Gershon), dan John (James Marsters); serta adiknya Ciara (Nelly McKay). Saat mereka berkumpul, datang paket kue tart dan tape recorder dari Gerry. Dalam rekaman, Gerry menyuruh Holly untuk berdandan cantik dan merayakan ulang tahunnya bersama teman-teman perempuannya. Dalam rekaman itu, Gerry juga berpesan bahwa surat-surat darinya akan datang secara tak terduga.

Sejak hari itu, yang Holly tunggu hanya surat-surat dari Gerry yang sebenarnya dibuat oleh Gerry sebagai panduan untuk istrinya tercinta kembali ceria, menjadi dirinya sendiri, setelah kehilangannya. FYI, setiap surat yang ditulis oleh Gerry untuk Holly selalu diakhiri dengan goresan kata “P.S. I Love You.”

Dari judulnya, kita pasti tau kalau film ini bergenre drama romantis. Tapi drama romantis yang satu ini beda dari yang pernah ada sebelumnya—sebut saja When Harry Meet Sally, The Holiday, Love Actually, atau When Hary Met Sally sebagai contoh. Romantisme yang diobral di sini tidak melulu ditampilkan dalam kenangan-kenangan indah semasa Gerry hidup mendampingi Holly. Justru romantisme terlihat dalam cara unik yang dilakukan Gerry untuk mengembalikan kehidupan Holly.

Sepeninggal Gerry, muncul dua pria dalam hidup Holly. Yang pertama adalah Daniel (Harry Conick Jr.), pria yang bekerja di bar dan resto milik Patricia, yang jatuh cinta padanya. Dan yang kedua adalah William (Jeffrey Dean Morgan), kawan band Gerry yang berkenalan tanpa sengaja ketika Holly sedang berlibur mengunjungi Irlandia, kampung halaman Gerry.

Berbagai kelucuan juga menghiasi film ini. Jadi, selain menyedot perasaan haru, penonton juga diajak untuk tertawa melihat kekonyolan karakter-karakter di film ini. Denise contohnya, digambarkan sebagai wanita dewasa yang sibuk mencari kekasih. Di setiap pesta, ada pertanyaan-pertanyaan andalan yang disiapkannya untuk orang yang nyantel di matanya—“Are you married?”, “Are you a gay?”, “Do you work?”, dan “What’s your name?”. Langkah selanjutnya adalah mencium pria yang disukainya—punya masalah bau mulut atau tidak. Tokoh Denise ini seksis dan straight to the point. Dia memandang pria sebagai objek seks, yang menurutnya itu adalah adil karena banyak pria juga memandang wanita dengan cara demikian. Denise mewakili kaum wanita yang merasa dirinya pantas untuk mendapatkan laki-laki yang terbaik untuknya. Menurutnya, alasan karena ia belum juga menemukan pria yang tepat adalah karena pria itu terlalu sibuk dengan wanita-wanita yang salah, bukan karena ia mematok kriteria cowok terlalu tinggi. In the end, she did find someone.

All of all, film ini sangat menghibur dan menyegarkan. Merupakan adaptasi dari novel Chik Lit dengan judul yang sama karangan Cecelia Ahern (yang adalah putri Perdana Menteri Irlandia Taoiseach Bertie Ahern), film ini juga mampu membuat para penonton terpesona dengan pemandangan alam Irlandia. Tak rugi untuk menonton P.S. I Love You. Jelas film ini wajib bagi para penikmat film romantis.

Sabtu, 26 Januari 2008

Zahir



Oleh : Paulo Coelho
Penerbit : Gramedia (2006)

Menurut kata-kata seorang bijak Persia : Cinta adalah penyakit yang tak seorang pun ingin bebas darinya. Mereka yang tertular tak ingin sembuh, dan mereka yang menderita tak ingin diobati. (halaman 429)

Tokoh utama dalam novel ini, yang sedari awal tidak disebutkan siapa namanya. Kecuali diposisikan sebagai kata ganti orang pertama tunggal (Aku).

Aku dalam novel ini mau tidak mau membuat pembaca membayangkan Paulo Coelho sendiri sebagai pelaku utama karangan tersebut. Alasannya, karena tokoh utama berprofesi sebagai pengarang buku. Aku yang berprofesi sebagai pengarang buku sukses, suatu hari ditinggalkan istrinya tanpa alasan dan tanpa jejak.

Dalam kondisi tersebut, tokoh utama mengalami fase yang manusiawi. Umumnya orang baru sadar betapa berharganya hal yang ia miliki, justru ketika hal itu sudah hilang dari kehidupannya. Tokoh “Aku” pun demikian. Awalnya ia menjadi manusia bingung. Mencari apa yang salah dari dirinya, apa yang terlewat tak diperhatikan,
hingga akhirnya Ia belajar melupakan dan meneruskan kehidupan.

Namun, dalam fase kehilangan itu, sang istri menjelma menjadi Zahir bagi Aku. Zahir, dalam bahasa Arab berarti terlihat, ada, tak mungkin diabaikan. Pengarang Jorge Luis Borges menjelaskan Zahir adalah seseorang atau sesuatu yang sekali kita mengadakan kontak dengannya atau dengan itu, lambat laun memenuhi seluruh pikiran kita. Sampai kita tidak bisa berpikir tentang hal-hal lain. Keadaan itu bisa merujuk pada kesucian atau kegilaan. Hal ini berasal dari tradisi Islam dan diperkirakan muncul pada sekitar abad ke-18. (Encyclopaedia of the Fantastic (1953)).

Dalam masa kehilangan dan pencarian, si pengarang buku itu menemukan pencerahan dan jati diri yang baru. Ia juga dituntun kejadian-kejadian untuk menemukan sang kekasih hati di saat dan waktu yang tepat. Pada penutupan cerita memang menjadi cerita happy ending. Namun, fase pencarian itu yang menjadi jalinan menarik bagi pembaca.

Berawal dari buku yang paling larisnya “Sang Alkemis”, lalu “Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis”, saya ‘jatuh cinta’ pada Paulo Coelho. Bagi saya, pengarang kelahiran Brasil ini adalah rangkaian kalimat indah dan sarat makna. (Thanks juga kepada penerjemah yang berhasil mengalih bahasakan karangan tanpa menghilangkan pesona).

Dalam karyanya (berdasarkan yang sudah Saya baca) rata-rata mencerminkan pencarian kebahagiaan, arti diri, serta makna hidup bagi tokoh dalam novelnya.

Zahir terasa lebih nge-pop bagi saya dibandingkan karya Coelho yang kubaca sebelumnya. Yah, tapi secara umum, good book. Luangkan waktu, buka bukunya yang lumayan tebal, dan mari terbawa ke Prancis, Portugis, dan Kazakhstan.

Kamis, 17 Januari 2008

The Complete Persepolis


Sejak pertama baca novel grafis buatannya yang berjudul "Embroideries" (sudah dialihbahasakan ke Bahasan Indonesia), saya sudah suka dengan perempuan ini, penulis asal Iran bernama Marjane Satrapi. Akhirnya, setelah pencarian yang lumayan lama, saya dapat juga novel grafis "The Complete Persepolis" buatan Satrapi, terbitan Pantheon (versi Bahasa Inggris). Film animasinya malah diputar sebagai film pembuka di Jiffest tahun ini. Saya penasaran sih dengan filmnya, tapi kok saya nggak terlalu antusias untuk nonton Jiffest kali ini ya.

Membaca novel grafis ini, pembaca bisa tau jalan pikiran Marji (nama panggilan Marjane). Dia sengaja menulis "Persepolis" supaya orang-orang tau seperti apa sih situasi di Iran, apa pendapat miring orang-orang tentang tanah kelahirannya itu sepenuhnya benar? Orang-orang kan hanya melihat dan mendengar tentang Iran dari TV. Mereka nggak tau seperti apa sebenarnya revolusi yang terjadi di sana, sampai akhirnya negara tradisional itu jadi negara religius Islam. Di sini, kisah mengenai kondisi dan revolusi Iran diceritakan Marji dengan gaya bahasa ringan dan lucu, sebagai penghias kisah hidupnya dan keluarganya, mulai dari masa kecil sampai akhirnya dia hijrah ke Perancis.

Yang menarik jelas cara penyampaian kisahnya, dalam bentuk komik. Sebenarnya saya juga masih bingung, apa sih beda novel grafis dengan komik? Hihi, sepertinya sama saja deh. Atau mungkin beda keduanya terletak pada bobot ceritanya ya? Kalau pengin tau alasan Marji membuat "Persepolis", Anda bisa masuk ke sini.